Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian - FloresPos Net

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada pagi yang datang membawa terang, tetapi ada pagi yang justru meninggalkan luka. Ada fajar yang perlahan membuka hari dengan harapan, tetapi ada fajar yang datang bersama guncangan.

Oleh: Fr. Tevin Lory

PADA 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, fajar belum sepenuhnya datang ketika bumi Flores tiba-tiba berguncang hebat. Dalam kepanikan, suara langkah kaki para frater yang berusaha menyelamatkan diri memenuhi lorong-lorong Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret.

Dalam keadaan belum sepenuhnya sadar, Frater Leonardus Noprianto Waku melompat dari lantai tiga Unit Monika untuk menyelamatkan diri. Kakinya sempat membentur pembatas lantai sebelum kepala, leher, dan bahunya menghantam lantai dasar.

Baca Juga :  Ordo Karmel Indonesia Timur Serahkan Beras Satu Ton untuk Korban Gempa di Paroki Mbata

Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit TC Hillers Maumere dan menjalani perawatan intensif dengan bantuan berbagai perangkat medis, tanpa pernah kembali sadar. Tiga hari kemudian, pada 18 Agustus 2026, pukul 20.33 WITA, perjuangan itu berakhir.

Frater Leo berpulang. Ia merupakan calon imam Projo Keuskupan Labuan Bajo. Ia baru beberapa bulan mengenakan jubah. Ia masih Frater tingkat satu dengan begitu banyak harapan yang belum sempat diwujudkan.

Leo pergi terlalu cepat. Namun dalam singkatnya perjalanan itu, ia meninggalkan satu pertanyaan yang dalam bagi kami semua: “Apa yang terjadi pada manusia ketika rasa aman tiba-tiba runtuh dan kematian terasa begitu dekat?” Pertanyaan ini membawa kita pada refleksi tentang eksistensi, kebebasan, dan ketakutan.

Baca Juga :  Heboh BDS

Gempa dan Runtuhnya Ilusi tentang Keamanan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hidup dengan asumsi bahwa dunia relatif stabil. Kita menaiki tangga tanpa memikirkan apakah tangga itu akan runtuh.

Kita tidur tanpa berpikir bahwa tanah di bawah tempat tidur dapat berguncang. Kita masuk ke sebuah gedung dengan keyakinan bahwa bangunan itu adalah tempat berlindung.

Gempa menghancurkan asumsi tersebut. Dalam perspektif eksistensial, pengalaman semacam ini memperlihatkan keterlemparan manusia ke dalam situasi yang tidak sepenuhnya dapat ia pilih.

Berita Terkait

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Menyalakan Harapan dari Gereja KAE
‘Berlutut’ di Antara Duka
Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo
Berita ini 532 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:57 WITA

Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA