Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian - FloresPos Net - Page 3

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kematian, penderitaan, dan ketidakpastian memperlihatkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupannya sendiri. Dalam situasi demikian, manusia dipaksa berhadapan dengan pertanyaan paling mendasar tentang siapa dirinya, sejauh mana ia memiliki kendali atas hidupnya, dan apa arti keberadaannya ketika segala kepastian runtuh.

Ketika Tubuh Mendahului Rasionalitas

Salah satu kekuatan fenomenologi Maurice Merleau-Ponty adalah penekanannya pada tubuh sebagai pusat pengalaman manusia. Manusia bukan sekadar pikiran yang kebetulan memiliki tubuh. Manusia mengalami dunia melalui tubuhnya (Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, 2012).

Ketika gempa terjadi, tubuh bereaksi secara spontan. Jantung berdebar, napas menjadi cepat, otot menegang, perhatian menyempit, dan tubuh mencari kemungkinan untuk menjauh dari ancaman. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak selalu mempunyai kesempatan untuk melakukan kalkulasi rasional secara sempurna.

Di sinilah tindakan melompat dari lantai tiga dapat dipahami secara fenomenologis. Bagi orang yang berada di luar peristiwa, melompat dari ketinggian merupakan tindakan yang berbahaya. Namun, bagi seseorang yang sedang mengalami kepanikan, tindakan tersebut mungkin dirasakan sebagai jalan tercepat untuk keluar dari situasi yang dianggap mengancam.

Baca Juga :  Sambangi Posko IKAL Lemhannas RI Peduli di Ngada, Brigjen Agus Setiawan Pastikan Bantuan Tersalurkan Secara Cepat, Tepat dan Merata

Iman di Tengah Ketakutan dan Kematian

Namun, kisah Fr. Leo tidak berhenti pada pertanyaan filosofis tentang ketakutan, tubuh, dan keterbatasan manusia.

Sebagai seorang Frater yang sedang menempuh jalan menuju imamat, kepergiannya juga membawa kita pada pertanyaan iman: di mana Allah ketika manusia berada dalam ketakutan, ketika tubuh tidak lagi berdaya, dan ketika hidup berhadapan begitu dekat dengan kematian?

Iman Kristiani tidak mengajarkan bahwa orang yang percaya kepada Allah akan terbebas dari ketakutan. Yesus sendiri mengalami ketakutan dan kegelisahan ketika menghadapi penderitaan.

Baca Juga :  Gempa Flores, Warga Tiga Desa di Mapitara Masih Terisolir Akibat Longsor

Di Taman Getsemani, Ia berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38). Ia bahkan berdoa agar cawan penderitaan itu dijauhkan dari-Nya, sebelum akhirnya menyerahkan diri kepada kehendak Bapa (Mat. 26:39). Karena itu, ketakutan manusia tidak dengan sendirinya menjadi tanda lemahnya iman.

Bahkan dalam diri Kristus sendiri, kita melihat bahwa pengalaman takut dapat menjadi bagian dari pengalaman manusiawi di hadapan penderitaan dan kematian (Katekismus Gereja Katolik, 1994, no. 612).

Dalam terang iman ini, ketakutan Fr. Leo tidak layak dijadikan ukuran untuk menilai kedalaman imannya. Kita tidak mengetahui apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, atau bagaimana ia memahami ancaman pada saat itu. Yang dapat kita lakukan bukanlah menghakimi, melainkan menyerahkan misteri tersebut kepada belas kasih Allah.

Berita Terkait

Ketika LNBM In Flores Project Perkuat Jasa Wisata Berbasis Masyarakat di TWAL 17 Pulau Riung
Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)
Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?
Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Berita ini 541 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 11:28 WITA

Ketika LNBM In Flores Project Perkuat Jasa Wisata Berbasis Masyarakat di TWAL 17 Pulau Riung

Selasa, 22 September 2026 - 08:05 WITA

Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)

Selasa, 15 September 2026 - 19:26 WITA

Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Rayakan HUT ke-25, Stipas KAK Gelar Futsal dan Bola Voly

Minggu, 4 Okt 2026 - 22:40 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 3 Okt 2026 - 09:29 WITA