ETMC XXXIV 2025: Sport and Culture di Ende, Kota Pancasila - FloresPos Net

ETMC XXXIV 2025: Sport and Culture di Ende, Kota Pancasila

- Jurnalis

Selasa, 11 November 2025 - 21:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Oris Gotti

SAAT pertama kali saya menjejakkan kaki di Kota Ende, hujan rintik-rintik turun pelan membasahi jalanan. Saya duduk di tepi Pantai Kota Raja, menyesap kopi hitam panas sambil memandang laut yang tenang.

Tak jauh dari situ berdiri tempat-tempat bersejarah yang pernah disinggahi Bung Karno: Taman Renungan Pancasila, Pelabuhan Ende, Masjid Ar-Rabithah, Katedral Kristus Raja, Serambi Soekarno, hingga Gedung Imakulata. Kota ini seperti buku sejarah yang terbuka, setiap halamannya menyimpan napas kebangsaan.

Tahun 2020 hingga 2022 saya bertugas di kota ini. Dalam dua tahun itu, saya belajar banyak tentang kehidupan masyarakat Ende, hangat, terbuka, dan penuh hormat pada perbedaan.

Saya juga pernah meliput peringatan Hari Lahir Pancasila bersama Presiden Joko Widodo di bawah pohon sukun yang legendaris. Dari situ saya tahu, Pancasila di Ende bukan sekadar simbol, tapi sudah menjadi laku hidup sehari-hari.

Kini, beberapa tahun kemudian, Ende kembali menjadi pusat perhatian. Kota yang tenang ini mendadak bergemuruh karena El Tari Memorial Cup (ETMC), turnamen sepak bola terbesar dan paling bergengsi di Nusa Tenggara Timur. Ajang yang bukan hanya milik pemain dan suporter, tapi juga milik masyarakat yang merayakan identitas dan persaudaraan.

ETMC kali ini terasa istimewa. Bukan hanya karena sejarah kotanya, tapi juga karena kemasan acaranya. Majesty Event Organizer, tim kreatif di balik pembukaan ETMC, seperti sedang menulis puisi lewat panggung.

Saya membayangkan mereka berhari-hari merenung, mencari cara terbaik untuk mempertemukan dua dunia, dunia olahraga yang penuh energi dan dunia budaya yang sarat makna. Hasilnya, sebuah pertunjukan megah yang menggabungkan tarian daerah, musik tradisional, dan semangat persatuan di bawah tema besar “Sport and Culture di Kota Pancasila.”

Saya kira, di situ letak kekuatan ETMC kali ini. Bukan semata soal siapa yang menjadi juara, melainkan bagaimana semangat turnamen ini menyalakan kembali kesadaran akan akar budaya. Di balik riuh drum dan kibaran bendera, ada nilai-nilai lokal yang kembali hidup: gotong royong, kebersamaan, dan rasa hormat pada sesama.

Baca Juga :  Resistensi terhadap “Kejayaan Kebohongan” (Catatan Jelang Tahun 2026)

Bagi masyarakat NTT, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah bahasa persaudaraan. Dari Flores, Timor, hingga merayap ke Sumba (tempat saya bertugas saat ini, sebagai jurnalis Metro TV setelah sebelumnya pernah berkarya lewat Pos Kupang, Tribun Flores dan RRI Ende), semua orang mengerti maknanya.

Ketika ETMC digelar, stadion bukan hanya arena pertandingan, melainkan panggung pertemuan budaya. Penonton datang bukan hanya untuk mendukung timnya, tapi juga untuk merayakan siapa mereka.

Namun seperti kehidupan, sepak bola tak selalu tenang. Di tengah semangat itu, benturan tak terelakkan, baik di lapangan maupun di tribun. Ada emosi, ada gesekan kecil, kadang bahkan ada konflik besar.

Tapi di situlah ujian sesungguhnya. Apakah kita mampu mengembalikan semuanya pada akar budaya yang menghormati, atau justru larut dalam ego sempit?

Budaya NTT selalu mengajarkan keseimbangan antara keberanian dan kehalusan hati. Dalam ritual adat, pertarungan selalu diikuti perdamaian.

Dalam adu kuda, setelah saling beradu, para penunggang saling menyalami. Maka dalam sepak bola pun, bentrok harus diakhiri dengan pelukan, bukan dendam. Karena sportivitas sejati bukan berarti tak pernah berselisih, tapi mampu berdamai setelahnya.

Saya menyaksikan banyak wajah yang penuh semangat di pinggir lapangan: suporter tua yang rela berjalan jauh hanya untuk menonton timnya, panitia muda yang bekerja tanpa lelah, pedagang kecil yang menjajakan kopi dan pisang goreng sambil tersenyum. Semua punya peran dalam turnamen ini. Semua adalah bagian dari budaya yang hidup.

Di sisi lain, Majesty Event Organizer seolah memahami bahwa olahraga besar seperti ETMC bukan hanya soal pertandingan, tapi soal citra dan makna. Maka mereka menciptakan pembukaan yang mengundang refleksi.

Lampu, tarian, dan narasi panggung dirancang seperti perjalanan spiritual dari sejarah ke masa kini. Di bawah langit Ende, seni dan sport bertemu, dan Pancasila terasa hidup kembali dalam gerak manusia.

Baca Juga :  Menyadarkan Masyarakat akan Money Politik dengan Menghayati Terang Gaudium et Spes

ETMC juga menunjukkan bahwa NTT punya potensi luar biasa dalam manajemen dan kreativitas. Jika event olahraga bisa dikemas dengan sentuhan budaya, mengapa pariwisata dan pendidikan tidak bisa?

Semangat yang sama bisa menjadi bahan bakar untuk banyak bidang lain. Karena sejatinya, masyarakat NTT tidak kekurangan ide, hanya perlu ruang untuk menyalakannya.

Di luar lapangan, saya melihat wajah-wajah yang bersinar. Anak-anak kecil meniru gaya selebrasi idolanya. Para orang tua bangga mengenakan kaos tim lokal. Di warung kopi, orang-orang berbicara dengan logat berbeda tapi tawa mereka sama. Itulah Pancasila dalam bentuk paling sederhana, hidup dalam keseharian, bukan sekadar dalam pidato.

Ketika malam tiba dan sorak penonton mulai reda, saya kembali teringat pada Bung Karno. Mungkin di bawah pohon sukun itu, beliau tersenyum melihat anak-anak NTT yang kini bersatu dalam semangat sportivitas. Dulu ia merenungkan dasar persatuan bangsa, kini persatuan itu bergerak di lapangan hijau.

ETMC di Kota Ende bukan hanya ajang olahraga. Ia adalah panggung budaya, laboratorium sosial, dan cermin karakter manusia. Di sini kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemenangan, tetapi pada kemampuan menjaga persaudaraan dan memperlakukan lawan sebagai kawan.

Dan karena turnamen ini masih terus berjalan, mari kita nikmati dan maknai setiap pertandingannya. Mari belajar dari setiap gol, setiap tekel, setiap sorak, dan setiap pelukan di akhir laga.

Jadikan ETMC bukan hanya ruang hiburan, tapi ruang pembelajaran sosial dan budaya. Karena dari Ende, Kota Pancasila, kita diingatkan kembali bahwa olahraga hanya akan benar-benar indah jika dijalani dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat persaudaraan yang tak pernah padam.*

Penulis adalah Jurnalis dan Pemerhati Sepak Bola

Berita Terkait

Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?
Hindayana dan Kurikulum Keteladanan
Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Berita ini 520 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:05 WITA

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:05 WITA

Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:55 WITA

Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:25 WITA

Hindayana dan Kurikulum Keteladanan

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Berita Terbaru

Opini

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:05 WITA