Oleh: Wall Abulat
PERISTIWA Sabtu Kelabu gempa tektonik berkekuatan 7,7 skala richter yang mengguncang Flores, termasuk Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai pada 15 Agustus 2026 lalu masih menggurat kesedihan di hati kita semua.
Kita bersedih karena ada di antara saudara-saudari kita yang terpaksa berpisah lebih awal dari ziarah hidup ini dan harus menghadap Sang Khalik dalam kondisi berbalut duka.
Kondisi kedukaan kita semakin terasa karena locus di mana lingkungan kita yang sebelumnya bercerita dalam balutan kasih persaudaraan dalam aneka pelayanan berubah menjadi sepi, isak tangis, ketakutan.
Arena pasar rakyat tempat yang sebelumnya menjadi ajang perjumpaan para penjual dan pembeli berubah menjadi puing-puing bangunan yang sepi dan terkesan angker.
Praktis pascagempa tektonik itu, pelaku UMKM yang sebelumnya membuka usaha jualan di kios-kios rumah mereka enggan berjualan lagi.
Demikian juga pelaku usaha yang menjual BBM eceran menggunakan botol aqua yang biasanya berjejeran berjualan di beberapa jalan utama Reo Ibu Kota Kecamatan Reok enggan melakukan usaha jualan.
Tak heran pascagempa hingga 10 hari sesudahnya, Reok Ibu Kota Kecamatan Reok ibaratnya kota mati. Sepi, hening dan yang ada getaran bangunan sisa tatkala wilayah ini terus digoyang gempa susulan yang tak kunjung henti.Kondisi seperti ini terus terjadi hingga saat ini, meski frekuensinya semakin menurun.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










