Dalam perspektif kepemimpinan transformasional, pemimpin tidak hanya mengarahkan tindakan anggota, tetapi juga menggerakkan mereka untuk melampaui kepentingan individual dan menghayati tujuan bersama secara lebih mendalam (Bernard M. Bass, Leadership and Performance Beyond Expectations, 1985.
Di sinilah pemimpin dituntut memiliki kecerdasan yang melampaui kecerdasan akademik, yakni kecerdasan relasional. Pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling tahu. Ia perlu memiliki kemampuan untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan perspektif yang berbeda sehingga dapat berkembang menjadi kebijaksanaan bersama.
Dalam konteks ini, pengalaman kepemimpinan di seminari memiliki nilai intelektual sekaligus spiritual. Para frater tidak hanya belajar membaca buku, teks filsafat, atau dokumen Gereja, tetapi juga belajar membaca manusia.
Membaca manusia sering kali jauh lebih sulit daripada membaca buku, sebab manusia tidak hadir sebagai teks yang selesai, tetapi\\\ sebagai pribadi yang terus bertumbuh, berubah, dan menyimpan kedalaman yang tidak selalu segera tampak.
Jabatan sebagai Salib Kecil
Jika kepemimpinan adalah persembahan diri, maka pengorbanan bukan efek samping kepemimpinan. Pengorbanan adalah bagian dari hakikatnya.
Setiap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, menuntut kesediaan untuk mengurangi kepentingan pribadi, menyediakan waktu, menerima beban bersama, dan mengambil tanggung jawab atas kebutuhan komunitas.










