Estetika Harapan dari Tangan Perempuan Solor - FloresPos Net

Estetika Harapan dari Tangan Perempuan Solor

- Jurnalis

Rabu, 24 September 2025 - 15:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Oleh: Anselmus DW Atasoge

FLORESA.CO, Selasa, 23 September 2025 mengabarkan kisah tentang kaum Perempuan Solor dibawah dampingan Du Anyam. Di tangan kaum Perempuan ini, anyaman lontar dihadirkan sebagai  simbol harapan dan ketahanan hidup mereka.

Melalui Du Anyam, sebuah lembaga kewirausahaan sosial, lebih dari 400 mama penganyam dari tiga kecamatan berkumpul dalam “Kegiatan Menganyam Bersama” pada 1 September 2025.

Acara ini tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga memperkenalkan dua motif baru yakni bunga teratai dan burung punai yang melambangkan keteguhan dan persaudaraan. Kini, anyaman dari desa-desa kecil di Flores Timur telah menjangkau 50 negara, menjadi bukti bahwa inovasi bisa lahir dari akar budaya.

Anyaman lontar adalah warisan, identitas, dan jalan bagi perempuan Solor untuk tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. Melaluinya mereka ‘bergerak indah’: menjaga rumah, menjaga budaya, dan menjaga harapan. Tulisan ini hadir sebagai sebuah apresiasi atas ‘gerak indah’ tersebut.

Baca Juga :  Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Di tengah kondisi kekeringan yang mewarnai Pulau Solor, helai-helai lontar yang dianyam oleh tangan-tangan perempuan Solor telah menjelma menjadi simbol harapan, keteguhan, dan keindahan yang lahir dari akar budaya.

Bersama Du Anyam, para perempuan Solor tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga merajut masa depan melalui ‘estetika yang hidup dalam anyaman’.

Dari perspektif filsafat estetika, keindahan bukan sekadar soal bentuk atau warna. Ia adalah ekspresi dari nilai, makna, dan pengalaman manusia. Immanuel Kant pernah menulis bahwa keindahan merupakan sesuatu yang menyenangkan tanpa syarat, tanpa konsep, dan tanpa tujuan.

Baca Juga :  Depresi Pasca Melahirkan: Tantangan dan Cara Mengatasinya

Dalam konteks ini, anyaman lontar menjadi pengalaman estetik yang bebas dari kepentingan praktis. Ia menyentuh batin, bukan sekadar memenuhi fungsi.

Motif bunga teratai dan burung punai yang diperkenalkan melalui kolaborasi dengan Du Anyam tidak hanya hadir sebagai ‘inovasi visual’. Bunga teratai, yang tumbuh indah di tengah lumpur, melambangkan keteguhan dan harapan. Burung punai, endemik Flores dan Solor, merepresentasikan harmoni dan persaudaraan.

Dalam estetika, simbol-simbol ini mengandung kedalaman makna yang melampaui ‘fungsi dekoratif’. Mereka adalah metafora kehidupan perempuan Solor yang tetap tegak di tengah keterbatasan.

Berita Terkait

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA