Identitas manusia dalam kantor digital dibentuk oleh notifikasi dan konektivitas. Dalam teorinya tentang network society, Castells menjelaskan, identitas sosial modern dibangun melalui jaringan komunikasi, bukan lagi semata melalui keberadaan fisik (Manuel Castells, The Rise of the Network Society, 2010).
Eksistensi manusia ditentukan oleh seberapa intens ia terhubung dalam ruang digital. Kehadiran tidak lagi diukur melalui tubuh yang hadir di ruang kerja, melainkan melalui jejak digital, sepeti status daring, balasan pesan, partisipasi rapat virtual, dan produktivitas berbasis platform.
Melihat fenomena ini, Hardiman membuat pergeseran makna tentang manusia dari cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, ke premo ergo sum, aku klik maka aku ada (F. Budi Hardiman, Aku Klik maka Aku Ada, 2021).
Bukan aktivitas berpikir (I think) yang membuat manusia eksis, melainkan aktivitas berselancar (I browse) yang membuat manusia eksis. Ciri manusia tidak lagi dilihat sebagai homo sapiens, makhluk berakal budi yang bijaksana, tetapi sebagai homo digitalis, manusia yang bertumpu pada jari-jemari.
Guncangan Eksistensial: Tragedi Manusia Modern
Larik “Tuhan, ponsel saya rusak dibanting gempa” bukan sekadar laporan kejadian, melainkan metafora filosofis tentang guncangan eksistensial. Dalam filsafat eksistensial, krisis sering muncul ketika manusia berhadapan dengan peristiwa yang mengguncang kenyamanan hidupnya.
Søren Kierkegaard menyebut krisis ini sebagai momen kecemasan eksistensial (existential anxiety), yakni keadaan ketika manusia menyadari rapuhnya fondasi yang selama ini dianggap pasti (Kierkegaard, The Concept of Anxiety, 1844).
Gempa dalam puisi ini dapat dibaca sebagai peristiwa batas (limit situation), sebuah istilah yang dikembangkan oleh Karl Jaspers. Situasi batas adalah pengalaman ekstrem, seperti kematian, penderitaan, kehilangan, kehancuran, yang memaksa manusia berhadapan dengan hakikat dirinya (Karl Jaspers, Philosophy of Existence, 1938).
Rusaknya ponsel menyingkap krisis besar, yaitu ketika manusia menyadari bahwa kantor digital yang menopang keberadaannya ternyata rapuh, dan keruntuhannya mengembalikan manusia pada kesunyian dirinya sendiri.
Ketika manusia kehilangan nomor kontak, ia tidak hanya kehilangan akses komunikasi, tetapi juga mengalami disorientasi sosial, seolah sebagian dirinya ikut terhapus. Manusia mengalami semacam kehampaan identitas.
Betapa tidak, perangkat teknologi yang telah menjadi arsip memori sosial, yang menampung jaringan hubungan manusia, dan yang menjadi mediator relasi, seketika terputus. Manusia tidak hanya kehilangan orang lain, tetapi juga kehilangan posisi dirinya di dalam jaringan sosial.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










