Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak - FloresPos Net

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Veronika Mbae

DAYA rusak bencana alam sungguh luar biasa. Dampaknya tidak hanya terlihat pada runtuhnya bangunan, hilangnya harta benda, dan kerugian material, tetapi juga pada munculnya berbagai bentuk kerentanan sosial yang memperlihatkan sisi lain dari sebuah krisis kemanusiaan.

Di balik puing-puing bangunan, ada manusia yang kehilangan rasa aman kelompok rentan yang semakin terpinggirkan, serta persoalan sosial yang sering kali tidak terlihat namun membutuhkan perhatian dan penanganan serius.

Pada hampir setiap situasi krisis kemanusiaan, perempuan dan anak-anak selalu menjadi kelompok yang menghadapi risiko lebih besar, termasuk risiko kekerasan berbasis gender.

Baca Juga :  Reklamasi Peran Guru Dalam ‘Toing, Titong, Tatong’ Bagi Generazi Z

Situasi bencana sering kali memperbesar ketimpangan yang sudah ada sebelumnya. Ketika rumah hancur, sistem kehidupan terganggu, sumber penghidupan hilang, dan masyarakat harus bergantung pada bantuan darurat, kelompok yang memiliki posisi sosial lebih lemah akan menghadapi tantangan yang lebih besar untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan.

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang pulau Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 yang berpusat di wilayah laut sekitar Nagekeo tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores, termasuk Kabupaten Sikka.

Baca Juga :  Pengaruh Media Sosial Dalam Pembentukan Jati Diri Mahasiswa

Pasca gempa, ribuan masyarakat terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di lokasi pengungsian. Dalam situasi darurat tersebut, kebutuhan masyarakat tidak hanya berhenti pada makanan, air bersih, dan tempat tinggal sementara, tetapi juga mencakup kebutuhan yang sering kali kurang terlihat yakni keamanan, perlindungan, privasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Di tengah proses pemulihan pascabencana, muncul laporan dugaan kekerasan seksual di lokasi pengungsian mandiri di Kabupaten Sikka.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Berita ini 186 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Tiga Pesan Utama Wabup Sikka Bagi 708 Wisudawan Kampus Unipa

Minggu, 11 Okt 2026 - 12:09 WITA

Nusa Bunga

Menakar Peluang dan Tantangan Kendaraan Roda Tiga di Indonesia

Sabtu, 10 Okt 2026 - 18:54 WITA