Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain - FloresPos Net - Page 4

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada titik inilah gagasan Robert K. Greenleaf mengenai servant leadership menjadi relevan. Greenleaf membalik logika kepemimpinan dengan menegaskan bahwa seseorang tidak pertama-tama menjadi pemimpin untuk kemudian belajar melayani, melainkan pertama-tama memiliki dorongan untuk melayani, dan dari pelayanan itulah kepemimpinan lahir (Greenleaf, The Servant as Leader, 1970).

Gagasan tentang pelayanan tersebut menemukan landasan antropologis yang lebih mendalam dalam personalisme Karol Wojtyła. Bagi Wojtyła, manusia mengaktualisasikan dirinya melalui tindakan yang bebas dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Valentine Day dan Pesta Demokrasi: Lahir Pemimpin yang Cinta Kasih

Salah satu paradoks personalisme adalah bahwa manusia menemukan kepenuhan dirinya bukan hanya dengan memiliki, melainkan juga dengan memberikan diri (self-gift) kepada orang lain (Wojtyła, The Acting Person, 1979). Seseorang tidak kehilangan dirinya ketika memberikan diri. Ia justru menemukan dirinya melalui pemberian diri.

Memimpin di Tengah Orang-Orang Terdidik

Kepemimpinan menuntut pendekatan yang berbeda ketika dijalankan dalam komunitas yang anggotanya memiliki kapasitas intelektual, pengalaman, dan cara berpikir yang beragam.

Baca Juga :  Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Apalagi ketika para frater sedang menempuh pendidikan filsafat dan teologi, kepemimpinan tidak mungkin dibangun semata-mata atas dasar posisi atau instruksi. Orang-orang terdidik tidak cukup dipimpin dengan perintah.

Mereka perlu diyakinkan melalui alasan, keteladanan, dialog, dan integritas. Kepemimpinan dalam konteks demikian menuntut kemampuan untuk menghargai kebebasan berpikir sekaligus mengarahkan keragaman pandangan menuju tujuan bersama.

Berita Terkait

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:47 WITA