Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian - FloresPos Net - Page 2

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Heidegger berbicara tentang manusia sebagai Dasein, yakni manusia yang selalu sudah berada dalam suatu dunia tertentu. Kita tidak memilih untuk lahir, tidak memilih semua keadaan yang mengelilingi kita, dan tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi kepada kita (Martin Heidegger, Being and Time, 1962).

Gempa memperlihatkan kenyataan itu secara ekstrem. Dalam beberapa detik, seorang frater dapat mengalami dunia bukan lagi sebagai tempat yang aman, melainkan sebagai ruang ancaman. Lantai yang sebelumnya berarti tempat berpijak dapat dirasakan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipercaya.

Tangga yang biasanya menjadi jalan turun dapat terasa terlalu jauh. Jendela atau balkon bahkan dapat dipersepsikan sebagai jalan keluar dari ancaman, meskipun secara objektif tindakan tersebut dapat menghadirkan bahaya yang lebih besar.

Di sinilah kita menemukan paradoks manusia. Ketika merasa terancam, manusia dapat melakukan tindakan yang secara rasional justru meningkatkan bahaya karena kesadarannya sedang dikuasai oleh rasa takut.

Baca Juga :  Berawal Dari Hobi Minum Boba, Nia Bikin Usaha dan Mimpi Buka Outlet Baru

Ketakutan dan Situasi Batas
Pengalaman Fr. Leo dalam peristiwa gempa dapat dipahami lebih jauh melalui pemikiran Karl Jaspers tentang situasi batas. Bagi Jaspers, manusia tidak selalu berada dalam situasi yang dapat dikendalikan melalui pengetahuan, perencanaan, atau pilihan rasional.

Ada pengalaman-pengalaman tertentu yang menghadapkan manusia secara langsung dengan batas eksistensinya, terutama kematian, penderitaan, perjuangan, dan berbagai kenyataan yang tidak dapat sepenuhnya dihindari atau dihapuskan dari kehidupan manusia (Karl Jaspers, Philosophy, 1970).

Gempa merupakan salah satu pengalaman yang dapat membawa manusia ke dalam situasi semacam itu. Dalam beberapa detik, dunia yang sebelumnya dianggap aman dapat berubah menjadi ruang yang tidak pasti. Manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa ia tidak memiliki kendali mutlak atas keberadaannya sendiri.

Baca Juga :  In Memoriam P. Klaus Naumann, SVD: Dari Pastor Bombon dan Cokelat hingga Donatur untuk Karya Kemanusiaan TRUK-F

Dalam kerangka Jaspers, pengalaman seperti ini penting bukan karena situasi tersebut dapat menjelaskan secara pasti mengapa seseorang mengambil tindakan tertentu, melainkan karena situasi tersebut menyingkapkan keterbatasan manusia. Karena itu, tindakan Fr. Leo tidak dapat begitu saja dinilai dari perspektif rasionalitas yang kita gunakan setelah peristiwa berlalu.

Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi dalam kesadaran dan pengalaman batinnya ketika gempa berlangsung. Yang dapat kita katakan adalah bahwa ia berada dalam sebuah situasi ekstrem ketika rasa aman runtuh dan ancaman kematian terasa sangat dekat.

Di sinilah konsep situasi batas menjadi penting. Situasi batas bukan sekadar keadaan sulit yang dapat dengan mudah diatasi setelah seseorang menemukan solusi teknis. Ia merupakan pengalaman yang memperlihatkan bahwa manusia memiliki batas yang tidak dapat sepenuhnya ia lampaui.

Berita Terkait

Ketika LNBM In Flores Project Perkuat Jasa Wisata Berbasis Masyarakat di TWAL 17 Pulau Riung
Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)
Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?
Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Berita ini 541 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 11:28 WITA

Ketika LNBM In Flores Project Perkuat Jasa Wisata Berbasis Masyarakat di TWAL 17 Pulau Riung

Selasa, 22 September 2026 - 08:05 WITA

Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)

Selasa, 15 September 2026 - 19:26 WITA

Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Rayakan HUT ke-25, Stipas KAK Gelar Futsal dan Bola Voly

Minggu, 4 Okt 2026 - 22:40 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 3 Okt 2026 - 09:29 WITA