Seseorang tidak kehilangan dirinya ketika memberikan diri.
Ia justru menemukan dirinya melalui pemberian diri.
Oleh: Fr. Tevin Lory
Kepemimpinan: Bagian dari Proses Formasi
Di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, kepemimpinan para frater tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa mereka sedang berada dalam sebuah perjalanan formasi menuju imamat.
Karena itu, seorang frater yang dipercayakan menjadi pemimpin sesungguhnya tidak sedang keluar dari proses formasi. Ia justru sedang memasuki salah satu ruang formasi yang paling konkret, yaitu belajar memimpin manusia tanpa kehilangan dirinya sebagai saudara.
Kepemimpinan dengan demikian bukanlah jeda dari formasi, apalagi semacam kenaikan status di antara para frater lainnya. Ia merupakan bagian dari proses pembentukan diri.
Seorang frater yang memimpin tetaplah seorang frater yang sedang dibentuk, sedang belajar, sedang dikoreksi, bahkan sedang berhadapan dengan keterbatasan dirinya sendiri.
Di sinilah letak paradoks kepemimpinan dalam komunitas calon imam. Seseorang diberi tanggung jawab untuk mengarahkan orang lain, sementara pada saat yang sama ia sendiri masih sedang diarahkan.
Paradoks tersebut justru mempunyai nilai pedagogis yang besar. Kepemimpinan memaksa seseorang keluar dari ruang kenyamanan individual menuju ruang tanggung jawab komunal. Panggilan imamat pada akhirnya bukanlah perjalanan menuju pemenuhan diri, melainkan perjalanan menuju pemberian diri.










