Hindayana dan Kurikulum Keteladanan - FloresPos Net

Hindayana dan Kurikulum Keteladanan

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

BELUM genap 24 jam sejak Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan tegas untuk mencopotnya dari jabatan, Kejaksaan Agung (Kejagung), Rabu/03 Juni 2026, langsung bergerak cepat menahan Mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana. Kecepatan penindakan ini sontak menjadi sorotan publik dan memancing decak kagum atas ketegasan hukum yang tidak pandang bulu.

Namun, di balik tepuk tangan atas kinerja penegakan hukum tersebut, tersimpan sebuah “alarm keras” yang seharusnya menggetarkan fondasi pendidikan antikorupsi di negara ini. Kasus ini menampar keras wajah birokrasi kita dan membuktikan satu realitas pahit. Bahwasanya, tingginya jabatan, luasnya jaringan, dan deretan gelar akademik yang disandang, ternyata tidak berbanding lurus dengan integritas moral seseorang.

Dari perspektif Pendidikan Antikorupsi, fenomena ini memaksa kita untuk melakukan refleksi total. Mengapa seseorang yang berada di puncak hierarki birokrasi, yang seharusnya menjadi teladan dan pengawal negara, justru terjerumus ke dalam lumpur korupsi?

Selama ini, pendidikan antikorupsi di Indonesia, mulai dari kurikulum sekolah, pelatihan dasar CPNS (Latsar), hingga diklat kepemimpinan bagi pejabat tinggi, sering kali terjebak pada pendekatan kognitif. Kita sangat pandai mengajarkan apa itu korupsi, bagaimana modusnya, dan apa ancamannya secara hukum. Dan, peserta didik atau pejabat memahami definisi korupsi secara teoritis.

Namun, kasus Dadan Hindayana membuktikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Korupsi bukanlah penyakit kebodohan, melainkan penyakit moral dan karakter.

Baca Juga :  Uto Wata, Indonesia Cemas dan Indonesia Emas

Pendidikan antikorupsi kita gagal jika hanya berhenti pada transfer pengetahuan, tanpa berhasil menyentuh ranah afektif (penanaman nilai) dan psikomotorik (tindakan nyata). Kita gagal menanamkan ‘moral courage’ atau keberanian moral untuk berkata ‘tidak’ pada godaan, pada tekanan atasan, atau pada budaya gratifikasi yang sudah mendarah daging.

Penangkapan seorang kepala lembaga strategis juga menelanjangi kegagalan sistem pengendalian internal dan budaya organisasi. Dalam kajian pendidikan antikorupsi, kita mengenal istilah ‘bad apple’ (oknum buruk) dan ‘bad basket’ (keranjang/sistem yang buruk). Ketika seorang pemimpin tertinggi di sebuah lembaga tersandung korupsi, ini adalah indikasi kuat bahwa ‘keranjang’ tersebut tengah terkoyak.

Budaya paternalistik, feodalisme, dan rasa sungkan dalam birokrasi kita sering kali membungkam suara-suara kritis. Pendidikan antikorupsi harusnya tidak hanya menyasar individu, tetapi juga mendekonstruksi budaya birokrasi yang toksik.

Institusi pendidikan dan lembaga pelatihan kepemimpinan harus berani mengajarkan bahwa loyalitas tertinggi seorang abdi negara bukanlah kepada atasan atau penguasa, melainkan kepada konstitusi, hukum, dan rakyat.

Di sisi lain, ada satu pelajaran berharga dari kasus ini yang justru menjadi materi pendidikan antikorupsi paling efektif bagi masyarakat luas. Pelajaran itu ialah kepastian hukum dan keteladanan kepemimpinan.

Tindakan Presiden Prabowo yang tidak ragu mencopot pejabatnya yang bermasalah, disusul dengan penindakan kilat oleh Kejagung, mengirimkan pesan pedagogis yang sangat kuat kepada masyarakat.

Baca Juga :  Biopolitik dan Pangan: Tubuh Rakyat dalam Genggaman Negara

Dalam teori pendidikan antikorupsi, ‘deterrent effect’ (efek jera) melalui kepastian hukuman adalah guru yang paling keras namun efektif. Masyarakat belajar bahwa tidak ada ruang impunitas bagi koruptor, sekuat apa pun posisi politiknya. Ini adalah pendidikan publik secara massal bahwa negara sedang berusaha membersihkan dirinya sendiri.

Kasus ini menjadi studi kasus wajib di setiap ruang kelas, dari tingkat universitas hingga lembaga diklat pejabat negara. Kita harus mengubah paradigma pendidikan antikorupsi dari hanya sebatas pada ‘sosialisasi aturan’ menjadi ‘pembangunan ketahanan diri.

Pendidikan antikorupsi harus mengajarkan empati. Bahwa setiap rupiah yang dikorupsi dari anggaran negara adalah hak rakyat yang berpotensi menghilangkan akses pendidikan, kesehatan, dan pangan bagi masyarakat miskin.

Ketika seorang pejabat memiliki empati yang dalam, korupsi tidak lagi hanya dipahami sebagai pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Penangkapan Dadan Hindayana adalah tragedi bagi integritas bangsa. Namun di saat yang sama, ia adalah momentum kebangkitan. Mari jadikan kasus ini sebagai ‘kurikulum kebangsaan’.

Semoga kelak nanti kita tidak lagi dikejutkan oleh orang-orang pintar dan berkuasa yang korupsi, melainkan melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tak tergoyahkan secara moral.

Karena pada akhirnya, negara ini tidak diselamatkan oleh orang-orang yang hanya paham hukum, tetapi oleh mereka yang jujur dan berani menegakkannya. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Jumlah Korban Jiwa Gempa Flores Capai 135 Orang

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:23 WITA