Oleh: Sarina Daiman
INDONESIA memiliki tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu misi utama agar tujuan ini tercapai adalah pendidikan.
Pendidikan dimaksudkan sebagai proses transformasi manusia menjadi baik dan cerdas atau dengan kata lain memanusiakan manusia. Pendidikan bukan hanya tentang administrasi tetapi solusi untuk negeri.
Potret yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa tujuan nasional dalam dunia pendidikan hanya memperhatikan kecerdasan intelektual tanpa mempertimbangkan kecerdasan kepribadian/karakter.
Seyogyanya, pendidikan mendidik dan membentuk diri siswa yang integral. Namun, persoalan ini sepenuhnya bukan kesalahan pendidik tetapi juga pada siswa. Karakter baik dalam siswa saat ini semakin terancam dan terkikis zaman.
Hal ini terbukti melalui survei karakter siswa yang dilaksanakan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2021, secara rata-rata menghasilkan angka indeks menurun dibandingkan hasil indeks tahun lalu.
Tahun 2021 indeks karakter siswa jenjang pendidikan menengah berada di angka 69,52, turun dua point dari angka indikatif tahun lalu yaitu 71,41.
Karakter anak bangsa saat ini mengalami degradasi dilihat sikap mereka yang tidak menghargai sesama, penuh kebohongan, perkelahian, tidak disiplin dan lain sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa, dunia pendidikan generasi milenial sedang dalam tantangan dan sedang tidak baik-baik saja apalagi dengan munculnya perkembangan teknologi saat ini.
Oleh karena itu, dunia pendidikan perlu membenah diri dan diberi perhatian khusus kepada pembentukan karakter. Tentu, dunia pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya lembaga formal tetapi juga informal yaitu keluarga dn masyarakat.
Hal ini dikarenakan karakter pertama-tama dibentuk dalam keluarga dan juga masyarakat tempat individu tinggal, kemudian diasah kembali dengan baik oleh lembaga formal. Namun, yang paling diberi tuntutan dalam pembentukan karakter adalah lembaga pendidikan formal.
Ada dua alasan kenapa lembaga pendidikan formal dituntut untuk menjadi salah satu wadah membentum karakter bangsa.
Pertama, berkesinambungan dalam artian proses pembentukan karakter tidak bisa instan, oleh karena itu pendidikan karakter haruslah dimulai sejak dini dan dilanjutkan serta diupayakan oleh lembaga pendidikan formal yang bersifat lebih mengikat, lebih terarah dan terukur melalui kurikulum, proses pembelajaran dan evaluasi.
Kedua, sekolah sebagai lembaga sentra pendidikan fomal dan tujuan pendidikan nasional terwujud dalam lembaga pendidikan formal yang terencana dan terstruktur, sehingga sangat penting lembaga formal mengimplementasikan pendidikan yang integral dan juga terarah pada pembentukan karakter guna mencapai tujuan pendidikan nasional.
Hemat saya, alasan ini menjadi dasar pendidikan formal dituntut untuk membentuk, mengarahkan dan memperkuat karakter yang baik bagi peserta didik.
Tentu dalam hal ini perlu membangun kerjasama yang baik antara pendidik dan peserta didik.
Dalam artian, pendidik bukan hanya memberi teori tetapi lebih kepada memberi teladan (role model) atau contoh cara hidup yang baik melalui sikap dan perkataan dalam keseharian hidup.
Di samping itu, peserta didik perlu memberi feedback berupa respon yang baik dengan memiliki kesadaran untuk berubah dari karakter yg tidak baik dan memperkuat karakter baik.
Dengan demikian saya dapat simpulkan bahwa, pendidikan bukan sekedar lembaga formal yang dianggap sebagai formalitas dengan harapan siap lulus tetapi sekolah dianggap sebagai lembaga formal yang membentuk karakter peserta didik dengan harapan siap hidup dengan baik ditengah masyarakat dan dunia.
Lembaga pendidikan formal dituntut untuk membentuk dan memperkuat karakter stakeholder pendidikan khususnya peserta didik di era kemajuan teknologi yang sangat pesat saat ini.
Hal ini bisa berjalan mulus jika ada kerjasama dan interaksi yang baik antara pendidik dan peserta didik dengan membangun kesadaran akan karakter yang baik.
Selain itu, pendidik juga perlu memahami karakteristik dari peserta didik yang pada hakikatnya dinamis.
Akhirnya, pendidikan bukan untuk lulus saja tetapi untuk sesungguhnya hidup dan berkarakter indah baik. ***
Penulis: Mahasisiwi STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT










