Sebaliknya, kecakapan organisatoris yang tidak berakar pada kehidupan rohani dapat mereduksi kepemimpinan menjadi sekadar kemampuan mengelola struktur, mengatur tugas, dan mengarahkan orang lain, tanpa orientasi pada pelayanan dan pertumbuhan manusia.
Kepemimpinan Kristiani
Kita sering membayangkan pemimpin dari tempat ia berdiri. Entah itu di depan mimbar, di podium, di tengah forum, atau di kursi yang secara struktural memberinya kewenangan. Namun dalam perspektif Kristiani, kepemimpinan justru dimulai dari tempat yang lebih rendah.
Yesus tidak memperkenalkan kepemimpinan dengan menaiki takhta, melainkan dengan membungkuk dan membasuh kaki para murid. Dalam Yohanes 13: 1-15, tindakan itu bukan sekadar sebuah gestur kerendahan hati. Ia merupakan pembalikan radikal terhadap logika kekuasaan. Yang terbesar justru menjadi yang melayani.
Karena itu, kepemimpinan Kristiani tidak pertama-tama bertanya, “Berapa besar wewenang yang saya miliki?”, melainkan, “Sejauh mana saya bersedia memberikan diri?”
Pertanyaan ini menjadi sangat penting dalam formasi calon imam, sebab kepemimpinan bukan sekadar latihan untuk menggunakan kewenangan, melainkan kesempatan untuk membentuk pribadi yang semakin menyerupai Kristus dalam cara berada, berpikir, dan melayani.
Maka, ketika seorang frater menerima tanggung jawab kepemimpinan di Ritapiret, ia sesungguhnya sedang menerima sebuah pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar pertanyaan administratif: Apakah saya sanggup menggunakan diri saya bagi kehidupan orang lain?










