Heidegger berbicara tentang manusia sebagai Dasein, yakni manusia yang selalu sudah berada dalam suatu dunia tertentu. Kita tidak memilih untuk lahir, tidak memilih semua keadaan yang mengelilingi kita, dan tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi kepada kita (Martin Heidegger, Being and Time, 1962).
Gempa memperlihatkan kenyataan itu secara ekstrem. Dalam beberapa detik, seorang frater dapat mengalami dunia bukan lagi sebagai tempat yang aman, melainkan sebagai ruang ancaman. Lantai yang sebelumnya berarti tempat berpijak dapat dirasakan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipercaya.
Tangga yang biasanya menjadi jalan turun dapat terasa terlalu jauh. Jendela atau balkon bahkan dapat dipersepsikan sebagai jalan keluar dari ancaman, meskipun secara objektif tindakan tersebut dapat menghadirkan bahaya yang lebih besar.
Di sinilah kita menemukan paradoks manusia. Ketika merasa terancam, manusia dapat melakukan tindakan yang secara rasional justru meningkatkan bahaya karena kesadarannya sedang dikuasai oleh rasa takut.
Ketakutan dan Situasi Batas
Pengalaman Fr. Leo dalam peristiwa gempa dapat dipahami lebih jauh melalui pemikiran Karl Jaspers tentang situasi batas. Bagi Jaspers, manusia tidak selalu berada dalam situasi yang dapat dikendalikan melalui pengetahuan, perencanaan, atau pilihan rasional.
Ada pengalaman-pengalaman tertentu yang menghadapkan manusia secara langsung dengan batas eksistensinya, terutama kematian, penderitaan, perjuangan, dan berbagai kenyataan yang tidak dapat sepenuhnya dihindari atau dihapuskan dari kehidupan manusia (Karl Jaspers, Philosophy, 1970).
Gempa merupakan salah satu pengalaman yang dapat membawa manusia ke dalam situasi semacam itu. Dalam beberapa detik, dunia yang sebelumnya dianggap aman dapat berubah menjadi ruang yang tidak pasti. Manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa ia tidak memiliki kendali mutlak atas keberadaannya sendiri.
Dalam kerangka Jaspers, pengalaman seperti ini penting bukan karena situasi tersebut dapat menjelaskan secara pasti mengapa seseorang mengambil tindakan tertentu, melainkan karena situasi tersebut menyingkapkan keterbatasan manusia. Karena itu, tindakan Fr. Leo tidak dapat begitu saja dinilai dari perspektif rasionalitas yang kita gunakan setelah peristiwa berlalu.
Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi dalam kesadaran dan pengalaman batinnya ketika gempa berlangsung. Yang dapat kita katakan adalah bahwa ia berada dalam sebuah situasi ekstrem ketika rasa aman runtuh dan ancaman kematian terasa sangat dekat.
Di sinilah konsep situasi batas menjadi penting. Situasi batas bukan sekadar keadaan sulit yang dapat dengan mudah diatasi setelah seseorang menemukan solusi teknis. Ia merupakan pengalaman yang memperlihatkan bahwa manusia memiliki batas yang tidak dapat sepenuhnya ia lampaui.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










