Eksistensi Warisan Budaya–Merawat Identitas Bangsa - FloresPos Net - Page 2

Eksistensi Warisan Budaya–Merawat Identitas Bangsa

- Jurnalis

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lokasi-lokasi bersejarah digusur atas nama infrastruktur, hutan-hutan adat dibuka untuk kepentingan ekonomi jangka pendek, dan kawasan sakral berganti wajah menjadi objek pariwisata tanpa penghormatan nilai. Ironisnya, semua itu sering terjadi di ruang yang telah diakui memiliki nilai budaya tinggi.

Negara telah menyediakan payung hukum untuk melindungi warisan budaya, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Substansi undang-undang ini menegaskan kewajiban negara, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk melestarikan yakni melindungi, mengembangkan, serta memanfaatkan warisan budaya secara bertanggung jawab. Namun, keberadaan hukum sering kali berhenti di atas kertas.

Di tingkat akar rumput, pelaksanaan regulasi masih terkendala lemahnya pengawasan, rendahnya kesadaran masyarakat, serta minimnya keberpihakan kebijakan dalam praktik pembangunan.

Baca Juga :  Waspada Gigitan Hewan Penular Rabies pada Anak

Di sinilah persoalan warisan budaya menjadi isu etis dan politis sekaligus. Ia tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan benda-benda masa lalu, tetapi menyangkut pilihan moral bangsa hari ini. Apakah kita memilih menjadi generasi yang mewariskan identitas atau justru generasi yang memutus mata rantai sejarah?

Lebih jauh, globalisasi menghadirkan budaya seragam yang perlahan mengikis kekayaan lokal. Media sosial, produk hiburan global, dan budaya populer internasional menggeser posisi tradisi setempat dalam keseharian generasi muda.

Tanpa disadari, yang menghilang bukan hanya tradisi, melainkan cara berpikir dan sistem nilai yang dahulu membentuk karakter masyarakat. Ketika akar budaya terputus, manusia mudah tercerabut dari jati diri bahkan identitas dan kehilangan orientasi dalam memahami diri dan dunia.

Baca Juga :  Ketika "Kartini" Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Namun, pesimisme itu tidak seharusnya berujung pada keputusasaan. Justru di tengah krisis identitas global, warisan budaya memiliki peluang baru untuk tampil sebagai sumber kekuatan.

Banyak komunitas anak muda kini mulai kembali mempelajari bahasa daerah, menghidupkan musik tradisional, mendokumentasikan ritual adat, hingga mempopulerkan kembali tenun dan karya lokal melalui medium digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak mati; ia hanya menunggu dirawat dengan cara yang kontekstual.

Merawat warisan budaya berarti menghidupkannya dalam kesadaran sehari-hari. Ia tidak cukup disimpan di museum atau diabadikan dalam arsip negara.

Berita Terkait

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Berita ini 163 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:41 WITA

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:45 WITA

Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Idul Adha dan Harmoni Kehidupan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:27 WITA