Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak - FloresPos Net - Page 5

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sementara pasca gempa dan tsunami Palu 2018, perhatian publik tertuju pada meningkatnya risiko eksploitasi dan perdagangan orang terhadap kelompok rentan.

Studi tentang kekerasan seksual pada masa tanggap darurat bencana di Indonesia juga menunjukkan bahwa fase darurat merupakan periode yang membutuhkan perhatian khusus karena perubahan struktur sosial dapat meningkatkan peluang terjadinya kekerasan.

Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini memiliki pola yang berulang. Masalahnya bukan hanya keberadaan pelaku, tetapi juga bagaimana sistem pencegahan, pengawasan, dan perlindungan dibangun sebelum, selama, dan setelah bencana.

Baca Juga :  Menjadi Guru di Indonesia "Hidup Diantara Cinta dan Diskriminasi" Kebijakan Pemerintah (Sebagai Refleksi Hari Guru)

Kasus yang terjadi di Sikka menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada pemulihan fisik saja. Membangun kembali rumah yang rusak memang penting, tetapi membangun kembali rasa aman juga sama pentingnya.

Karena itu, pengelolaan pengungsian perlu memperkuat: tempat pengungsian yang aman bagi perempuan dan anak; penerangan yang memadai; fasilitas sanitasi yang aman; ruang privat untuk perempuan dan keluarga; mekanisme pengaduan yang mudah diakses; pendampingan psikologis dan hukum bagi korban; pelibatan masyarakat dalam menciptakan ruang perlindungan bersama.

Baca Juga :  P e t a n i

Bencana yang baru terjadi ini seharus menyadarkan semua pihak bahwa bencana tidak berhenti ketika tanah berhenti bergerak. Setelah ancaman alam berlalu, masih ada perjuangan panjang untuk memastikan para penyintas dapat hidup dengan aman dan bermartabat.

Perempuan dan anak-anak bukan hanya kelompok yang harus diselamatkan dari reruntuhan bangunan, tetapi juga harus dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan yang mungkin muncul dalam situasi krisis.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Berita ini 202 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Dignitas Sang Penjual Bawang

Sabtu, 24 Okt 2026 - 19:53 WITA