Oleh: Karolus Banda Larantukan
PADA beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 hingga 24 November 2025, penulis ikut terlibat berdasarkan rekomendasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur untuk mengikuti kegiatan Sertifikasi Kompetensi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang diadakan oleh direktorat Bina SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan–Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
Hampir 150 peserta dari berbagai daerah di pelosok nusantara hadir dan mengikuti kegiatan dimaksud. Sertifikasi Kompetensi TACB ini menjadi penting ketika selama tiga hari tersebut diberikan pembekalan dan ujian tertulis maupun wawancara oleh direktorat terkait cagar budaya.
Sesungguhnya landasan untuk kegiatan ini adalah bagaimana bangsa ini yakni orang-orangnya baik di daerah maupun nasional mampu melestarikan warisan budaya bangsa ini, agar manusia-nya tetap berkarakter, memiliki jati diri yang kokoh dan mampu merawat identitas diri dan bangsa sebagai ingatan kolektif yang kokoh.
***
Di tengah laju modernisasi yang kian tak terbendung, warisan budaya sering kali menemukan dirinya terdesak di sudut-sudut ingatan.
Rumah-rumah dan gedung-gedung beton tumbuh menggantikan rumah adat, bahasa daerah perlahan memudar di tengah dominasi bahasa global, dan ritual-ritual leluhur dianggap usang oleh generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: masihkah kita memandang warisan budaya sebagai jantung identitas bangsa, ataukah ia tinggal menjadi artefak masa lalu yang kehilangan makna?
Warisan budaya bukan sekadar peninggalan ke-benda-an atau tak benda yang bersifat romantik. Ia adalah rekaman nilai, pengetahuan, dan cara pandang suatu komunitas dalam menjawab tantangan kehidupan.
Di dalam tenun ikat, misalnya, tersimpan kisah kosmologi, struktur sosial, hingga relasi manusia dengan alam. Pada rumah adat, termuat filosofi hidup bersama, pembagian peran, dan penghormatan terhadap leluhur.
Melalui bahasa dan Koda, pepatah, dan nyanyian rakyat, sebuah bangsa mewariskan kebijaksanaan lintas generasi tanpa harus menuliskannya di atas kertas.
Namun, tantangan terbesar warisan budaya hari ini justru lahir dari paradoks kemajuan itu sendiri. Pembangunan yang tidak berpijak pada kesadaran historis melahirkan bentuk-bentuk perusakan yang halus namun sistematis.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










