Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
SIDANG Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) yang berlangsung di Jakarta menjadi magnet bagi para pemimpin Gereja dari berbagai penjuru dunia.
Dalam forum ini, para uskup dan delegasi dari Vatikan, Afrika, Eropa, Timur Tengah, Oseania, Amerika Serikat, serta perwakilan komunitas ekumenis yang lebih luas, menyatukan suara mereka. Mereka menegaskan bahwa perjalanan sinodal Gereja menawarkan jalan nyata menuju rekonsiliasi di tengah dunia yang semakin terpecah oleh polarisasi dan konflik.
Kehadiran pemimpin Gereja lintas benua ini menandakan bahwa tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini bersifat universal. Bahwasanya, isu perpecahan sosial, ketegangan geopolitik, dan krisis kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.
Oleh karena itu, respons yang dibangun pun harus bersifat kolektif. FABC XII kali ini bertransformasi menjadi ‘panggung dialog global’ yang inklusif, tempat berbagai tradisi spiritual dan ekumenis saling bertukar perspektif untuk mencari solusi bersama.
Inti dari seruan tersebut berpusat pada konsep sinodalitas, yaitu sebuah cara hidup dan bertindak yang menekankan prinsip ‘berjalan bersama’.
Dalam praktiknya, sinodalitas menuntut adanya budaya mendengar yang aktif, partisipasi yang setara, dan tanggung jawab bersama dalam mengambil keputusan.
Di tengah deru kebisingan dunia yang sering kali mengedepankan ego sektoral, pendekatan ini hadir sebagai antitesis yang menawarkan ruang aman untuk merajut kembali benang-benang persaudaraan yang putus.
Rekonsiliasi yang ditawarkan melalui perjalanan sinodal ini bersifat transformatif. Hal ini menuntut pergeseran dari ‘sikap defensif’ menuju ‘keterbukaan yang tulus terhadap sesama’.
Para pemimpin Gereja menekankan bahwa perdamaian tidak akan terwujud melalui isolasi, melainkan melalui pertemuan yang penuh empati.
Dengan menjadikan martabat manusia sebagai titik temu, sinodalitas mendorong terciptanya jembatan dialog yang mampu meredam kebencian dan memulihkan kepercayaan di tengah masyarakat yang terfragmentasi.
Memasuki hari ketiga, Sidang Pleno XII FABC di Jakarta telah mengukir resonansi yang mendalam dan menggugah nurani.
Di tengah kepungan disonansi global yang kerap menghantui peradaban dengan bayang-bayang perpecahan, komitmen untuk ‘berjalan bersama’ hadir bagaikan mercusuar yang menembus kegelapan zaman.
Momen ini menegaskan bahwa persaudaraan sejati bukanlah utopia yang mustahil, melainkan sebuah pilihan sadar untuk merangkul keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan pemersatu yang tangguh.
Dalam kerangka tersebut, sinodalitas bertransformasi dari wacana teologis menjadi kompas moral yang aplikatif dan membumi. Ia menjelma menjadi peta jalan nyata bagi umat beriman maupun setiap insan berkehendak baik yang rindu akan perubahan.
Dengan menapaktilasi nilai-nilai kebersamaan, kita diamanatkan untuk merajut kembali ‘tenun kehidupan’ yang lebih manusiawi, menegakkan keadilan substantif, dan menyemai perdamaian abadi sebagai warisan luhur bagi masa depan. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










