ENDE, FLORESPOS.net-Panitia peringatan Hari Lahir (Harla) Pancasila tingkat Kabupaten Ende dan Ikatan Keluarga Besar Onekoze (Tanasare) kembali menggelar lomba tarian Naro adat Ende dan Jao.
Lomba yang digelar untuk memperebutkan piala Bupati Ende tersebut masih dalam rangkaian Harla Pancasila. Lomba Naro dilaksanakan di Kampung Onekoze, Kelurahan Onekore tepatnya di depan halaman kantor Lurah Onekore.
Lomba Naro dibuka oleh Bupati Ende, Selasa (2/6/2026) sore. Lomba ini akan berlangsung hingga 3 Juni 2026.
Hadir pada pembukaan Lomba Naro, Wakil Bupati Ende, Dr Domi Mere, Ketua dan Wakil Ketua PKK Kabupaten Ende serta beberapa pimpinan OPD.
Lomba Naro diikuti oleh delapan sanggar yaitu Sanggar Mbojo Woso Desa Tomberabu 2, Sanggar Wonga Muda Universitas Flores, Sanggar Ae Poro Desa Kedebodu, Sanggar Wozokaro Kelurahan Roworena Barat, Sanggar Tuwe Mbomba Desa Ndetundora 1, Sanggar Kapokunu Ende, Sanggar Ae Manu Ngae Kelurahan Roworena dan Sanggar Toja Pa’a Kelurahan Onekore.
Ketua panitia pelaksana, Marselinus Resi dalam laporannya menyampaikan bahwa Lomba tersebut masih dalam rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.
Tujuan Lomba yaitu memperkokoh nilai-nilai persatuan, toleransi dan semangat gotong royong ditengah keberagaman bangsa.
Mewariskan dan mempertahankan nilai sosial budaya, adat istiadat yang telah hidup dan berkembang di wilayah Nusantara tanah air Indonesia, khususnya di wilayah Suku Ende Jao Kabupaten Ende.
Marselinus juga menyampaikan harapan dari mosalaki dan masyarakat kepada bupati dan wakil bupati agar
Lomba Naro menjadi acara tetap tahunan yang tercatat dalam Kalender Event Kabupaten Ende, serta terus mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Ende dan dapat dilaksanakan setiap tahun.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda saat membuka Lomba Naro mengatakan bahwa lomba ini dengan tujuan untuk merawat kebudayaan lokal yang dimiliki.
Bupati juga mengatakan kebudayaan adalah maha karya peradaban dari semua suku di Indonesia yang dipersatukan oleh Pancasila. Pancasila adalah saripati budaya dan jiwa bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah hidup dalam budaya leluhur sebelum kemerdekaan.
“Melalui pentas budaya seperti ini kita melestarikan dan menggali kembali mutiara- mutiara budaya yang sudah lama terpendam yang menjadi kekayaan budaya kita sejak ratusan tahun yang lalu”.
Naro adalah salah satu kebudayaan lokal yang masih dilestarikan dan dipertahankan suku Ende dan Jao. Bupati mengajak peserta dan masyarakat Ende menjadikan ajang ini bukan untuk mencari juara tetapi sebagai bukti nyata untuk melestarikan budaya lokal.
“Mari kita jaga budaya kita dan amalkan nilai- nilai pancasila. Kita buktikan kepada dunia, Indonesia bahwa Ende adalah laboratorium budaya”.
Tentang Tarian Naro
Tarian Naro sesungguhnya adalah tarian adat Ende Jao yang merupakan sarana ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa terkait atas kemenangan ketika terjadi peperangan melawan musuh.
Tarian ini juga adalah ungkapan syukur karena mendapat kesembuhan dari serangan wabah penyakit, juga memperoleh hasil panen yang berlimpah terutama tanaman jagung serta hal-hal lain.
Tarian Naro perlu kita lestarikan keberadaannya untuk kita persembahkan bagi anak cucu di wilayah Ende.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










