Epifani Spiritual Akibat Bencana Digital (Analisis Sastra-Filosofis atas Puisi Joko Pinurbo) - FloresPos Net - Page 4

Epifani Spiritual Akibat Bencana Digital (Analisis Sastra-Filosofis atas Puisi Joko Pinurbo)

- Jurnalis

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Relasi dengan Tuhan sering kali tidak lahir dari kedalaman eksistensial, melainkan dari kebutuhan situasional. Kritik terhadap pola spiritualitas semacam ini dapat dipahami melalui konsep relasi I–Thou yang dikembangkan oleh Martin Buber.

Buber membedakan dua cara fundamental manusia berelasi dengan realitas, yaitu relasi I–Thou (Aku–Engkau) yang dialogis dan personal, serta relasi I–It (Aku–Itu) yang bersifat objektifikatif dan instrumental (Martin Buber, I and Thou, 1970). Dalam puisi ini, manusia memperlakukan Tuhan sebagai objek kebutuhan. Tuhan direduksi menjadi sarana pelarian eksistensial.

Rekonstruksi Relasi Spiritual

Baca Juga :  Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial

Jawaban Tuhan dalam puisi ini mengandung dimensi profetis. Manusia dipanggil untuk bertobat. Pertobatan yang dimaksud bukan sekadar tindakan moral atau ritual religius, melainkan transformasi cara berada manusia di tengah teknologi.

Pertobatan menjadi usaha membebaskan diri dari dominasi logika digital yang perlahan menguasai identitas dan keberadaan manusia.

Pertobatan dalam konteks ini bukan meninggalkan teknologi, melainkan menempatkannya kembali sebagai alat, bukan pusat makna. Yang ditolak adalah absolutisasi teknologi sebagai pusat identitas.

Teknologi harus kembali menjadi alat yang melayani kehidupan manusia, bukan struktur yang menentukan makna hidup. Manusia tidak disalahkan karena menggunakan teknologi, tetapi karena tanpa sadar menyerahkan pusat keberadaannya kepada teknologi itu sendiri.

Baca Juga :  Hentikan Perdagangan Orang di Indonesia

Manusia dipanggil untuk hidup bukan sebagai makhluk yang terus online, melainkan sebagai pribadi yang sadar, bebas, dan mampu memberi makna pada teknologi yang digunakannya. Pertobatan menjadi jalan untuk memulihkan keseimbangan. Teknologi tetap digunakan, tetapi makna hidup kembali berakar pada relasi, kesadaran, dan kedalaman eksistensial.

Penulis, Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko, NTT

Artikel ini telah ditayangkan di Mudikalink.net

Berita Terkait

Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?
Hindayana dan Kurikulum Keteladanan
Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Berita ini 185 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:05 WITA

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:05 WITA

Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:55 WITA

Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:25 WITA

Hindayana dan Kurikulum Keteladanan

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Sekcam Talibura Edukasi Pentingnya PAUD di SD Inpres Narita

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:20 WITA

Opini

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:05 WITA