Di balik kisah duka dan kegundahan hati litani kesedihan pascagempa tektonik itu, masih ada sinar-sinar kasih terpancar di balik reruntuhan tembok.
Sinar-sinar itu dinyalakan oleh tim relawan dari pelbagai pelosok negeri yang datang berbagi kasih dan turut berbelarasa dengan penyintas.
Para relawan dan pegiat kemanusiaan mencurahkan seluruh perhatian mereka kepada para penyintas. Relawan datang tidak hanya memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi lebih dari itu mereka berbaur dan mengalami situasi penyintas dan menguatkan warga terdampak dengan satu hati yang berbagi kasih, dua tangan penuh persaudaraan, dan totalitas diri dan kehadiran yang menyapa penyintas apa pun suku, ras, agama dan golongannya.
Tak heran di posko-posko terpusat penampungan penyintas di Barang Kolong, Kelurahan Mata Air, dan Posko Golo Conggo, serta puluhan posko mandiri lainnya yang tersebar di Kecamatan Reok, warna persaudaran selalu terbangun berkat adanya penguatan dari para relawan yang tak kunjung henti menyalakan aksi kasih bagi para penyintas gempa tektonik.
Berkat pendampingan para relawan pula, maka pelaku UMKM yang sebelumnya enggan melakukan usaha jualan dalam tiga hari terakhir tepatnya sejak 1 September 2026, mulai melakukan aktivitas jualan lagi.
Pantauan penulis dalam tiga hari terakir, ada sejumlah pedagang sayur mulai menempati beberapa pasar di Reo Ibu Kota Kecamatan Reok. Para pedagang mulai menjajaki jualan sayur di Pasar TPI Reo dan Pasar Tingkat dan Pasar di Kelurahan Reo.
Sementara para nelayan yang selama dua pekan enggan melaut- sejak 1 September sudah mulai melakukan aktivitas menangkap ikan. Hasil tangkapan mereka mulai dijual di Pasar TPI Reo.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










