Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
LANGIT senja yang jingga memeluk Kota Pancasila Ende ketika ribuan umat Katolik berkumpul dan berziarah. “Bersama Ine Maria Guadalupe: Menyalakan Semangat Pancasila dan Pendidikan dalam Terang Allah Tritunggal.”
Menjelang 1 Juni, Hari Lahir Pancasila, umat Katolik Kota Ende merayakan momen penutupan Bulan Maria dan menyambut hari lahir Pancasila dengan cara yang unik. Ziarah iman yang menyatu dengan doa kebangsaan, menghadirkan wajah Indonesia yang religius, kultural, dan Pancasilais.
Di tanah Ende, Maria Ibu Yesus tidak dipanggil dengan gelar-gelar yang jauh. Umat menyebutnya “Ine”. Sebuah ungkapan dalam bahasa lokal yang berarti “Ibu”. Sebuah bentuk inkulturasi yang mendalam. Secara teologis, panggilan ini mengungkapkan wajah Allah yang tidak jauh, melainkan akrab seperti seorang ibu yang memeluk dan melindungi anak-anaknya.
Devosi kepada Ine Maria Guadalupe di Keuskupan Agung Ende memiliki akar yang kuat. Penyebutan “Guadalupe” merujuk pada penampakan Bunda Maria di Meksiko, yang dikenal sebagai pelindung kaum tertindas dan simbol persatuan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, devosi ini menemukan relevansinya yang indah dan menarik. Bunda Maria hadir sebagai ibu yang mempersatukan, bukan memecah belah.
Secara teologis, ziarah adalah simbol perjalanan hidup manusia di dunia menuju Tuhan. Namun dalam konteks perayaan Hari Lahir Pancasila, ziarah fisik ini bertransformasi menjadi metafora yang lebih luas. Perjalanan bangsa Indonesia menuju cita-cita yang lebih baik.
Hari ini, Minggu, 31 Mei 2026, ribuan umat dari paroki-paroki di Kota Ende berjalan kaki, berdoa rosario, dan merenungkan Kitab Suci. Tentu ini momen ini tidak sebatas sebagai sebuah ritual tahunan di akhir Mei dan jelang Juni. Mereka sedang meneladani perjalanan bangsa yang juga memerlukan doa, pengorbanan, dan ketekunan. Setiap langkah ziarah adalah doa untuk Indonesia. Setiap butir rosario adalah harapan akan persatuan.
Frasa ‘Menyalakan Semangat Pancasila dan Pendidikan dalam Terang Allah Tritunggal’ mengandung pesan filosofis yang powerful. Ini adalah penolakan tegas terhadap dikotomi antara agama dan negara. Secara filosofis, frasa ini menegaskan bahwa menjadi orang beriman yang baik (Katolik) berbanding lurus dengan menjadi warga negara yang baik (Pancasilais).

Kata “menyalakan” adalah kata kerja aktif yang menyiratkan bahwa semangat Pancasila dan pendidikan bukanlah barang mati yang hanya dipajang, melainkan api yang harus terus dinyalakan, dirawat, dan tidak boleh padam oleh arus zaman atau perpecahan.
Nilai-nilai Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan) dipandang sejalan dengan nilai-nilai Injil. Sementara, ‘pendidikan yang digaungkan di sini tidak berhenti pada aksi transfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi pembentukan karakter bangsa (afektif). Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berjiwa Pancasila.
Momen ini, khususnya ‘Doa Kebangsaan’ menyiratkan sesuatu yang berbeda. Ia menunjukkan peran agama dalam ruang publik. Agama tidak hanya urusan privat yang terbatas di dalam gereja, tetapi turut peduli pada nasib bangsa melalui doa. Ini adalah wujud nyata dari sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” yang merangkul keberagaman untuk mendoakan satu bangsa.
Dalam keheningan doa kebangsaan, umat Katolik di Kota Ende tidak hanya mendoakan Gereja mereka, tetapi juga Indonesia. Tersirat intensi di dalamnya demi persatuan tetap terjaga, agar keadilan ditegakkan, dan agar pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perayaan ini juga bertepatan dengan penutupan Bulan Maria dalam tradisi Gereja Katolik. Secara historis, penetapan Bulan Maria bertepatan dengan puncak musim semi di belahan bumi utara. Musim di mana alam hijau dan bunga-bunga bermekaran. Ia melambangkan kebangkitan dan kehidupan baru.
Secara rohaniah, momen ini mencerminkan Maria sebagai sosok yang “melahirkan dan memancarkan” keindahan, kemurnian, dan kesuburan iman. Dari perspektif teologis, penghormatan kepada Maria dalam ajaran Katolik selalu bermuara pada Yesus Kristus. Maria dihormati sebagai “Ibu segala kehidupan” dan “tabernakel hidup,” tempat Sang Sabda Allah mengambil daging manusia.
Bulan Maria mengajak umat beriman untuk merenungkan “misteri inkarnasi” dengan lebih khusyuk melalui doa Rosario, novena, dan perenungan Kitab Suci. Namun, devosi ini tidak berhenti pada ritual semata. Ia harus terjelma dalam karya kasih, pengampunan, dan pelayanan kepada sesama sebagai teladan nyata dari sikap Maria yang rendah hati dan penuh belas kasih.
Secara spiritual, Bulan Maria merupakan undangan untuk meneladani iman dan ketaatan Maria yang sepenuhnya menyerahkan diri pada kehendak Allah, sebagaimana terungkap dalam firman-Nya, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38).
Dalam keheningan dan doa bulan ini, umat diajak untuk membuka hati bagi kasih karunia Allah, meneladani kesederhanaan, keberanian, dan ketaatan Maria, serta melanjutkan misi kasih Kristus di tengah dunia yang terus berubah.
Momen di Kota Ende ini membawa pesan integrasi. Ia mengajak umat untuk tidak memisahkan antara cinta kepada Tuhan (melalui Maria dan Tritunggal) dengan cinta kepada Tanah Air (Pancasila).
Pesan utamanya jelas dan relevan. Iman menjadi cahaya yang menerangi jalan bangsa dalam menjaga persatuan dan mencerdaskan kehidupan melalui pendidikan. Dalam terang Allah Tritunggal, semangat Pancasila dinyalakan. Dalam pelukan Ine Maria Guadalupe, Indonesia didoakan.
Di bawah langit Ende di senja ini, ribuan umat membuktikan bahwa menjadi Katolik yang taat dan menjadi Indonesia yang Pancasilais bukanlah dua hal yang bertentangan. Mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam cinta kepada sesama dan tanah air.
Inilah wajah Indonesia yang sebenarnya. Religius, beragam, dan bersatu dalam doa. Bersama Ine Maria Guadalupe, bangsa ini terus berjalan. Berziarah menuju cita-cita luhur para pendiri bangsa, dalam terang Allah yang Maha Esa.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










