Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya
Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor-nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomor-Mu.
Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa.
(Joko Pinurbo, Kumpulan Puisi: Perjamuan Khong, 2020).
Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory
TULISAN ini berangkat dari pembacaan atas puisi Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya karya Joko Pinurbo. Puisi ini, hemat penulis, merupakan representasi simbolik kondisi eksistensial manusia modern yang hidup dalam kultur digital yang selalu terhubung.
Melalui pendekatan semiotika sastra dan filsafat eksistensial, penulis menafsirkan puisi ini sebagai kritik terhadap transformasi manusia menjadi “subjek online”, yakni individu yang identitas, relasi, dan kesadarannya dibentuk oleh konektivitas teknologi.
Peristiwa rusaknya ponsel dalam puisi dibaca sebagai metafora guncangan eksistensial yang menyingkap kerapuhan fondasi identitas digital sekaligus membuka kemungkinan epifani spiritual, yaitu ketika krisis justru menghadirkan refleksi tentang relasi transenden dan rekonstruksi makna hidup di tengah dominasi teknologi.
Subjek Online
Manusia modern digambarkan melalui metafora “subjek yang berkantor di dalam ponselnya selama 24 jam sehari”. Kata “berkantor” tidak lagi menunjuk tempat, tetapi keadaan eksistensial yang melekat pada tubuh manusia digital.
Dalam kerangka semiotika sastra, Andries Teeuw melihat perubahan fungsi tanda ini sebagai proses resignifikasi, yaitu ruang berubah menjadi pengalaman hidup.
Subjek tidak lagi pergi menuju kantor, tetapi kantor melekat pada dirinya melalui ponsel (Andries Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, 1984).
Ponsel menjadi kantor permanen. Artinya, manusia modern tidak pernah benar-benar selesai bekerja. Kesibukan digital bersifat kontinu (24 jam), tanpa batas ruang, tanpa jeda spiritual. Kesibukan ini menjadi struktur yang menyedot perhatian manusia dan menguasai kesadarannya.
Struktur ini menggambarkan transformasi manusia menjadi subjek yang selalu online. Turkle menyebut kultur baru ini sebagai budaya “always-on/selalu terhubung” (Sheery Turkle, Alone Together, 2011).
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










