“Janji Palsu di Tanah Suci” - FloresPos Net - Page 2

“Janji Palsu di Tanah Suci”

- Jurnalis

Senin, 22 September 2025 - 11:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala desa, sebagai simbol otoritas lokal, tergoda oleh kilau instan yang ditawarkan, sementara suara peringatan dari sekretaris desa dan warga yang peduli justru terpinggirkan.

Representasi ini mencerminkan pola umum dalam proyek-proyek ekstraktif seperti geothermal di Flores, di mana pendekatan pembangunan dilakukan secara top-down, minim partisipasi, dan sering kali mengabaikan aspirasi serta hak-hak masyarakat adat.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, fragmen ini menyuarakan kritik terhadap model intervensi yang tidak demokratis dan berisiko menciptakan ketimpangan ekologis maupun sosial.

Proyek geothermal yang diklaim sebagai solusi energi bersih justru menjadi sumber konflik ketika dijalankan tanpa transparansi dan keterlibatan komunitas terdampak. Seperti yang ditegaskan oleh Wangari Maathai, aktivis lingkungan peraih Nobel Perdamaian, “Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat adalah bentuk penjajahan baru yang menyamar dalam nama kemajuan.”

Baca Juga :  Merajut Pendidikan Flores (Merayakan Dies Natalis ke-XVI Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka)

Kutipan ini memperkuat pesan fragmen bahwa pembangunan sejati harus berpijak pada keadilan ekologis, partisipasi aktif, dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

Di titik ini, karya Risno tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga menjadi medium advokasi yang menggugah kesadaran kritis terhadap arah dan etika pembangunan di wilayah-wilayah rentan seperti Flores.

Fragmen “Tanah yang Diberkati” secara dramatis mengungkapkan pula konsekuensi ekologis dari intervensi industri yang tidak bertanggung jawab. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi lumpur beracun, sawah-sawah mengering, dan anak-anak jatuh sakit.

Baca Juga :  Resistensi terhadap “Kejayaan Kebohongan” (Catatan Jelang Tahun 2026)

Tidak salah jika dikatakan bahwa lukisan fragmen ini menjadi sebuah gambaran yang mencerminkan dampak nyata dari proyek geothermal di Flores, khususnya kasus semburan lumpur di Mataloko, Ngada.

Representasi ini bukan sekadar metafora panggung, melainkan refleksi atas kerusakan lingkungan yang telah mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat.

Dalam konteks ini, fragmen tersebut berfungsi sebagai medium kritik terhadap model pembangunan yang mengabaikan prinsip kehati-hatian ekologis dan hak-hak komunitas lokal.

Berita Terkait

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Berita ini 242 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Opini

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:58 WITA