Oleh: Veronika Mbae
DAYA rusak bencana alam sungguh luar biasa. Dampaknya tidak hanya terlihat pada runtuhnya bangunan, hilangnya harta benda, dan kerugian material, tetapi juga pada munculnya berbagai bentuk kerentanan sosial yang memperlihatkan sisi lain dari sebuah krisis kemanusiaan.
Di balik puing-puing bangunan, ada manusia yang kehilangan rasa aman kelompok rentan yang semakin terpinggirkan, serta persoalan sosial yang sering kali tidak terlihat namun membutuhkan perhatian dan penanganan serius.
Pada hampir setiap situasi krisis kemanusiaan, perempuan dan anak-anak selalu menjadi kelompok yang menghadapi risiko lebih besar, termasuk risiko kekerasan berbasis gender.
Situasi bencana sering kali memperbesar ketimpangan yang sudah ada sebelumnya. Ketika rumah hancur, sistem kehidupan terganggu, sumber penghidupan hilang, dan masyarakat harus bergantung pada bantuan darurat, kelompok yang memiliki posisi sosial lebih lemah akan menghadapi tantangan yang lebih besar untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang pulau Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 yang berpusat di wilayah laut sekitar Nagekeo tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores, termasuk Kabupaten Sikka.
Pasca gempa, ribuan masyarakat terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di lokasi pengungsian. Dalam situasi darurat tersebut, kebutuhan masyarakat tidak hanya berhenti pada makanan, air bersih, dan tempat tinggal sementara, tetapi juga mencakup kebutuhan yang sering kali kurang terlihat yakni keamanan, perlindungan, privasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Di tengah proses pemulihan pascabencana, muncul laporan dugaan kekerasan seksual di lokasi pengungsian mandiri di Kabupaten Sikka.
Editor : Wall Abulat










