Kepala desa, sebagai simbol otoritas lokal, tergoda oleh kilau instan yang ditawarkan, sementara suara peringatan dari sekretaris desa dan warga yang peduli justru terpinggirkan.
Representasi ini mencerminkan pola umum dalam proyek-proyek ekstraktif seperti geothermal di Flores, di mana pendekatan pembangunan dilakukan secara top-down, minim partisipasi, dan sering kali mengabaikan aspirasi serta hak-hak masyarakat adat.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, fragmen ini menyuarakan kritik terhadap model intervensi yang tidak demokratis dan berisiko menciptakan ketimpangan ekologis maupun sosial.
Proyek geothermal yang diklaim sebagai solusi energi bersih justru menjadi sumber konflik ketika dijalankan tanpa transparansi dan keterlibatan komunitas terdampak. Seperti yang ditegaskan oleh Wangari Maathai, aktivis lingkungan peraih Nobel Perdamaian, “Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat adalah bentuk penjajahan baru yang menyamar dalam nama kemajuan.”
Kutipan ini memperkuat pesan fragmen bahwa pembangunan sejati harus berpijak pada keadilan ekologis, partisipasi aktif, dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.
Di titik ini, karya Risno tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga menjadi medium advokasi yang menggugah kesadaran kritis terhadap arah dan etika pembangunan di wilayah-wilayah rentan seperti Flores.
Fragmen “Tanah yang Diberkati” secara dramatis mengungkapkan pula konsekuensi ekologis dari intervensi industri yang tidak bertanggung jawab. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi lumpur beracun, sawah-sawah mengering, dan anak-anak jatuh sakit.
Tidak salah jika dikatakan bahwa lukisan fragmen ini menjadi sebuah gambaran yang mencerminkan dampak nyata dari proyek geothermal di Flores, khususnya kasus semburan lumpur di Mataloko, Ngada.
Representasi ini bukan sekadar metafora panggung, melainkan refleksi atas kerusakan lingkungan yang telah mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat.
Dalam konteks ini, fragmen tersebut berfungsi sebagai medium kritik terhadap model pembangunan yang mengabaikan prinsip kehati-hatian ekologis dan hak-hak komunitas lokal.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










