Karena itu, keberhasilan kepemimpinan tidak terutama diukur dari besarnya kewenangan, melainkan dari kemampuan menghadirkan tanggung jawab, keteladanan, dialog, dan pelayanan.
Jabatan menjadi ruang untuk menguji kedewasaan, mengolah keterbatasan, serta mengembangkan kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Dengan demikian, memimpin dalam formasi imamat bukan sekadar belajar mengarahkan orang lain, tetapi juga belajar membentuk diri melalui tanggung jawab atas yang lain. Kepemimpinan menjadi jalan pelayanan, dan pelayanan menjadi jalan pembentukan diri. *










