“Janji Palsu di Tanah Suci” - FloresPos Net - Page 3

“Janji Palsu di Tanah Suci”

- Jurnalis

Senin, 22 September 2025 - 11:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekhawatiran masyarakat Flores terhadap proyek geothermal bukanlah bentuk histeria, melainkan ekspresi dari kesadaran ekologis yang telah berakar dalam tradisi dan pengalaman hidup mereka.

Penolakan terhadap proyek tersebut lahir dari pemahaman bahwa alam bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan sosial. Seperti yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, “Kita tidak bisa mengabaikan jeritan bumi dan jeritan orang miskin. Keduanya saling terkait.”

Kutipan ini memperkuat pesan fragmen bahwa kerusakan lingkungan selalu berdampak langsung pada kelompok yang paling rentan. Oleh karena itu, pembangunan yang tidak berlandaskan pada keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat bukanlah kemajuan, melainkan bentuk baru dari ketimpangan dan penderitaan.

Baca Juga :  Lebih Dari Sekedar Retorika Moral

Adegan demonstrasi dalam fragmen Tanah yang Diberkati merepresentasikan keberanian kolektif masyarakat untuk menyuarakan penderitaan ekologis, bahkan ketika pengkhianatan datang dari pemimpin mereka sendiri.

Representasi ini sangat relevan dengan realitas sosial di Flores, di mana masyarakat lokal secara aktif menolak proyek geothermal melalui aksi protes, ritual adat, dan pernyataan terbuka.

Penolakan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga moral dan spiritual, sebagaimana ditunjukkan oleh sikap tegas para tokoh gereja dari enam keuskupan di Flores yang menolak pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis dan sosial.

Baca Juga :  Dinamika Politik Lokal: Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan

Fragmen ini mengangkat pentingnya partisipasi dan keberpihakan terhadap masyarakat terdampak, serta mengkritisi model pembangunan yang menempatkan keuntungan ekonomi di atas keberlanjutan hidup.

Fragmen ditutup dengan adegan pemulihan (warga menanam pohon, membersihkan sungai, dan menyemai harapan baru). Pilihan menutup dengan adegan ini merupakan sebuah ‘simbol transformatif’ yang menggugah.

Tindakan tersebut bukan sekadar gestur teatrikal, melainkan refleksi atas prinsip pemulihan ekologis berbasis kesadaran, iman, dan solidaritas.

Dalam konteks Flores, penolakan terhadap proyek geothermal tidak dapat dipahami sebagai anti-teknologi, melainkan sebagai bentuk afirmasi terhadap pembangunan yang berakar pada nilai-nilai lokal, keberlanjutan ekologis, dan martabat manusia.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 248 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:51 WITA