Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain - FloresPos Net - Page 5

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam perspektif kepemimpinan transformasional, pemimpin tidak hanya mengarahkan tindakan anggota, tetapi juga menggerakkan mereka untuk melampaui kepentingan individual dan menghayati tujuan bersama secara lebih mendalam (Bernard M. Bass, Leadership and Performance Beyond Expectations, 1985.

Di sinilah pemimpin dituntut memiliki kecerdasan yang melampaui kecerdasan akademik, yakni kecerdasan relasional. Pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling tahu. Ia perlu memiliki kemampuan untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan perspektif yang berbeda sehingga dapat berkembang menjadi kebijaksanaan bersama.

Baca Juga :  ETMC XXXIV 2025: Sport and Culture di Ende, Kota Pancasila

Dalam konteks ini, pengalaman kepemimpinan di seminari memiliki nilai intelektual sekaligus spiritual. Para frater tidak hanya belajar membaca buku, teks filsafat, atau dokumen Gereja, tetapi juga belajar membaca manusia.

Membaca manusia sering kali jauh lebih sulit daripada membaca buku, sebab manusia tidak hadir sebagai teks yang selesai, tetapi\\\ sebagai pribadi yang terus bertumbuh, berubah, dan menyimpan kedalaman yang tidak selalu segera tampak.

Baca Juga :  Api di Dapur Rakyat, SDM Otoritas dan Kemandirian Bangsa

Jabatan sebagai Salib Kecil

Jika kepemimpinan adalah persembahan diri, maka pengorbanan bukan efek samping kepemimpinan. Pengorbanan adalah bagian dari hakikatnya.

Setiap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, menuntut kesediaan untuk mengurangi kepentingan pribadi, menyediakan waktu, menerima beban bersama, dan mengambil tanggung jawab atas kebutuhan komunitas.

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Berita Terbaru