Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda - FloresPos Net

Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

GEMPA berkekuatan magnitudo 7,7 itu mengguncang Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. Getarannya meretakkan dinding, meruntuhkan bangunan, dan meninggalkan jejak duka yang tak terhapuskan.

Di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, seorang pemuda bernama Leonardus Noprianto Waku melompat dari lantai dua asrama. Kepanikan sesaat menghanyutkan naluri. Tubuhnya menghantam tanah. Mimpi besarnya menjadi imam Tuhan seketika tergantung di ujung harapan.

Frater Leo, demikian ia disapa, baru saja tiba di Maumere pada Jumat, 14 Agustus 2026. Sehari sebelumnya, ia masih penuh semangat meninggalkan Labuan Bajo. Ia berasal dari Paroki Santo Yusuf Pekerja, Baras, Mamuju, Sulawesi Barat. Ia alumni SMAK Seminari Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

Keuskupan Labuan Bajo menerimanya sebagai frater. Belum setahun mengenakan jubah putih. Ia akan memulai babak baru perjalanan menuju imamat setelah setahun menjalani masa Pembinaan spiritual di Ritapiret. Ia baru akan memulai kuliah filsafat di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero pada Agustus ini.

Baca Juga :  Lentera Pancasila di Ujung Timur Nusantara

Namun takdir berkata lain. Empat hari ia berjuang di RSUD TC Hillers Maumere. Luka parah akibat benturan menguji keteguhan hatinya. Dalam kondisi kritis, ia tetap bertahan. Mungkin dalam tidurnya yang gelisah, ia membayangkan wajah ibunya di Mamuju, Sulawesi Barat. Atau terbayang senyum bangga sang bapak yang kelak akan melihatnya berdiri di altar, mengenakan jubah imam.

Sayangnya, perjuangan itu harus berakhir. Selasa malam, 18 Agustus 2026, pukul 20.30 WITA, Frater Leo menghembuskan napas terakhir. Tuhan memanggilnya pulang. Cita-citanya menjadi imam projo Keuskupan Labuan Bajo pupus dalam guncangan gempa yang merobek bumi Flores.

Frater yang baru sehari tiba di Maumere itu harus pergi untuk selamanya. Para rekannya berduka. Komunitas seminari berlutut dalam doa. Seorang calon gembala umat menjadi korban yang dipanggil Tuhan di tengah bencana.

Baca Juga :  Gempa Porak Porandakan Flores, 6.961 Rumah di Manggarai Barat Alami Kerusakan

Saya membayangkan, di tanah rantau Mamuju, Sulawesi Barat, hati orang tua Frater Leo remuk. Bapak dan mamanya yang berasal dari Roe, Manggarai Barat, telah lama merantau di Baras, Mamuju.

Sang ayah terbang dari Sulawesi Barat, menembus jarak dan waktu, untuk menjenguk anak yang ia banggakan. Namun takdir kembali menunjukkan misteri-Nya. Frater Leo pergi sebelum sang bapak tiba di sisinya.

Kamis, 20 Agustus 2026, jenazah Frater Leonardus Noprianto Waku akan kembali ke tanah rantau. Ia seakan ingin berada di tengah keluarganya, di pelukan orang-orang yang mencintainya, untuk perpisahan terakhir. Perjalanan pulang ini tidak berhenti pada kisah ‘pemulangan jenazah’.

Ini adalah perjalanan seorang anak yang ‘belum jadi’ imam di dunia, namun mungkin justru dipanggil langsung oleh Bapa untuk melayani di keabadian. Ia seakan mewujudkan ‘cintanya pada panggilannya dengan mencapai tujuan dengan cara yang berbeda’.

Berita Terkait

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian
Menyalakan Harapan dari Gereja KAE
‘Berlutut’ di Antara Duka
Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo
Berita ini 258 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:57 WITA

Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA