“Janji Palsu di Tanah Suci” - FloresPos Net

“Janji Palsu di Tanah Suci”

- Jurnalis

Senin, 22 September 2025 - 11:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

PADA Minggu, 21 September 2025, panggung Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende berubah menjadi altar kesadaran ekologis. Dalam rangka dies natalis lembaga bernuansa keagamaan ini, enam naskah fragmen dipentaskan dengan tema besar: keselamatan ekologis.

Di antara deretan karya yang tampil, satu fragmen mencuri perhatian saya sebagai penonton. Sebuah pertunjukan yang disutradarai oleh mahasiswa bernama Kristoforus Wode. Naskah yang ia tulis sendiri diberi judul penuh makna: Tanah yang Diberkati.

Fragmen “Tanah yang Diberkati” tidak sekadar berfungsi sebagai karya seni panggung, melainkan sebagai refleksi kritis terhadap realitas ekologis dan sosial yang tengah berlangsung di Flores.

Melalui narasi visual dan dialog dramatik, fragmen ini membuka dengan representasi desa yang hidup dalam keterpaduan ekologis (tanah yang subur, sungai yang jernih, dan hutan yang rimbun menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam).

Baca Juga :  Invest-ASI Ibu di Era Milenial

Kehidupan masyarakat digambarkan sebagai bentuk relasi spiritual dengan lingkungan, di mana alam dipandang sebagai titipan ilahi yang harus dijaga dan dihormati.

Dalam konteks Flores, relasi ini bukan hanya bersifat ekologis, tetapi juga kultural dan teologis, sebagaimana terlihat dalam praktik-praktik adat seperti ritual di ‘Dapur Alam’ yang menjadikan alam sebagai ruang sakral.

Secara antropologis, fragmen ini mengangkat dimensi ekokultural masyarakat Flores yang menjadikan alam sebagai bagian integral dari identitas kolektif. Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek relasional yang mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial.

Baca Juga :  Putusan MK Atas Perkara No. 90/PUU-XXI/2023 Tidak Sah Harus Disidang Kembali

Dengan demikian, fragmen ini menyuarakan kritik terhadap paradigma pembangunan yang mengabaikan partisipasi lokal dan mereduksi alam menjadi komoditas.

Dalam kerangka ekoteologi dan ekokritik, karya ini menjadi medium yang menggugah kesadaran ekologis melalui estetika dramatik, sekaligus memperkuat narasi perlawanan terhadap proyek-proyek ekstraktif yang berpotensi merusak tatanan ekologis dan budaya masyarakat lokal.

Fragmen karya Risno Wode secara tajam mengilustrasikan dinamika konflik antara kepentingan pembangunan dan suara masyarakat lokal. Melalui narasi dramatik, ia menunjukkan bagaimana kedamaian ekologis dan sosial mulai terguncang ketika utusan perusahaan tambang datang membawa janji pembangunan yang dibalut dengan iming-iming kemakmuran.

Berita Terkait

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Berita ini 229 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:37 WITA

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:41 WITA

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:45 WITA

Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Tim URC Burung Hantu Polres Ende Ungkap 7 Kasus Kejahatan

Rabu, 3 Jun 2026 - 16:02 WITA

Nusa Bunga

Delapan Sanggar di Ende Ikut Lomba Naro Memperebutkan Piala Bupati

Selasa, 2 Jun 2026 - 20:28 WITA