Pada titik inilah gagasan Robert K. Greenleaf mengenai servant leadership menjadi relevan. Greenleaf membalik logika kepemimpinan dengan menegaskan bahwa seseorang tidak pertama-tama menjadi pemimpin untuk kemudian belajar melayani, melainkan pertama-tama memiliki dorongan untuk melayani, dan dari pelayanan itulah kepemimpinan lahir (Greenleaf, The Servant as Leader, 1970).
Gagasan tentang pelayanan tersebut menemukan landasan antropologis yang lebih mendalam dalam personalisme Karol Wojtyła. Bagi Wojtyła, manusia mengaktualisasikan dirinya melalui tindakan yang bebas dan bertanggung jawab.
Salah satu paradoks personalisme adalah bahwa manusia menemukan kepenuhan dirinya bukan hanya dengan memiliki, melainkan juga dengan memberikan diri (self-gift) kepada orang lain (Wojtyła, The Acting Person, 1979). Seseorang tidak kehilangan dirinya ketika memberikan diri. Ia justru menemukan dirinya melalui pemberian diri.
Memimpin di Tengah Orang-Orang Terdidik
Kepemimpinan menuntut pendekatan yang berbeda ketika dijalankan dalam komunitas yang anggotanya memiliki kapasitas intelektual, pengalaman, dan cara berpikir yang beragam.
Apalagi ketika para frater sedang menempuh pendidikan filsafat dan teologi, kepemimpinan tidak mungkin dibangun semata-mata atas dasar posisi atau instruksi. Orang-orang terdidik tidak cukup dipimpin dengan perintah.
Mereka perlu diyakinkan melalui alasan, keteladanan, dialog, dan integritas. Kepemimpinan dalam konteks demikian menuntut kemampuan untuk menghargai kebebasan berpikir sekaligus mengarahkan keragaman pandangan menuju tujuan bersama.










