Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Elite - FloresPos Net - Page 2

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Elite

- Jurnalis

Rabu, 24 September 2025 - 13:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aventus Purnama Dep

Aventus Purnama Dep

Tanpa kinerja yang sepadan, kenaikan gaji hanya menambah jarak sosial sekaligus mempertegas kesan bahwa DPR makin jauh dari fungsinya.

Ironi makin terasa ketika dibandingkan dengan kondisi nyata masyarakat. Buruh di kota besar bekerja lebih dari delapan jam sehari untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan gaji yang bahkan tidak mencukupi kebutuhan dasar.

Petani harus menjual hasil panen dengan harga rendah karena dikuasai tengkulak. Pedagang kecil berjuang menutup biaya sewa, listrik, dan kebutuhan lainnya yang terus meningkat. Semua ini terjadi di saat para wakil rakyat menambah penghasilan resmi mereka, di luar fasilitas yang sudah berlebih.

Lebih dari sekadar nominal, kebijakan kenaikan gaji DPR mengirimkan pesan keliru tentang arah pembangunan. Di satu sisi pemerintah menyerukan efisiensi dan penghematan, namun di sisi lain lembaga legislatif justru menambah fasilitas untuk dirinya sendiri.

Baca Juga :  Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Kontradiksi ini melukai rasa keadilan publik dan menimbulkan pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya kebijakan negara dibuat?  Jika jawabannya adalah demi kenyamanan segelintir elite, maka demokrasi kehilangan maknanya.

Untuk memperbaiki keadaan, negara harus menata ulang prioritas anggarannya. Dana publik seharusnya diarahkan untuk kepentingan masyarakat luas: layanan kesehatan yang terjangkau, pendidikan berkualitas, infrastruktur dasar yang memadai, serta dukungan nyata bagi usaha kecil dan menengah. Keberhasilan pembangunan mestinya diukur dari meningkatnya kesejahteraan rakyat, bukan dari bertambahnya kenyamanan elite politik.

Baca Juga :  Paradoks Pembangunan Pesisir: Menakar Kesiapan Substantif Kampung Nelayan Merah Putih di Bumi Nian Sikka

Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: sampai kapan rakyat harus terus membayar demi elite? Demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur pemilu lima tahunan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata berupa keadilan sosial dan kesejahteraan publik.

Sudah saatnya arah pembangunan negara ini ditata ulang. Rakyat bukanlah dompet berjalan yang digunakan untuk menopang gaya hidup segelintir orang di kursi kekuasaan.

Sebaliknya, elitlah yang seharusnya bekerja keras, berkorban, dan mengabdi kepada rakyat. Tanpa perubahan orientasi ini, jurang ketidakpercayaan akan makin lebar, dan demokrasi yang diperjuangkan hanya akan tinggal nama.*

Penulis Adalah, Mahasiswa Magister Institut Pertanian Bogor

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Berita ini 204 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Berita Terbaru

Feature

Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)

Minggu, 25 Okt 2026 - 16:48 WITA