Abu Snan, Sekolah Kita, dan Ikhtiar Menyalakan Nurani - FloresPos Net

Abu Snan, Sekolah Kita, dan Ikhtiar Menyalakan Nurani

- Jurnalis

Sabtu, 19 Juli 2025 - 18:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus DW Atasoge

Anselmus DW Atasoge

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

SEKOLAH Abu Snan adalah sebuah lembaga pendidikan negeri yang terletak di kota kecil Abu Snan, wilayah Galilea Barat, Israel.

Kota ini sendiri merupakan simbol keberagaman sosial, dihuni oleh tiga komunitas utama—Druze, Muslim, dan Kristen—yang hidup berdampingan dalam keseharian masyarakat.

Sekolah ini berdiri di tengah realitas politik dan sosial yang kompleks, namun justru memilih jalur pendidikan sebagai alat membangun koeksistensi yang damai.

Dipimpin oleh kepala sekolah bernama Sulaiman, seorang tokoh dari komunitas Druze, Sekolah Abu Snan menerapkan pendekatan yang unik dan inklusif dalam kurikulumnya.

Komposisi muridnya mencerminkan demografi kota: mayoritas Muslim, diikuti oleh Druze, dan sebagian kecil dari komunitas Kristen.

Baca Juga :  Soal Ranperda Tramtibum di Ende, Pemda Seharusnya Mengatur, Bukan Melarang

Alih-alih membiarkan perbedaan menjadi sumber sekat, sekolah ini menyusun kurikulum yang berpijak pada kekuatan budaya dan spiritual masing-masing komunitas. Setiap anak diajak bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk mengenali dan menghargai perspektif yang berbeda.

Kurikulum yang diterapkan bersifat multi-faceted, menggabungkan nilai-nilai universal seperti cinta, hormat, dan toleransi melalui kisah-kisah dari setiap tradisi agama.

Interaksi harian antara guru dan murid bukan hanya tentang pengetahuan akademik, tetapi juga tentang membangun relasi yang sehat, terbuka, dan antikonflik. Dengan semboyan “We are one family,” Abu Snan menanamkan gagasan bahwa sekolah harus menjadi rumah kebersamaan, bukan hanya tempat belajar.

Baca Juga :  Catatan ETMC XXXIV Ende, Sepakbola Amatir NTT: Masih Bolehkah Kami Bermimpi?

Dalam praktiknya, pendekatan ini terbukti efektif: siswa menunjukkan kemampuan berinteraksi lintas identitas dengan penuh empati dan saling menjaga. Tak heran, sekolah ini beberapa kali meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Israel sebagai representasi pendidikan yang membangun peradaban damai.

Di tengah lanskap pendidikan yang terus berkembang, Indonesia kini melangkah ke arah yang lebih reflektif dan manusiawi. Melalui gagasan Kurikulum Deep Learning yang diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, pembelajaran tak lagi hanya mengejar penguasaan materi, tetapi juga merawat sisi batin siswa.

Berita Terkait

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Berita ini 155 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Berita Terbaru

Opini

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA