Dalam Pastores Dabo Vobis, Yohanes Paulus II menegaskan bahwa seminari bukan sekadar tempat atau bangunan tempat calon imam tinggal dan belajar.
Seminari terutama merupakan komunitas pendidikan yang sedang berjalan, sebuah lingkungan yang memungkinkan calon imam mengalami kembali pengalaman para rasul yang hidup bersama Kristus sebelum diutus untuk menjalankan misi (Yohanes Paulus II, Pastores Dabo Vobis, 1992, no. 60).
Dengan demikian, kehidupan bersama bukan sekadar latar belakang dari pembentukan imamat. Kehidupan bersama itu sendiri merupakan medium formasi.
Seminari, menurut dokumen tersebut, merupakan komunitas eklesial yang bertujuan membentuk calon imam secara integral dalam dimensi manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral.
Keempat dimensi ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan intelektual yang tidak disertai kematangan manusiawi berisiko menghasilkan kecerdasan yang kehilangan dimensi empati dan tanggung jawab.
Demikian pula, spiritualitas yang tidak berkembang dalam kemampuan membangun relasi dapat terjebak dalam bentuk kesalehan yang individualistis dan tertutup terhadap kehidupan bersama. Kompetensi pastoral tanpa kedalaman intelektual berpotensi kehilangan daya kritis dalam membaca realitas dan mengambil keputusan secara reflektif.










