JAKARTA, FLORESPOS.net-Masyarakat diaspora Keuskupan Larantuka di Jakarta dan sekitarnya dengan penuh sukacita menyelenggarakan Misa Syukur atas Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka yang baru.
Perayaan ini digelar di Graha Zeni AD, Matraman, Jakarta, pada Minggu, 26 Juli 2026 dan akan dihadiri oleh sekitar 1.800 umat yang datang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya.
Perayaan mengangkat tema “Dalam Satu Pengharapan, Kita Dipersatukan”, yang diambil dari moto tahbisan Bapa Uskup sendiri, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan).
Mgr. Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka, Flores Timur.
Sebelum menjadi uskup, ia merupakan dosen Kitab Suci di Institut Teknologi Kreatif (ITK) Ledalero, Maumere, Flores, dan ditunjuk oleh Paus Leo XIV pada 22 November 2025.
Uskup kelahiran 15 April 1971 ini merupakan uskup pribumi keempat Keuskupan Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung.
Para uskup yang tercatat pernah memimpin Keuskupan Larantuka sebelumnya adalah Mgr. Johannes Van Den Hurk, Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, Mgr. Gabriel Manek, Mgr.Darius Nggawa dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung.
Dihadiri Diaspora Berbagai Agama
Yang membuat perayaan ini Istimewa, Misa Syukur ini tidak hanya dihadiri oleh umat Katolik diaspora, tetapi juga oleh perantau asal Flores Timur dan Lembata dari lintas agama. Termasuk juga saudara-saudara Muslim, yang datang untuk turut bersyukur atas tahbisan putra daerah mereka.
Kehadiran lintas agama ini bukan kebetulan tetapi cerminan langsung dari budaya etnis Lamaholot, etnis mayoritas yang mendiami Flores Timur dan Lembata, yang sejak zaman leluhur menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kesetaraan.
Juga menjunjung tinggi toleransi sebagai filosofi hidup bersama (gemohing, semangat gotong royong lintas sekat) yang terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun hingga ke tanah rantau.
“Perayaan ini tidak hanya menjadi momen syukur bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang merangkul semua kalangan tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang,” ujar Yohanes Wain, Ketua Panitia Misa Syukur Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro.
Yohanes mengatakan, saudara-saudara Muslim asal Flores Timur dan Lembata turut hadir dan berbahagia bersama menjadi bukti bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi warisan hidup yang kami rawat bersama, di kampung halaman maupun di tanah Rantau.
Mempertegas Toleransi dan Persaudaraan
Tokoh masyarakat Muslim asal Flores Timur, Umar Ulin Lega mengatakan, “bagi kami, masyarakat Lamaholot, perbedaan iman tidak pernah menjadi sekat kekeluargaan.”
Dia menegaskan, “kami dibesarkan dengan semangat gotong royong yang tidak memandang agama.”
“Kehadiran kami di sini adalah wujud syukur bersama, karena kebahagiaan Bapa Uskup Hans adalah kebahagiaan kampung halaman kita semua, umat Katolik maupun Muslim,” ungkapnya.
Panitia mencatat sekitar 1.000 undangan resmi telah disebarkan, namun jumlah umat dan tamu yang hadir diperkirakan mencapai 1.800 orang.
Acara ini mendapat dukungan luas dari umat Katolik DKI Jakarta, baik kalangan awam maupun rohaniwan, serta tokoh dan pejabat lintas profesi, sipil maupun militer dan komunitas bisnis yang telah dan akan terus berkarya di wilayah Keuskupan Larantuka.
Bagi panitia penyelenggara, Misa Syukur ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar perayaan gerejawi tapi sebagai panggung untuk menegaskan kembali kepada publik.
Khususnya generasi muda diaspora, bahwa toleransi dan persaudaraan lintas agama adalah identitas asli masyarakat Lamaholot Flores Timur Lembata, yang tetap terjaga di mana pun mereka berada. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










