Memulihkan Wajah Manusia - FloresPos Net

Memulihkan Wajah Manusia

- Jurnalis

Senin, 23 Maret 2026 - 18:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

GELOMBANG konflik sosial yang kembali menyapa Kelurahan Postoh dan Amagarapati di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, menyisakan ‘luka baru di atas derita’ lama.

Tawuran berulang yang tercatat terjadi lima kali dalam periode singkat, disertai kerusakan properti dan penggunaan senjata tajam, seolah menjadi ‘lukisan retaknya hubungan kemanusiaan’ di tingkat akar rumput.

Pemerintah daerah telah merespons dengan langkah tegas melalui pembentukan pos terpadu keamanan dan pemberlakuan jam malam. Namun, pendekatan keamanan semata sering kali hanya mengobati gejala permukaan.

Untuk menyelesaikan akar masalah, kita perlu membaca konflik ini melalui kacamata ‘yang lain’. Tulisan ini mencoba membacanya dari perspektif filsafat manusia yang menempatkan martabat sebagai pusat perhatian.

Baca Juga :  Nagekeo: Hakikat Ada yang Belum Tuntas

Secara hakikat, manusia adalah ‘homo socius’, makhluk yang terpanggil untuk hidup dalam relasi. Martin Buber pernah menegaskan bahwa manusia tidak pernah menjadi manusia seorang diri. Ketika remaja di Postoh dan Amagarapati saling melempar batu dan kayu, terjadi dehumanisasi di mana “yang lain” tidak lagi dilihat sebagai sesama, melainkan sebagai musuh yang harus dilumpuhkan.

Kekerasan fisik tersebut adalah manifestasi dari krisis pengakuan. Identitas kolektif yang negatif mengeras, menggantikan identitas personal yang utuh, sehingga dialog antarwarga terhambat oleh tembok dendam historis.

Manusia juga adalah ‘homo symbolicus’, makhluk yang terjerat dalam jaring-jaring simbol. Konflik ini tidak dapat dipisahkan dari ‘dimensi simbolik’ yang melingkupinya.

Pelemparan batu ke kantor lurah, misalnya, tidak terbatas pada aksi vandalisme, melainkan simbol penolakan terhadap otoritas dan ekspresi kemarahan yang tidak terartikulasi secara rasional.

Baca Juga :  Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)

Sebaliknya, proses rekonsiliasi yang dilaksanakan pada 16 Maret 2026 menunjukkan kekuatan simbol pemulih. Pertukaran telur, siri pinang, dan tembakau dalam ritual adat tidak hanya ditampilkan sebagai sebuah ‘aksi seremonial’, melainkan sebuah ‘bahasa universal’ yang menyatakan komitmen untuk menghidupkan kembali persaudaraan yang sempat terkoyak. Penempatan sesajian di tugu perbatasan mengubah batas pemisah menjadi batas penghubung, menandai transformasi makna ruang dari arena konflik menjadi ruang damai.

Dalam perspektif etika, manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas pilihannya. Konflik remaja ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai tanggung jawab moral kolektif.

Berita Terkait

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Berita Terbaru