Pandangan Gereja Terhadap Perbedaan Agama Dalam Terang Nostra Aetate - FloresPos Net

Pandangan Gereja Terhadap Perbedaan Agama Dalam Terang Nostra Aetate

- Jurnalis

Selasa, 17 Oktober 2023 - 07:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Alifandi Syukur

DI MUKA bumi ini, terdapat tidak hanya satu agama, tetapi banyak agama. Masing-masing agama bahkan cenderung menegaskan dirinya sebagai unik dan universal. Klaim diri seperti ini jelas melahirkan tantangan bagi perjumpaan agama-agama di dalam masyarakat.

Tetapi dalam Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II (1962-1965) merubah secara mendasar sikapnya terhadap kaum bukan Kristen, dari ajaran Extra Eklesia Nulla Salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) kepada ajaran yang lebih memberikan sikap positif terhadap agama bukan Kristen.

Dari dokumen ini, Gereja Katolik menemukan bahwa Gereja Katolik sungguh menyadari dirinya hanya sebagai salah satu agama dari sekian banyak agama di muka bumi ini.

Sebagai umat Katolik, menghormati dan menghargai martabat setiap orang, termasuk dalam hal kebebasan beragama menjadi sangat penting.

Kitab Suci mengajarkan pentingnya kasih dan penghormatan terhadap sesame manusia. Dalam injil Matius, Yesus mengajarkan untuk “Mengasihi sesamamu mumanusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Hal ini berarti umat Katolik diajarkan untuk harus menghormati dan menghargai orang lain, termasuk dalam hal keyakinan agam-agama lain. Menghargai orang yang berkeyakinan lain berarti mengakui mereka untuk memiliki keyakinan dan praktik keagamaan yang berbeda.

Baca Juga :  Gerakan Buruh dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Sebagai umat Kristiani harus menghindari sikap intoleransi, diskriminasi atau pengekangan terhadap kebebasan beragama orang lain.

Sebagai umat Kristiani, diajarkan untuk berdialog dengan orang-orang dari agama lain dengan sikap saling menghormati dan saling mendengarkan.

Masyarakat Indonesia padaumumnya memiliki sikap dialog antar agama dalam berinteraksi, karena latarbelakang sejarah yang memiliki perbedaan agama telah membentuk sikap tersebut hidup dan berkembang sampai saat ini.

Untuk menjamin perbedaan agama tersebut, Negara melalui UUD 1945, pasal 29 memberikan kebebasan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat sesuai dengan kepercayaannya.

Saat ini Negara menyatakan enam (6) agama secara resmi di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Kepercayaan setiap warga kemudian dinyatakan dalam Lima Sila Pancasila yang mengarahkan sikap setiap orang untuk bertingkah laku.

Untuk hidup harmonis antar warga Negara yang memiliki kepercayaan yang berbeda, berabagai usaha dilakukan dan sudah salah satu bentuk adalah dengan penggalangan keberlangsungan dialog antar agama.

Harapannya adalah kerukunan antar agama tersebut. Kerukunan hidup antar agama adalah suatu kondisi dimana masyarakat dapat hidup secara damai, saling menghargai dan bekerjasama untuk mencapai tujuan dalam berbagai perbedaan.

Baca Juga :  Paham Sosialisme dalam Terang Rerum Novarum

Dalam menciptakan kerukunan hidup antar agama, penting untuk memperhatikan nilai-nilai universal seperti keadilan, kejujuran dan persamaan dalam hak dan kewajiban.

Dengan memperhatikan nilai-nilai ini, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan damai, dimana setiap orang dapat hidup dengan aman dan sejahtera, tanpa memandang perbedaan agama atau kepercayaan.

Gereja Katolik telah berusaha untuk menunjukan sikap toleransi dengan Umat yang beragama lain. Gereja sungguh mengakui kebenaran-kebenaran yang ada dalam agama lain, yang atas salah satu cara menghantar Umat manusia untuk menemukan Allah. Atas dasar ini, deklarasi Nostra Aetate diterbitkan.

Pada hakekatnya Ensiklik Nostra Aetate yang dideklarasikan oleh Gereja Katolik 50 tahun yang lalu, bukanlah sekadar memandang positif hubungan dengan agama-agama non Kristiani.

Tetapi lebih dari itu, yakni ingin menegaskan bahwa Gereja Katolik, menerima setiap pribadi insan manusia apa adanya sebagai konsekuensi logis dari prinsip bahwa semua bangsa merupakan satu komunitas dan satu asal usul yang sama. *

Penulis: Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Berita ini 649 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Berita Terbaru