Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain - FloresPos Net - Page 3

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebaliknya, kecakapan organisatoris yang tidak berakar pada kehidupan rohani dapat mereduksi kepemimpinan menjadi sekadar kemampuan mengelola struktur, mengatur tugas, dan mengarahkan orang lain, tanpa orientasi pada pelayanan dan pertumbuhan manusia.

Kepemimpinan Kristiani

Kita sering membayangkan pemimpin dari tempat ia berdiri. Entah itu di depan mimbar, di podium, di tengah forum, atau di kursi yang secara struktural memberinya kewenangan. Namun dalam perspektif Kristiani, kepemimpinan justru dimulai dari tempat yang lebih rendah.

Baca Juga :  Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan 'Rumah Sejati' dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Yesus tidak memperkenalkan kepemimpinan dengan menaiki takhta, melainkan dengan membungkuk dan membasuh kaki para murid. Dalam Yohanes 13: 1-15, tindakan itu bukan sekadar sebuah gestur kerendahan hati. Ia merupakan pembalikan radikal terhadap logika kekuasaan. Yang terbesar justru menjadi yang melayani.

Karena itu, kepemimpinan Kristiani tidak pertama-tama bertanya, “Berapa besar wewenang yang saya miliki?”, melainkan, “Sejauh mana saya bersedia memberikan diri?”

Baca Juga :  Pandangan Gereja Katolik Tentang Perkawinan Menurut Amoris Laetitia

Pertanyaan ini menjadi sangat penting dalam formasi calon imam, sebab kepemimpinan bukan sekadar latihan untuk menggunakan kewenangan, melainkan kesempatan untuk membentuk pribadi yang semakin menyerupai Kristus dalam cara berada, berpikir, dan melayani.

Maka, ketika seorang frater menerima tanggung jawab kepemimpinan di Ritapiret, ia sesungguhnya sedang menerima sebuah pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar pertanyaan administratif: Apakah saya sanggup menggunakan diri saya bagi kehidupan orang lain?

Berita Terkait

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:47 WITA