Konflik Timur Tengah, Nalar dan Empati Kita - FloresPos Net

Konflik Timur Tengah, Nalar dan Empati Kita

- Jurnalis

Rabu, 11 Maret 2026 - 22:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge

ARUS informasi mengenai konflik di Timur Tengah membanjiri linimasa media sosial kita setiap hari. Gambar reruntuhan bangunan, tangisan anak-anak, dan laporan korban jiwa menyuguhkan realitas pahit yang sulit diabaikan. Wajar jika hal ini memantik emosi publik, memicu kemarahan, serta melahirkan solidaritas yang kuat.

Namun, di tengah gelora perasaan tersebut, kita dituntut untuk tetap menjaga nalar agar respon yang dibangun tidak terjebak pada impulsivitas yang kontraproduktif. Menyikapi perang ini memerlukan keseimbangan antara hati yang tersentuh dan pikiran yang jernih.

Fokus utama dalam menyikapi konflik ini seharusnya tertuju pada nilai kemanusiaan universal. Penderitaan rakyat sipil, baik di Gaza maupun di wilayah sekitarnya, adalah tragedi yang menyangkut harkat martabat manusia secara keseluruhan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, pernah menegaskan bahwa “tidak ada pembenaran bagi pembunuhan warga sipil, siapa pun pelakunya.”

Pernyataan tersebut mengingatkan kita bahwa di atas segala perbedaan politik dan klaim historis, nyawa manusia tetaplah yang paling berharga. Oleh karena itu, sikap bijak dimulai dari menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama sebelum membahas urusan geopolitik yang rumit ini.

Baca Juga :  ETMC XXXIV 2025: Sport and Culture di Ende, Kota Pancasila

Di Indonesia, kita memiliki kearifan lokal yang dapat menjadi kompas dalam menghadapi gejolak global semacam ini. Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tokoh pluralisme Indonesia, sering menekankan bahwa kemanusiaan adalah inti dari segala ajaran kebaikan. Ia pernah berpesan, “Kemanusiaan adalah agama kita.”

Pesan ini relevan untuk direnungkan agar solidaritas terhadap korban perang tidak justru melahirkan kebencian terhadap kelompok tertentu di dalam negeri.

Kita harus mampu memisahkan dukungan terhadap kemanusiaan dari sentimen kebencian yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Solidaritas melampaui batas geografis, namun harus tetap berakar pada kedamaian di tanah air sendiri.

Selain menjaga stabilitas domestik, respon bijak juga harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang konstruktif. Kemarahan di media sosial memang mudah diluapkan, namun dampaknya sering kali minim bagi penyelesaian masalah.

Baca Juga :  Rencana Aksi Perubahan Iklim Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan

Energi tersebut akan lebih bermakna jika dialihkan pada penggalangan bantuan kemanusiaan, dukungan terhadap jalur diplomasi, serta doa untuk perdamaian.

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah Indonesia pun telah mengambil langkah tegas melalui jalur diplomasi di forum internasional. Sebagai warga negara, kita dapat memperkuat upaya tersebut dengan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi atau hoaks yang berpotensi memanaskan suasana.

Bagi saya, perang di Timur Tengah adalah cerminan kegagalan dialog dan kemenangan kekerasan. Kita tidak boleh membiarkan siklus kebencian ini terus berputar tanpa ada upaya penghentian. Respon kita harus melampaui kutukan di kolom komentar. Ia harus menjadi gerakan nyata yang mendorong gencatan senjata dan solusi dua negara yang adil.

Dengan menggabungkan empati kemanusiaan, kearifan lokal, dan tindakan konstruktif, kita berkontribusi menyalakan lilin harapan di tengah kegelapan konflik. Perdamaian mungkin tampak jauh, namun setiap upaya bijak yang kita lakukan adalah langkah kecil menuju tujuan mulia tersebut. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:47 WITA