Kematian, penderitaan, dan ketidakpastian memperlihatkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupannya sendiri. Dalam situasi demikian, manusia dipaksa berhadapan dengan pertanyaan paling mendasar tentang siapa dirinya, sejauh mana ia memiliki kendali atas hidupnya, dan apa arti keberadaannya ketika segala kepastian runtuh.
Ketika Tubuh Mendahului Rasionalitas
Salah satu kekuatan fenomenologi Maurice Merleau-Ponty adalah penekanannya pada tubuh sebagai pusat pengalaman manusia. Manusia bukan sekadar pikiran yang kebetulan memiliki tubuh. Manusia mengalami dunia melalui tubuhnya (Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, 2012).
Ketika gempa terjadi, tubuh bereaksi secara spontan. Jantung berdebar, napas menjadi cepat, otot menegang, perhatian menyempit, dan tubuh mencari kemungkinan untuk menjauh dari ancaman. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak selalu mempunyai kesempatan untuk melakukan kalkulasi rasional secara sempurna.
Di sinilah tindakan melompat dari lantai tiga dapat dipahami secara fenomenologis. Bagi orang yang berada di luar peristiwa, melompat dari ketinggian merupakan tindakan yang berbahaya. Namun, bagi seseorang yang sedang mengalami kepanikan, tindakan tersebut mungkin dirasakan sebagai jalan tercepat untuk keluar dari situasi yang dianggap mengancam.
Iman di Tengah Ketakutan dan Kematian
Namun, kisah Fr. Leo tidak berhenti pada pertanyaan filosofis tentang ketakutan, tubuh, dan keterbatasan manusia.
Sebagai seorang Frater yang sedang menempuh jalan menuju imamat, kepergiannya juga membawa kita pada pertanyaan iman: di mana Allah ketika manusia berada dalam ketakutan, ketika tubuh tidak lagi berdaya, dan ketika hidup berhadapan begitu dekat dengan kematian?
Iman Kristiani tidak mengajarkan bahwa orang yang percaya kepada Allah akan terbebas dari ketakutan. Yesus sendiri mengalami ketakutan dan kegelisahan ketika menghadapi penderitaan.
Di Taman Getsemani, Ia berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38). Ia bahkan berdoa agar cawan penderitaan itu dijauhkan dari-Nya, sebelum akhirnya menyerahkan diri kepada kehendak Bapa (Mat. 26:39). Karena itu, ketakutan manusia tidak dengan sendirinya menjadi tanda lemahnya iman.
Bahkan dalam diri Kristus sendiri, kita melihat bahwa pengalaman takut dapat menjadi bagian dari pengalaman manusiawi di hadapan penderitaan dan kematian (Katekismus Gereja Katolik, 1994, no. 612).
Dalam terang iman ini, ketakutan Fr. Leo tidak layak dijadikan ukuran untuk menilai kedalaman imannya. Kita tidak mengetahui apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, atau bagaimana ia memahami ancaman pada saat itu. Yang dapat kita lakukan bukanlah menghakimi, melainkan menyerahkan misteri tersebut kepada belas kasih Allah.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










