Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata - FloresPos Net

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Walburgus Abulat

LAGU Panggung Sandiwara pernah menguasai blantika musik nusantara era delapan puluhan dan sembilan puluhan. Lagu ini diciptakan oleh penyair Taufik Ismail (lirik) dan Ian Antono (Musiknya) pada tahun 1977. Lagu ini kemudian dirilis tahun 1978 dalam album jalur suara (soundtrack) film Duo Kribo.

Lagu ini semakin mendunia setelah dipopulerkan oleh Ahmad Albar (God Bless) dan dilanjutkan oleh Nicky Astria pada tahun 1989.

Lagu di atas semakin merasuk ke dalam hati anak negeri, tatkala pada tahun 1999 dipentaskan serial berjudul Panggung Sandiwara.

Panggung Sandiri menjadi seri televisi Indonesia tahun 1999 produksi Persari Film yang ditayangkan perdana 16 Januari 1999 di SCTV. Serial ini dibintangi oleh Billy Boedjanger, Yuni Sulistyowati, Camelia Malik, dkk. Lagu tema pembuka seri ini bertajuk Panggung sandiwara (Ahmad Albar).

Lagu Panggung Sandiri memiliki lirik yang mewarisi aneka pesan:

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar
Dan ada peran berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran bercinta bikin bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Fatamorgana Kekuasaan, Kekayaan dan Keangkuhan

Di tengah nostalgia lagu Panggung Sandiwara di atas, pikiranku terus bergulir pada fenomena lainnya yang dipertontonkan para pihak yang lagi berkuasa di planet bumi ini, baik secara nasional/regional, maupun secara global/mondial. Para pihak yang berkuasa sedang mempertontonkan sandiwara kekuasaan, kekayaan, kehormatan dan keangkuhan.

Untuk memaknai fenomena ini, saya teringat bagaimana para pemikir dunia melahirkan pelbagai dinamika keilmuan mereka untuk memaknai kekuasaan, kekayaan, kehormatan dan keangkuhan.

Pemikir terkemuka yang secara eksplisit melontarkan pendapat mengenai hubungan antara kekayaan, kehormatan dan keangkuhan adalah Filsuf besar Jerman Immanuel Kant.

Dalam salah satu karya etikanya yang paling berpengaruh bertajuk Groundwork of the Methaphysics of Moral, Kant menjelaskan bahwa hal-hal duniawi seperti kekuasaan, kekayaan dan kehormatan yang sering kali dianggap sebagai komponen kebahagiaan memiliki sisi berbahaya.

Menurut Kant semua karunia keberuntungan tersebut dapat menimbulkan kesombongan dan sering kali keangkuhan (arrogance), kecuali jika orang tersebut memiliki kehendak baik (good will) yang mengendalikan pikiran yang mendasari/melandasi tindakannya.

Selain Kant, ada beberapa perspektif pemikir lain yang membahas konsep kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan/keangkuhan di atas.

Baca Juga :  Ketika "Kartini" Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Filsuf Yunani Aristoteles dalam kitab Nicomachean Ethics mengaitkan kekayaan dan kehormatan dengan karakter manusia. Menurut Aristoteles orang yang memperoleh kehormatan dan kekayaan tanpa memiliki keutamaan moral cenderung menjadi sombong, angkuh dan memandang rendah orang lain.

Sementara Thomas Hobbes (Pemikir Inggris yang hidup dari 5 April 1588 hingga 4 Desember 1679) dalam bukunya Leviathan menulis bahwa persaingan demi meraih kekayaan, kehormatan dan kekuasaan adalah pemicu utama perselisihan dan perang.

Hobbes mendefenisikan salah satu hukum alam yang dilanggar manusia sebagai keangkuhan (pride) yaitu ketika seorang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain karena kepemilikan materi tersebut.

Selain empat pemikiran di atas, juga pemikir rasionalis kelahiran Amsterdam Belanda Baruch Spinoza. Spinoza menyoroti kekayaan dan kehormatan sebagai hal semu yang sering mengecoh manusia dan menumbuhkan keangkuhan sehingga ia memilih untuk berpaling darinya demi mencari pengetahuan sejati.

Hegemoni Negara dan Dominasi Kekuasaan

Di tengah nostalgia lagu Panggung Sandiwara di atas dan fatamorgana kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan/keangkuhan yang digagas para pemikir di atas, pikiranku terus bergulir pada pertanyaan ini adakah hegemoni negara dan hegemoni kekuasaan sedang dipentaskan dan dipertontonkan para pihak yang lagi berkuasa di planet bumi ini, baik secara nasional/regional, maupun secara global/mondial?

Pertanyaan ini tentu menuntut kejujuran kita untuk menjawab.Jawaban tidak harus dilitanikan dalam tulisan ini.
Seraya hendak menjawab pertanyaan di atas tentu kita disuguhkan pada fenomena bagaimana hegemoni negara dan hegemoni kekuasaan sedang marak dipentaskan di panggung planet ini.

Beberapa fenomena global kita bisa dilihat bagaimana momen perang antarnegara. Di antaranya perang antara Rusia vs Ukraina, Iran vs Amerika Serikat dan Israel, Israel vs Palestina dan beberapa negara Timur Tengah; dan perang antara negara lainnya.

Dari aneka perang antara negara di atas menampakkan beberapa sikap saling menyerang dari dua negara bertikai dengan memperlihatkan sikap otoriter, memamerkan aneka kecanggihan peralatan perang baik perang jalur darat, laut dan udara, maupun mengandalkan teknologi canggih dan senjata modern seperti drone tempur dan kendaraan otonom, rudal hipersonik, sistem senjata laser, dan perang balistik modern lainnya.

Dalam kondisi perang ini negara-negara bertikai mempertontonkan kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan/keangkuhan di atas nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keharmonisan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam kontek nasional kita bisa lihat bagaimana fatamorgana praktik kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan yang dipentaskan di panggung bangsa ini. Di antaranya adanya hegemoni kekuasaan dan otoriter kepemimpinan.

Ada peran asal bapak senang (ABS) dan peran memanipulasi kekuasaan sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan, korupsi tetap merajalela, dan para pejuang keadilan dan kebenaran dinonjobkan dengan aneka alasan yang bisa disandiwarakan dan diperankan oleh para pemeran berpura-pura.

Baca Juga :  Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan 'Rumah Sejati' dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Kita bisa menyebut beberapa anak negeri yang oleh kecintaan akan panggilan tugasnya berupaya maksimal untuk membongkar mafia korupsi yang terstruktur baik di negeri ini.

Bagaimana mafia peradilan yang terkesan berjalan, namun yang sesungguhnya, ada skenario untuk menganakemaskan koruptor kakap melalui sandiwara keadilan yang diskenariokan oleh sutradara yang berwewenang.

Di balik fenomena ini tak salah kita melantunkan bersama lagu Panggung Sandiriwara dan mengulangi lirik tertentu Mengapa kita bersandiwara-Mengapa kita bersandiwara-Mengapa kita bersandiwara.

Praktik-praktik ini menyata dalam aneka fenomena sosial dan pemerintahan yang ditandai korupsi yang merajalela, keadaan ekonomi yang didominasi oleh segelintir orang, ketidakadilan di mana-mana, menjamurnya praktik-praktik pelanggaran HAM, fenomena kemiskinan yang terus melilit rakyat kebanyakan, dan beberapa fenomena sosial lainnya.

Kisah benturan seperti di atas nampak sebagai suatu sandiwara besar, yang episodenya selalu dipentaskan dalam setiap dekade sejarah bangsa ini. Kisahnya tentu sangat tidak menarik lagi dan sangat boleh jadi kita semua bosan padanya.

Karena sudah bukan rahasia lagi bahwasanya setiap perjuangan yang berlandaskan kebenaran dan keadilan mengandung suatu permainan dari pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya.

Aksi Berkeadilan Nyata

Pelbagai fenomena panggung sandiwara, dan hegemoni kekuasaan di atas mestinya memotivasi elemen bangsa ini apa pun suku, ras, agama dan golongannya untuk bangkit beraksi mewujudkan berkeadilan nyata dalam keseharian kehidupan berbangsa dan bernegara.

Suatu actus berkeadilan secara nyata dengan menggeser fokus dari sekadar janji politik atau aturan hukum formal menuju implementasi lapangan yang inklusif di mana hak-hak kelompok rentan benar-benar terlindungi dan pelanggaran yang terjadi ditindak secara objektif.

Dalam konteks tugas ini, kita berkomitmen menghentikan segala rekayasa, segala sikap manipulasi, dan segala praktik tak terpuji asal bapak senang (ABS), hentikan penyalahgunaan wewenang dan kekuasan untuk mengebiri keadilan atau memenjara sesama elemen bangsa yang memiliki niat baik untuk membawa perubahan dari sekadar bermain di atas panggung sandiwara dan hegemoni kekuasaan menuju aksi berkeadilan nyata dengan komitmen menegakkan kebenaran dan keadilan, membongkar mafia peradilan, dan memproses para koruptor dan kroni-kroninya yang nyaman bertualang meraup keuntungan diri dan keluarganya.

Dalam konteks ini, kita semua diajak berziarah dari panggung sandiwara dan panggung hegemoni kekuasaan (baca: ketamakan kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan/keangkuhan) menuju aksi berkeadilan nyata dalam keseharian kita, apa pun profesi kita. Bersama kita bisa.*

Penulis adalah Jurnalis, dan Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 124 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Berita Terbaru