Solusi yang lebih mengakar menuntut pendekatan transformatif yang menyentuh tiga level: struktural, kultural, dan personal. Di level struktural, pemerintah perlu membuka kanal partisipasi pemuda dalam perencanaan pembangunan lokal, agar mereka merasa memiliki masa depan bersama, bukan saling mengancam.
Di level kultural, kearifan lokal seperti sumpah adat perlu diperkuat dengan mekanisme pendampingan pascarekonsiliasi, misalnya forum dialog rutin antar-tokoh pemuda, pelatihan resolusi konflik berbasis budaya, dan integrasi nilai perdamaian dalam kegiatan keagamaan.
Di level personal, pendampingan psikososial bagi remaja yang terlibat kekerasan penting untuk memutus siklus trauma dan membangun kapasitas empati.
Bagi saya, dengan menyelaraskan ketiga level ini, perdamaian di Postoh dan Amagarapati dapat berakar kuat, dan tidak terbatas mengambang di permukaan ritual. *
Penulis adalah Warga Larantuka, Tinggal di Ende










