Relasi dengan Tuhan sering kali tidak lahir dari kedalaman eksistensial, melainkan dari kebutuhan situasional. Kritik terhadap pola spiritualitas semacam ini dapat dipahami melalui konsep relasi I–Thou yang dikembangkan oleh Martin Buber.
Buber membedakan dua cara fundamental manusia berelasi dengan realitas, yaitu relasi I–Thou (Aku–Engkau) yang dialogis dan personal, serta relasi I–It (Aku–Itu) yang bersifat objektifikatif dan instrumental (Martin Buber, I and Thou, 1970). Dalam puisi ini, manusia memperlakukan Tuhan sebagai objek kebutuhan. Tuhan direduksi menjadi sarana pelarian eksistensial.
Rekonstruksi Relasi Spiritual
Jawaban Tuhan dalam puisi ini mengandung dimensi profetis. Manusia dipanggil untuk bertobat. Pertobatan yang dimaksud bukan sekadar tindakan moral atau ritual religius, melainkan transformasi cara berada manusia di tengah teknologi.
Pertobatan menjadi usaha membebaskan diri dari dominasi logika digital yang perlahan menguasai identitas dan keberadaan manusia.
Pertobatan dalam konteks ini bukan meninggalkan teknologi, melainkan menempatkannya kembali sebagai alat, bukan pusat makna. Yang ditolak adalah absolutisasi teknologi sebagai pusat identitas.
Teknologi harus kembali menjadi alat yang melayani kehidupan manusia, bukan struktur yang menentukan makna hidup. Manusia tidak disalahkan karena menggunakan teknologi, tetapi karena tanpa sadar menyerahkan pusat keberadaannya kepada teknologi itu sendiri.
Manusia dipanggil untuk hidup bukan sebagai makhluk yang terus online, melainkan sebagai pribadi yang sadar, bebas, dan mampu memberi makna pada teknologi yang digunakannya. Pertobatan menjadi jalan untuk memulihkan keseimbangan. Teknologi tetap digunakan, tetapi makna hidup kembali berakar pada relasi, kesadaran, dan kedalaman eksistensial.
Penulis, Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko, NTT
Artikel ini telah ditayangkan di Mudikalink.net










