Kekhawatiran masyarakat Flores terhadap proyek geothermal bukanlah bentuk histeria, melainkan ekspresi dari kesadaran ekologis yang telah berakar dalam tradisi dan pengalaman hidup mereka.
Penolakan terhadap proyek tersebut lahir dari pemahaman bahwa alam bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan sosial. Seperti yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, “Kita tidak bisa mengabaikan jeritan bumi dan jeritan orang miskin. Keduanya saling terkait.”
Kutipan ini memperkuat pesan fragmen bahwa kerusakan lingkungan selalu berdampak langsung pada kelompok yang paling rentan. Oleh karena itu, pembangunan yang tidak berlandaskan pada keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat bukanlah kemajuan, melainkan bentuk baru dari ketimpangan dan penderitaan.
Adegan demonstrasi dalam fragmen Tanah yang Diberkati merepresentasikan keberanian kolektif masyarakat untuk menyuarakan penderitaan ekologis, bahkan ketika pengkhianatan datang dari pemimpin mereka sendiri.
Representasi ini sangat relevan dengan realitas sosial di Flores, di mana masyarakat lokal secara aktif menolak proyek geothermal melalui aksi protes, ritual adat, dan pernyataan terbuka.
Penolakan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga moral dan spiritual, sebagaimana ditunjukkan oleh sikap tegas para tokoh gereja dari enam keuskupan di Flores yang menolak pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis dan sosial.
Fragmen ini mengangkat pentingnya partisipasi dan keberpihakan terhadap masyarakat terdampak, serta mengkritisi model pembangunan yang menempatkan keuntungan ekonomi di atas keberlanjutan hidup.
Fragmen ditutup dengan adegan pemulihan (warga menanam pohon, membersihkan sungai, dan menyemai harapan baru). Pilihan menutup dengan adegan ini merupakan sebuah ‘simbol transformatif’ yang menggugah.
Tindakan tersebut bukan sekadar gestur teatrikal, melainkan refleksi atas prinsip pemulihan ekologis berbasis kesadaran, iman, dan solidaritas.
Dalam konteks Flores, penolakan terhadap proyek geothermal tidak dapat dipahami sebagai anti-teknologi, melainkan sebagai bentuk afirmasi terhadap pembangunan yang berakar pada nilai-nilai lokal, keberlanjutan ekologis, dan martabat manusia.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










