Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Elite - FloresPos Net

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Elite

- Jurnalis

Rabu, 24 September 2025 - 13:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aventus Purnama Dep

Aventus Purnama Dep

Oleh: Aventus Purnama Dep

DI TENGAH situasi ekonomi yang kian sulit, kabar kenaikan gaji anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terdengar seperti ironi yang menyesakkan.

Rakyat harus mengencangkan ikat pinggang demi kebutuhan sehari-hari, sementara para elite politik justru menambah kenyamanan hidup mereka.

Kontras ini bukan sekadar soal angka dalam anggaran negara, melainkan potret nyata ketidakadilan: rakyat membayar, elite menikmati.

Kesenjangan tersebut makin jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Harga beras, minyak goreng, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lain terus naik, tetapi pendapatan mayoritas masyarakat stagnan.

Buruh dengan upah minimum makin sulit mengatur penghasilan, petani kecil terjebak harga jual rendah, dan pelaku usaha mikro berjuang menghadapi biaya produksi yang tinggi. Di tengah kondisi ini, kursi empuk di parlemen justru makin dilapisi kenyamanan dengan tambahan gaji dan tunjangan.

Baca Juga :  Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)

Kenaikan gaji DPR tidak dapat dipisahkan dari kecenderungan negara yang sering lebih berpihak kepada segelintir pemegang kekuasaan. Setiap rupiah yang digunakan untuk menambah fasilitas elite berarti mengurangi alokasi dana yang seharusnya bisa memperbaiki pendidikan, kesehatan, subsidi pangan, atau dukungan bagi usaha kecil.

Dengan kata lain, masyarakat menanggung biaya kesempatan yang besar ketika negara memilih kenyamanan elite dibanding kebutuhan mendesak rakyat.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Sosial Dalam Terang Evangelii Nutiandi

Pada akhirnya, rakyatlah yang membayar. Pajak yang dipungut dari penghasilan mereka mengalir untuk menambah tunjangan, sementara inflasi membuat harga barang makin tinggi. Anggaran untuk layanan publik pun tergerus.

Sekolah di desa kekurangan fasilitas, rumah sakit di daerah kekurangan tenaga medis dan peralatan, jalan rusak dibiarkan, sementara gedung parlemen makin megah dengan berbagai fasilitas tambahan.

Kebijakan ini memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Rakyat melihat bahwa wakil yang seharusnya memperjuangkan kepentingan mereka justru sibuk mengurus kesejahteraan pribadi. Padahal, gaji dan tunjangan yang mereka nikmati berasal dari mandat rakyat.

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung
Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Berita ini 197 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:58 WITA

Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan

Berita Terbaru