Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores - FloresPos Net

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa tidak hanya meruntuhkan bangunan. Ia juga mengguncang rasa aman.

Oleh: Romo Drs. Patrick Josaphat Dharsam Guru, MA

PADA pagi setelah gempa Flores, anak-anak kembali mencari sekolahnya. Sebagian tidak lagi menemukan ruang kelas seperti sebelumnya.

Ada dinding yang retak, ruang yang harus dikosongkan, meja dan kursi yang tidak dapat digunakan. Sebagian anak akhirnya belajar di tenda, halaman rumah, atau ruang darurat yang dibangun bersama masyarakat.

Namun di tengah semua itu ada pemandangan yang menggetarkan: guru tetap datang.

Mereka berdiri di depan anak-anak, membuka pelajaran, mengajak berdoa, bertanya, menjelaskan, dan sesekali membuat anak tertawa.

Padahal mereka sendiri adalah penyintas.

Guru yang juga terluka

Ketika mengunjungi sekolah-sekolah yang terdampak gempa, saya berjumpa dengan guru-guru yang mengalami keadaan serupa dengan murid-murid mereka. Rumah rusak. Keluarga mengalami ketakutan. Sebagian harus tinggal di tempat pengungsian atau tenda.

Tetapi ketika bantuan datang, perhatian biasanya langsung tertuju kepada anak-anak.

Guru-guru tidak banyak berbicara tentang dirinya.

Mereka menerima bantuan yang ada, lalu kembali bekerja.

Saya melihat sesuatu yang paradoksal: orang yang sedang terluka justru berusaha menjadi tempat berteduh bagi orang lain.

Pada suatu kesempatan, saya menguatkan para guru dan menyampaikan bahwa mereka tidak boleh dilupakan. Mereka bukan sekadar orang yang bertugas mengembalikan kegiatan belajar. Mereka juga penyintas yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan dukungan.

Sebab kita sering menghitung berapa rumah yang rusak, berapa ruang kelas yang roboh, dan berapa siswa yang terdampak.

Tetapi kita jarang bertanya:
Berapa banyak guru yang sedang mengajar sambil membawa luka mereka sendiri?

Pertanyaan ini penting karena pemulihan sekolah tidak akan pernah utuh apabila para guru yang menjadi penggeraknya dibiarkan memikul beban sendirian.

Karen Reivich dan Andrew Shatté, dalam The Resilience Factor, melihat ketangguhan bukan sebagai keadaan ketika seseorang bebas dari tekanan, melainkan kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan tetap bergerak maju secara konstruktif.

Dalam konteks ini, guru yang kembali ke kelas bukan berarti guru tersebut tidak takut. Ia mungkin takut. Ia mungkin masih cemas. Namun ia memilih untuk tetap hadir.

Kehadiran itu sendiri adalah bentuk ketangguhan.

Anak membaca wajah gurunya

Anak-anak tidak hanya mendengarkan kata-kata guru. Mereka membaca wajah, nada suara, gerak tubuh, dan cara guru menghadapi keadaan.

Seorang guru dapat berkata, “Jangan takut,” tetapi anak mungkin tetap takut jika guru sendiri tampak panik.

Sebaliknya, guru yang berkata, “Kita memang mengalami sesuatu yang berat. Tetapi kita akan menghadapinya bersama,” sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kalimat penghiburan.
Ia memberikan rasa aman.

Ann S. Masten dalam Ordinary Magic: Resilience in Development menunjukkan bahwa ketangguhan anak tidak selalu lahir dari sesuatu yang luar biasa.

Resiliensi justru dapat bertumbuh melalui hal-hal yang sangat biasa: hubungan yang sehat, kehadiran orang dewasa yang dapat dipercaya, keluarga, sekolah, dan lingkungan yang memberikan dukungan.

Karena itu, guru memiliki posisi yang sangat penting.

Kehadiran guru menciptakan rutinitas ketika kehidupan anak kehilangan keteraturan.
Rutinitas menciptakan kepastian.
Kepastian membantu mengurangi kecemasan.

Dan dari rasa aman itulah proses belajar perlahan dapat tumbuh kembali.

Maka, belajar di tenda bukan sekadar memindahkan ruang kelas dari gedung ke kain terpal.

Belajar di tenda adalah cara mengatakan kepada anak: hidup kita belum selesai.

Guru tidak harus menjadi psikolog

Pascabencana, guru sering kali mendapat beban yang sangat besar. Mereka diminta mengajar, mendampingi, menenangkan, mengenali perubahan perilaku, bahkan menangani persoalan emosional anak.

Tentu guru perlu memiliki keterampilan dasar untuk mendampingi anak. Namun guru tidak harus menjadi psikolog.

Yang dibutuhkan pertama-tama adalah kemampuan untuk hadir.
Mendengarkan.
Memperhatikan.
Menjaga rutinitas.
Menciptakan ruang yang aman.
Dan mengetahui kapan seorang anak membutuhkan bantuan profesional.

Baca Juga :  Lurah Baru Kecamatan Reok Sambangi 344 KK Terdampak Gempa untuk Distribusikan Bantuan

Stephen M. Southwick dan Dennis S. Charney dalam Resilience: The Science of Mastering Life’s Greatest Challenges menekankan pentingnya dukungan sosial, hubungan dengan orang lain, fleksibilitas, serta kemampuan menemukan makna dalam menghadapi kesulitan.

Karena itu, pemulihan tidak dapat dibebankan kepada satu orang.
Guru membutuhkan kepala sekolah.

Kepala sekolah membutuhkan yayasan dan pemerintah.
Sekolah membutuhkan keluarga.
Keluarga membutuhkan masyarakat.

Dan seluruh komunitas membutuhkan jejaring dukungan.
Sekolah pascabencana membutuhkan komunitas, bukan sekadar program.

Pendidikan harus melihat anak sebagai manusia

Di sinilah kita perlu kembali kepada hakikat pendidikan.

Anak bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Ia bukan hanya nilai rapor dan hasil ujian. Ia adalah manusia yang membawa pengalaman, emosi, ketakutan, harapan, dan relasi sosialnya ke dalam kelas.

Muhibbin Syah dalam Psikologi Pendidikan menempatkan perkembangan peserta didik dalam keseluruhan proses pendidikan. Proses belajar tidak berlangsung dalam ruang hampa.

Kondisi emosional dan lingkungan turut memengaruhi kesiapan anak untuk belajar.

Karena itu, setelah gempa, guru mungkin perlu mengubah pertanyaannya.

Bukan hanya:
“Sudah mengerjakan tugas?”
Tetapi juga:
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
Bukan hanya:
“Sudah membaca?”
Tetapi:
“Apakah kamu merasa cukup aman untuk belajar?”

Pertanyaan sederhana itu bukan berarti menurunkan standar pendidikan.

Justru sebaliknya.

Itulah pendidikan yang melihat manusia secara utuh.

E. Mulyasa dalam Menjadi Guru Profesional juga menempatkan guru dalam peran yang luas: bukan hanya mengajar, tetapi mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan membantu perkembangan peserta didik.

Dalam situasi pascabencana, peran tersebut memperoleh makna yang semakin nyata.

Guru bukan hanya mengembalikan pelajaran.

Guru membantu mengembalikan keberanian anak untuk belajar.
Siapa yang memulihkan para pemulih?

Ada satu pertanyaan yang menurut saya tidak boleh kita lewatkan:

Siapa yang memulihkan para pemulih?

Guru diminta menguatkan anak.
Tetapi siapa yang menguatkan guru?
Guru diminta membuat anak merasa aman.

Tetapi siapa yang membantu guru memperoleh kembali rasa amannya?
Guru diminta tersenyum kepada anak.

Tetapi siapa yang bertanya apakah guru itu sendiri sedang baik-baik saja?

Pertanyaan ini bukan sentimentalitas. Ini bagian penting dari strategi pemulihan.

Guru yang mengalami kelelahan berkepanjangan dapat kehilangan energi, kesabaran, dan kemampuan untuk hadir secara utuh. Karena itu, dukungan terhadap guru harus menjadi bagian integral dari pemulihan sekolah.

Guru perlu mempunyai ruang untuk berbicara.
Mereka perlu didengarkan.
Mereka perlu diberi kesempatan untuk beristirahat.
Mereka perlu mendapatkan pendampingan apabila membutuhkannya.

Dan yang paling sederhana: mereka perlu tahu bahwa masyarakat melihat pengabdian mereka.

Kita tidak boleh menjadikan guru sebagai “pahlawan” yang seolah-olah tidak boleh lelah.

Guru boleh takut. Guru boleh menangis. Guru boleh membutuhkan pertolongan.

Justru dengan mengakui kemanusiaan guru, kita membantu mereka kembali hadir secara utuh bagi anak-anak.

Dari sekolah yang rusak menjadi sekolah yang belajar

Gempa juga memberikan kesempatan bagi sekolah untuk melakukan refleksi.
Bukan hanya: kapan gedung ini dibangun kembali?
Tetapi:
Sekolah seperti apa yang ingin kita bangun kembali?
Bangunan tentu harus lebih aman.

Tetapi budaya sekolah juga harus lebih tangguh.

Michael Ungar dalam The Social Ecology of Resilience menekankan bahwa ketangguhan tidak hanya berada di dalam diri seseorang. Lingkungan sosial, hubungan, akses terhadap sumber daya, kesempatan, dan rasa memiliki ikut menentukan kemampuan seseorang untuk bangkit.

Artinya, anak tidak dapat diminta menjadi tangguh sementara lingkungan di sekitarnya tidak siap.

Sekolah tangguh bencana harus memiliki budaya kesiapsiagaan.
Anak tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Guru memahami prosedur evakuasi.

Kepala sekolah mempunyai mekanisme komunikasi darurat.

Baca Juga :  78 Tahun Indonesia Merdeka: Sejarah dan Redefenisi Makna Kemerdekaan

Orang tua memahami jalur informasi.
Sekolah mempunyai pemetaan risiko.
Latihan evakuasi bukan lagi kegiatan seremonial.

Pendidikan kebencanaan tidak hanya diberikan setelah bencana terjadi.
Ia harus menjadi bagian dari budaya sekolah.

Dengan demikian, pengalaman pahit tidak berhenti sebagai trauma. Ia dapat berubah menjadi pengetahuan yang menyelamatkan kehidupan.

Guru sebagai pusat pemulihan komunitas

Karena itu, guru harus ditempatkan lebih dari sekadar pelaksana kegiatan belajar mengajar.

Guru adalah salah satu simpul utama pemulihan komunitas.
Ia berada paling dekat dengan anak.
Ia mengenal keluarga.
Ia mengetahui perubahan perilaku murid.

Ia melihat siapa yang mulai kembali ceria dan siapa yang masih diam.
Ia tahu anak yang biasanya aktif tetapi kini memilih menyendiri.

Ia dapat menjadi orang pertama yang menyadari bahwa seorang anak membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Tetapi untuk menjalankan peran itu, guru sendiri harus didukung.
Pemulihan sekolah harus mencakup pemulihan guru.

Bantuan kepada sekolah tidak boleh hanya berupa semen, seng, meja, kursi, buku, dan perangkat pembelajaran. Semua itu penting.

Tetapi ada kebutuhan lain yang tidak selalu terlihat:
rasa dihargai, rasa aman, ruang untuk berbicara, dan dukungan bagi guru yang juga penyintas.

Di situlah solidaritas pascabencana menemukan maknanya.

Membangun komunitas sekolah tangguh

Sekolah tangguh bencana akhirnya bukan hanya sekolah yang mempunyai gedung tahan gempa.

Sekolah tangguh adalah sekolah yang mempunyai manusia-manusia yang siap menghadapi risiko, saling menjaga, dan mampu bangkit bersama.

Karena itu, pemulihan sekolah pascagempa Flores setidaknya perlu bergerak dalam lima arah: memulihkan rasa aman, memperkuat kapasitas guru, memberikan dukungan kepada guru sebagai penyintas, membangun budaya kesiapsiagaan, dan memperkuat jejaring sekolah dengan keluarga, pemerintah, Gereja, tenaga profesional, serta masyarakat.

Sekolah dapat menjadi pusat pemulihan komunitas.

Guru menjadi penghubung.

Orang tua menjadi mitra.

Anak menjadi pembelajar sekaligus bagian dari proses kebangkitan.

Dan masyarakat menjadi lingkungan yang menjaga semuanya.

Sebab bangunan yang kuat tanpa komunitas yang kuat tetap menyimpan kerentanan.

Sebaliknya, komunitas yang kuat dapat membantu manusia bangkit bahkan ketika bangunan belum sepenuhnya berdiri kembali.

Ketika bumi berguncang, jangan biarkan harapan ikut runtuh

Anak yang belajar di tenda hari ini bukan anak yang kehilangan masa depan.

Guru yang mengajar di tengah keterbatasan bukan guru yang gagal.
Sekolah yang bangunannya retak bukan berarti pendidikannya telah runtuh.
Ada sesuatu yang lebih kuat daripada tembok: relasi.

Ada sesuatu yang lebih tahan lama daripada bangunan: harapan.

Dan ada sesuatu yang dapat membuat sekolah kembali hidup setelah bencana:
kehadiran manusia yang memilih untuk tetap tinggal dan berjalan bersama.

Karena itu, setelah gempa Flores, kita tidak cukup hanya membangun kembali gedung sekolah.

Kita harus membangun kembali rasa aman.

Kita harus memulihkan para guru yang juga penyintas.

Kita harus menumbuhkan budaya kesiapsiagaan.

Dan kita harus membangun komunitas sekolah yang tangguh menghadapi risiko bencana.

Sebab guru bukan sekadar orang yang kembali mengajar setelah gempa.

Guru adalah orang yang membantu anak kembali percaya bahwa dunia masih dapat menjadi tempat yang aman.

Ia mengajak anak kembali duduk.
Membuka buku.
Bertanya.
Tertawa.
Bermain.
Dan bermimpi.

Mungkin hari ini mereka belajar di bawah tenda.

Tetapi dari tenda itulah sebuah generasi sedang belajar pelajaran yang tidak tertulis dalam buku: ketika bumi berguncang, manusia tidak harus ikut runtuh.

Manusia dapat saling menggenggam.
Saling menguatkan.
Saling menjaga.

Dan bersama-sama membangun kembali masa depan. Di situlah guru bukan hanya pengajar. Guru adalah agen pemulihan. *

*) Romo Drs. Patrick Josaphat Dharsam Guru. MA. Master Psikologi Konseling Universitas Santo Tomas Manila. Kursus Psikospiritual di EAPI Ateneo de Manila University.

Berita Terkait

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Berita ini 107 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 September 2026 - 18:35 WITA

Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Minggu, 13 September 2026 - 17:01 WITA

Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:47 WITA

Nusa Bunga

Jokowi Besok Berkunjung ke Palue

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:26 WITA