Fragmen ini, dengan kekuatan dramatiknya, menjelma menjadi suara nurani yang dipentaskan, sekaligus menjadi medium reflektif untuk mempertanyakan ulang arah pembangunan: apakah ia benar-benar berpihak pada kehidupan, atau justru menjadi alat penghancur yang dibungkus dalam narasi kemajuan.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










