Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian - FloresPos Net - Page 4

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa kehidupan manusia berada dalam tangan Allah dan bahwa manusia dipanggil untuk memandang hidup sebagai anugerah yang dipercayakan kepadanya (Katekismus Gereja Katolik, 1994, no. 2280).

Namun iman juga mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas. Dalam situasi ekstrem, tubuh dan kesadaran dapat berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.

Karena itu, kematian seseorang dalam situasi tragis tidak boleh secara tergesa-gesa diterjemahkan sebagai kegagalan iman.

Justru di sinilah iman Kristiani menghadirkan cara pandang yang berbeda terhadap kematian. Kematian bukanlah kata terakhir bagi manusia yang percaya kepada Kristus.

Baca Juga :  Babak Baru di Ujung Dermaga

Rasul Paulus menulis, “Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Rm. 6:8). Harapan Kristiani tidak menyangkal kenyataan bahwa kematian menyakitkan. Sebaliknya, iman memandang kematian dalam horizon kebangkitan Kristus.

Fr. Leo pergi ketika perjalanan panggilannya baru dimulai. Jubahnya masih relatif baru. Jalan menuju imamat yang sedang ditempuhnya masih panjang.

Banyak rencana belum menjadi kenyataan, banyak pelayanan belum sempat dilakukan, dan banyak kata mungkin belum sempat diucapkan. Namun dalam iman Kristiani, nilai kehidupan seseorang tidak semata-mata diukur dari panjangnya waktu atau banyaknya karya yang berhasil diselesaikan.

Baca Juga :  Ritus Adat Roko Molas Poco, Tandai Pembangunan Rumah Adat Gendang Wangka

Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Kata-kata ini bukan jawaban sederhana terhadap kesedihan. Ia adalah pengakuan iman bahwa di hadapan kematian pun manusia masih dapat berharap.

Selamat jalan, Fr. Leo. Semoga Tuhan menyambutmu dalam kasih dan kerahiman-Nya serta menganugerahkan kepadamu kehidupan abadi. Pergilah dengan damai. Doa dan kenangan tentangmu akan selalu tinggal di hati kami. *

Berita Terkait

Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Menyalakan Harapan dari Gereja KAE
‘Berlutut’ di Antara Duka
Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo
Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa
LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat
Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari
Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam
Berita ini 220 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:43 WITA

Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:07 WITA

Menyalakan Harapan dari Gereja KAE

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:54 WITA

‘Berlutut’ di Antara Duka

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:03 WITA

Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo

Berita Terbaru

Nusa Bunga

AWAS Buka Call Center Pengaduan Korban Gempa Flores di Sikka

Kamis, 20 Agu 2026 - 12:01 WITA

Feature

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

Kamis, 20 Agu 2026 - 10:33 WITA