‘Berlutut’ di Antara Duka - FloresPos Net

‘Berlutut’ di Antara Duka

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang Gembala yang selalu ada dalam suka duka umat lintas Agama. Foto: Istimewa

Seorang Gembala yang selalu ada dalam suka duka umat lintas Agama. Foto: Istimewa

Oleh: Anselmus DW Atasoge

DI TENDA pengungsian korban gempa 15 Agustus 2026, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, memilih posisi terendah untuk menyampaikan pesan tertinggi. Kemanusiaan di atas segalanya.

Tidak ada panggung di bawah terpal oranye itu. Tidak ada protokol. Yang ada hanya tikar tipis di atas rumput kering, piring-piring makanan yang beredar dari tangan ke tangan, dan seorang berbaju putih yang berlutut di tengah lingkaran pengungsi. Ia Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende. Hari itu sang gembala tidak berdiri di depan umatnya. Ia ada bersama mereka. Berlutut di hadapan mereka.

Ia berlutut. Gestur itu sederhana, namun pesannya dalam. Berlutut adalah cara tubuh merendah, dan justru di titik itu martabat manusia ditinggikan. SANG USKUP MEMILIH ‘KETINGGIAN’ YANG SAMA DENGAN PARA PENGUNGSI. Sejajar dengan ibu-ibu berhijab yang memangku anak-anaknya, sejajar dengan lansia yang menatap kosong ke kejauhan, sejajar dengan bocah-bocah yang belum sepenuhnya paham arti bencana.

Baca Juga :  Sepenggal Cerita Warga Dusun Klotong, Air Batang Pisang untuk Masak dan Minum

Di sisi tubuhnya tergantung tas tenun bertuliskan “USKUP KAE”. Sapaan akrab itu menempatkan sang gembala sebagai kakak, sebagai keluarga. Ia datang membawa kehadiran, dan kehadiran adalah bentuk pertama dari cinta.

Lingkaran tikar itu merangkul semua. Ibu-ibu berhijab duduk berdampingan dengan warga lainnya, berbagi nasi, berbagi cerita, berbagi duka. Dalam lingkaran itu, Flores memperlihatkan wajahnya yang paling teduh. Persaudaraan yang tidak bertanya warna iman, solidaritas yang tidak menghitung perbedaan.

Asap dapur umum mengepul di kejauhan, dan terpal-terpal biru menjadi saksi bahwa hidup terus berjalan. Sang Uskup seakan memberi pesan dengan bahasa purba kepedulian: KALIAN TIDAK SENDIRIAN, PENDERITAANMU ADALAH PENDERITAANKU.

Kehadiran di pengungsian adalah cara berpikir yang menjelma tindakan. Saya menebak ‘gerak makna’-nya. Solidaritas tidak berhenti sebagai kata benda. Ia menjadi tubuh yang datang, tangan yang melayani, lutut yang menyentuh tanah kering. Dan, kepemimpinan tidak diukur dari tingginya podium, melainkan dari kesediaan hadir saat umat menderita.

Baca Juga :  Guru Desak Pemda Ende, Bayar TPG dan TKG Triwulan IV Tahun 2024

Gempa boleh mengguncang tanah Flores. Namun di tenda-tenda pengungsian, sebuah fondasi lain sedang dikuatkan. FONDASI SALING JAGA. Sang gembala yang berlutut mengajarkan bahwa KEBESARAN SEJATI TERLETAK PADA KEBERANIAN MENGECILKAN DIRI DEMI ORANG LAIN.

Derita bencana belum sepenuhnya pulih, dan jalan pemulihan masih panjang. Namun foto sang Uskup yang berlutut di antara pengungsi telah menjadi benih harapan. Ia mengingatkan semua orang bahwa mereka yang terdampak tidak pernah sendirian. Mereka dilihat, disapa, dan dipeluk.

Di bawah terpal oranye itu, di atas rumput kering itu, kemanusiaan dirayakan dalam bentuknya yang paling sederhana dan paling luhur. Piring boleh kosong, tetapi hati kenyang. Tenda boleh panas, tetapi persaudaraan hangat. Flores bangkit, satu pelukan pada satu waktu.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian
Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Menyalakan Harapan dari Gereja KAE
Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo
Berita ini 103 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:57 WITA

Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:33 WITA

Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA