Estetika Harapan dari Tangan Perempuan Solor - FloresPos Net - Page 2

Estetika Harapan dari Tangan Perempuan Solor

- Jurnalis

Rabu, 24 September 2025 - 15:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

John Dewey, dalam Art as Experience, menekankan bahwa “seni adalah intensifikasi dari pengalaman hidup.” Anyaman lontar adalah seni yang lahir dari keseharian perempuan Solor. Ia bukan karya galeri, melainkan intensifikasi dari kerja, harapan, dan identitas yang dijalani setiap hari.

Ketika Mama Emi dan Mama Ervin menganyam, mereka tidak hanya menciptakan benda, tetapi juga menyulam kisah hidup mereka ke dalam helai-helai koli. Setiap suwiran, setiap simpul, adalah jejak tangan yang berbicara tentang cinta, kerja keras, dan keberanian.

Dari dan di tangan-tangan mereka, estetika menjadi jembatan antara lokalitas dan globalitas. Produk anyaman yang kini menjangkau pasar internasional tetap membawa ‘roh budaya Solor’. Ia tidak kehilangan jati diri. Malah, semakin diperkuat.

Baca Juga :  Praktik Money Politic dan Upaya Pencegahannya dalam Pemilu di Indonesia

Di titik ini, boleh dikatakan, dalam dunia yang sering menstandarkan keindahan, anyaman lontar menunjukkan bahwa keindahan bisa bersifat kontekstual, berakar, dan bermakna.

Untuk mempertegas kebermaknaan itu, saya mengutip Theodor Adorno dalam Aesthetic Theory. Adorno menyatakan bahwa “seni yang sejati adalah yang menolak untuk tunduk pada dominasi dan eksploitasi.”

Anyaman lontar, dalam hal ini, bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap sistem yang meminggirkan perempuan dan merusak alam. Melalui anyaman, perempuan Solor menegaskan hak mereka atas tanah, tradisi, dan masa depan.

Du Anyam, sebagai kewirausahaan sosial, telah membuka ruang bagi estetika untuk menjadi jalan hidup. Ia membuktikan bahwa seni tradisional bukan barang usang, melainkan sumber daya kreatif yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam perspektif estetika, ini adalah bentuk sublimasi: transformasi penderitaan dan keterbatasan menjadi karya yang indah dan bermakna.

Baca Juga :  Memulihkan Wajah Manusia

Ketika anyaman itu sampai di meja makan atau lobi hotel di kota-kota jauh, ia membawa pesan dari kampung.

Bahwasanya, perempuan Solor tetap bertahan, tetap berkarya, dan tetap menjaga keindahan yang lahir dari tanah mereka. Dan, dalam setiap helai lontar yang terjalin, estetika harapan itu terus hidup.*

Penulis, Alumni Interfaith Study UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berita Terkait

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA