Siapapun Bisa Menjadi Seorang Pemimpin - FloresPos Net

Siapapun Bisa Menjadi Seorang Pemimpin

- Jurnalis

Sabtu, 23 Desember 2023 - 21:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

”Kamu harus bermimpi,  sebelum mimpimu menjadi kenyataan” Dr. A .P. J. Abdul Kalam, Presiden India ke-11 (2002–2007)

Kepemimpinan lebih banyak dilatih melalui perilaku dan tindakan, bukan dengan kata-kata.” Harold S Geneen (1910–1997), pebisnis Amerika Serikat”.

SEBENTAR lagi kita akan melaksanakan pilpres, pilgub, pilbup, pilwalkot, pilkada, pileg, juga di  tubuh kongregasi kita akan dilakukan kapitel umum untuk pemilihan pemimpin umum dan dewan umum, yang didahului dengan kapitel karya.

Judul yang saya tampilkan ini boleh diatakan sebagai MIMPI, sebab siapapun bisa menjadi pemimpin, asal memenuhi syarat, tetapi juga harus memiliki kompetensi, memiliki karakter yang baik, memiliki komitmen yang kuat untuk membawa perubahan dan memiliki compassion.

Menjadi seorang pemimpin memang gampang-gampang susah, lantaran seorang pemimpin harus bisa menterjemahkan setiap kemauan dan kebutuhan mereka yang di pimpin. Juga menjadi seorang pemimpin dituntut ”kesempurnaan” walau agak sulit untuk diraih.

Hanya satu pemimpin yang sempurna yaitu sang PEMIMPIN SEJATI Yesus Kristus. Dia adalah MODEL dan FIGUR pemimpin yang diidolakan siapa saja, masa kini dan selamanya. Tetapi baiklah kita boleh belajar dari sang PEMIMPIN sejati, tentang apa dan bagaimana DIA memimpin.

Dengan demikian, kita diperkaya secara pengetahuan, tetapi juga secra motorik dan afektif. Kita memang harus rendah HATI belajar dari para PEMIMPIN sebelumnya, baik kelebihan maupun kekurangannya.

PEMIMPIN yang hebat kecuali Yesus, berawal dari belajar ”hal yang kecil”. kita harus belajar dalam kelompok kecil, dalam level yang kecil, tanggungjawab yang kecil. Dari sini kita juga akan tumbuh dan berkembang menjadi PEMIMPIN hebat dalam proses yang alami tidak instan.

Siapapun Bisa Menjadi Pemimpin, Model dan Figur PEMIMPIN yang bagaimana?

Setiap kita adalah pemimpin, setidaknya pemimpin untuk diri kita sendiri. Dan tentu setiap kita pasti memiliki seorang PEMIMPIN yang diidolakan, dia yang kita jadikan sebagai panutan antuk ditiru, dan sebagai MODEL yang harus kita tampilkan, ketika kita jadi PEMIMPIN formal.

Saat  kita memimpin dengan memerankan seperti yang diperankanya, itulah yang dinamakan FIGUR. Dengan demikian, MODEL adalah casing, contoh, tetapi FIGUR lebih mengacu kepada bentuk/wujud, isi, penghayatan, penjiwaan, karakter.

Karakter seorang pemimpin yang baik adalah mampu memberikan contoh yang baik dan benar bagi anggota-anggotanya. Banyak orang mau memimpin orang lain, tetapi tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Hal tersebut membuktikan, bahwa pemimpin tersebut tidak mampu menjadi teladan/panutan yang baik, bagi anggotanya.

Pemimpin tersebut mau mengubah orang lain, namun ia sendiri gagal, dalam mengaplikasikan hal tersebut pada dirinya.Seorang pemimpin haruslah terlebih dahulu menata dan membenahi kekurangan yang ada pada dirinya.

Banyak pemimpin yang gagal dalam melaksanakan hal tersebut, bahkan memberikan pengaruh buruk terhadap organisasi yang ia pimpin, tetapi itu semata-mata bukan karena ketidakmampuannya dalam memimpin, dan mengatur anggotanya, namun karena mental dari pemimpinnya itu sendiri yang menjadikannya gagal.

Pemimpin sangat penting dalam suatu organisasi/lembaga, pemimpin ibarat jantung dalam suatu kehidupan. Sesuatu yang sangat penting, namun jika terjadi suatu kesalahan kecil, akan mengakibatkan sesuatu yang fatal, seperti saat pengambilan suatu keputusan.

Seorang pemimpin sewajarnya haruslah bersikap bijak dalam memimpin, agar keputusannya itu, dapat memberikan suatu hasil yang akan dituai dengan sempurna dikemudian hari.

Jika kita menjadi seorang pemimpin, kita akan melaksanakan segala peran kita, untuk memanage semua anggota dengan baik. Memanage anggota dengan baik berarti mampu mengkoordinir dan menyatukan setiap anggota, sehingga dapat bersinergi sebagai suatu team.

Salah satu kesalahan yang biasa dilakukan oleh seorang pemimpin adalah tidak mampu menyatukan setiap orang dalam organisasi/lembaga/institusinya. Oleh karena itu, jika kita menjadi PEMIMPIN, maka kita akan memberikan penilaian yang obyektif terhadap kinerja anggota serta mampu bekerja sama dengan baik kepada semua anggota.

Hitam dan Putih Seorang PEMIMPIN

Hitam dan putih seorang PEMIMPIN, mau mengajak dan menyadarkan kita akan sisi buruk dan baik seorang PEMIMPIN. Menurut hemat saya, hitam dan putih seorang PEMIMPIN tergantung dari cara pandang atau mindset kita, terhadap sang PEMIMPIN.

Jadi, penilaian kita  banyak kali sangat subyektif ketimbang obyektif. Kita lebih banyak melihat para PEMIMPIN kita, berdasarkan ukuran yang kita pakai dengan kaca mata hitam, sehingga yang kita lihat hitam semua. Hanya sedikit orang yang mampu melihat dengan kaca mata HATI atau kaca mata CINTA.

Kalau kita mengenakan kaca mata cinta yang gelap pun jadi putih, sebab cinta mengalahkan semuanya (Amor Omnia Vincet). Kata Ebieth G Ade, tengoklah ke dalam sebelum bicara atau selumbar dimata orang bisa dilihat, tetapi balok dimata sendiri tidak bisa dilihat.

Yang saya maksudkan di sini, kita harus secara obyektif dalam menilai seorang PEMIMPIN, sementara itu, seorang PEMIMPIN harus mampu mengolah/memanage dirinya terlebih dahulu, sebelum memimpin orang lain. Disisi lain, seorang PEMIMPIN diharapkan, agar antara perkataan dan perbuatan harus sinkron/sejalan, juga harus konsisten dalam bersikap.

Ingat tidak ada PEMIMPIN seumur hidup, cepat atau lambat, kita akan berganti peran, maka dari itu tanamkanlah kebaikan, maka akan menuai kebaikan dan sebaliknya. Hitam atau putih seorang PEMIMPIN tergantung cara persepsi kita terhadap sang PEMIMPIN, tetapi juga tergantung pada pilihan PEMIMPIN mau hitam atau putih atau mau keduanya, silahkan menentukan pilihan. Dua pilihan mengandung konsekuensi logis, baik atau buruk.

Tugas seorang PEMIMPIN

Apa tugas seorang PEMIMPIN? Tugas seorang PEMIMPIN adalah melayani, yang merupakan tugas yang sangat mulia, apabila bisa melakukannya. Beato paus Yohanes Paulus II, menyebut dirinya sebagai hamba dari segala hamba Tuhan (servus servorum Dei).

Tetapi sekarang ini agaknya sulit, mengingat  kecenderungan kita manusia, suka dilayani. Itulah faktanya, namun yang penting kita menyadari akan hal ini, dan mencoba untuk mengeliminirnya, sembari membuat penegasan, kapan kita dilayani, kapan kita melayani, sehingga seimbang.

Dan yang terpenting juga seorang PEMIMPIN, harus tahu diri, tahu tempat dan tahu waktu dalam bertindak dan bersikap, disaat situasi yang santai, serius, sulit, senang, susah.

Baca Juga :  Media Sosial dan Harapan Masyarakat

Oleh karena itu, dia harus SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time bound) dalam manajemen diri, sebab manajemen diri merupakan kunci dalam mengelola manajemen yang lainnya.

Empat kualitas yang diperlukan untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal.

Ada empat kualitas yang dapat membantu kita, untuk mengembangkan kepemimpinan kita :

Pertama, untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal, kita harus dengan cepat memahami kebutuhan mereka yang kita layani dan memenuhinya.

Kedua, untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal, kita harus memiliki kemampuan untuk membuat orang lain sukses. Seorang PEMIMPIN harus mampu membantu orang lain agar menjadi sukses, mula-mula harus mampu mengevaluasi orang lain, kemudian mengarahkan mereka kepada tanggung jawab nyang sesuai dengan kemampuan mereka. Dengan demikian, mereka dapat bekerja dengan senang dan mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan.

Memastikan bahwa orang yang tepat telah ditempatkan di tempat yang tepat (the right man on the right place) merupakan tanggungjawab seorang pemimpin. Untuk melakukan hal ini, seorang pemimpin harus konsen, terhadap anggota-anggotanya.

Dengan melihat talenta yang berbeda-beda di dalam diri tiap-tiap anggota/bawahan, seorang pemimpin harus mampu mendorong mereka untuk mengembangkan talentanya. Apabila sang pemimpin menemukan bahwa seseorang sedang berusaha dan sedang berjuang dengan tugas yang sebenarnya tidak cocok untuknya, maka pemimpin tersebut harus mencarikannya tugas yang baru.

Sedangkan terhadap anggota/bawahan yang kurang mempunyai kemampuan, sang pemimpin harus mendorong dan memberdayakan mereka, sehingga mereka menjadi mampu untuk melakukan tugasnya. Kita semua harus mempraktekkan kepemimpinan yang seperti ini.

Ketiga, untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal, kita harus selalu memiliki semangat untuk mempelopori dan harus selalu bergerak maju. Kebanyakan PEMIMPIN hanya diam di tempat, serta berusaha agar keadaan tetap seperti itu, lantaran lebih memilih untuk amannya saja, daripada hidup dalam ketidakpastian.

Apabila seorang PEMIMPIN, hanya mencari rasa aman saja sewaktu ia memimpin suatu kelompok, maka ia telah kehilangan tujuannya sebagai seorang PEMIMPIN.

Seorang PEMIMPIN yang handal, harus mempunyai sifat petualang dan agresif yang proaktif. Ide-ide baru harus dipikirkan dan diterapkan meskipun ide-ide tersebut mungkin mengakibatkan ketidakpastian dan membawa bahaya/resiko. Sadarilah, bahwa pertumbuhan dan perkembangan selalu diikuti oleh sejumlah bahaya/resiko, karena itu harus belajar manajemen resiko/ manajemen konflik.

Di eja lebih jauh, untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal, pikiran kita harus lebih maju daripada orang lain dan kita harus menjadi PEMIMPIN yang selalu tekun.

Oleh karena itu, kita harus memiliki goal yang jauh ke depan dan berusaha keras untuk meraihnya dengan segala usaha. Maka kita dapat menjadi seorang  PEMIMPIN yang handal.

Keempat, untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang handal, kita harus menginvestasikan semua usaha kita, untuk pengembangan diri.

Kita harus membayangkan seberapa jauh, kita telah mengembangkan dan meningkatkan diri, sembari bertanya, “apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi seorang PEMIMPIN yang lebih baik lagi? Bagaimana caranya agar saya dapat menjalankan tugas saya sebagai PEMIMPIN dengan lebih efektif?”.

Dan kita boleh belajar/berguru dari pola kepemimpinan Yesus sebagai PEMIMIPIN sejati.

Sepuluh teladan YESUS Sebagai PEMIMPIN

Mental seorang PEMIMPIN diperlukan oleh siapapun yang ingin mulai meniti tangga kesuksesan. Untuk itu orang biasanya mencari teladan atau idola yaitu para PEMIMPIN yang dapat ditiru kiat-kiatnya dan dipelajari mentalitasnya. Bagi orang Kristiani, kepemimpinan dimulai dari meneladani karakter dan mental PEMIMPIN dari tokoh terpenting dari kekristenan yaitu Yesus Kristus.

Yesus adalah seorang PEMIMPIN yang hebat, bisa juga disebut PEMIM[IN yang paling menakjubkan. Selama masa hidup-Nya di bumi, Yesus telah memulai tiga tahun pelayanan-Nya menjadi sesuatu yang saat ini, telah menjadi sebuah gerakan mendunia yang mengubah sejarah. Saat ini lebih banyak orang yang mengikuti Dia daripada pemimpin-pemimpin lainnya, yang pernah dan masih hidup di dunia ini.

Sebagai teladan, Yesus telah memberikan berbagai prinsip yang penting dalam membentuk seorang PEMIMPIN dan lewat hidup-Nya terkuaklah contoh-contoh nyata yang dapat kita tiru dan terapkan dalam hidup kita.  Apa saja yang Yesus ajarkan dan praktikkan selama hidup-Nya sebagai PEMIMPIN:

Bagi Yesus, PEMIMPIN = pelayan —diacara-Nya yang terakhir bersama para rasul yaitu perjamuan malam terakhir, Yesus membasuh kaki para rasul, termasuk Yudas yang nantinya akan berkhianat. Yesus mengetahui posisi-Nya sebagai PEMIMPIN, tetapi tidak melupakan panggilan-Nya untuk melayani. Ia patuh dan setia pada tujuan pelayanan-Nya. Ia mengetahui masa depan dan Ia bersedia menerimanya (bdk: Markus 8:35; Matius 20:25; Matius 23:11)

Tujuan-Nya harus menjadi prioritas utama hidup –dalam banyak hal, seluruh hidup dan pelayanan Yesus adalah tentang memprioritaskan hidup dan menjalani setiap prioritas itu. Ketika Ia bicara, “biarkan yang mati menguburkan yang mati,” Yesus bicara tentang perlunya berkonsentrasi pada tujuan kita yang paling penting dan tidak mengalihkan perhatian kita pada situasi darurat sekalipun (Matius 8:22). Ketika Lazarus meninggal, Yesus tetap fokus pada apa yang sedang Ia kerjakan dan tidak pergi mengunjungi Lazarus sampai dua hari kemudian. Yesus berjalan dalam misi-Nya. Ini artinya, kepemimpinan kita harus digerakkan bukan oleh keinginan orang-orang di sekitar, melainkan oleh tujuan hidup kita (bdk: Lukas 19:10; Matius 6:33)

Pimpinlah diri sendiri sebelum memimpin orang lain —ajaran Yesus adalah: jadilah dulu sesuatu sebelum melakukannya pada orang lain. Tanpa banyak bicara, Yesus menyembuhkan orang buta, orang kusta, orang pincang, orang tuli; Ia membiarkan setiap karya – Nya berbicara untuk diri-Nya. Ia tahu bahwa orang-orang akan meniru apa yang mereka telah lihat, tetapi belum tentu apa yang mereka dengar (bdk: Lukas 7:22; Yohanes 14:11)

Perubahan datang dari hubungan bukan dari posisi –Yesus mengerti benar pentingnya membangun hubungan. Ia tidak mendirikan tahta di tengah kota dan berkata, “inilah istana-Ku, inilah satu-satunya tempat di mana kalian bisa melihat Aku. ” Sebaliknya, Ia malah pergi ke pasar, ke pelabuhan/pantai, ke berbagai sinagoge dan memulai pelayanan-Nya dari sana. Ia bahkan mengunjungi rumah orang-orang biasa. Jadi, Ia pergi ke berbagai tempat dan membangun hubungan yang baik dengan setiap orang yang Ia kunjungi/jumpai, tanpa memedulikan posisinya (bdk: Yohanes 4:5-30; 8:1-11).

Baca Juga :  Menimang Kekuatan Fakta dan Tafsir dalam Menentukan Arah Kebijakan

PEMIMPIN harus mampu mengisi dirinya sendiri hidup itu keras dan berat. Semakin kita sukses dan semakin banyak orang yang kita pimpin, semakin banyak hal yang mereka inginkan dari kita. Kita harus mampu memperlengkapi diri, dengan berbagai hal yang mereka minta. Beberapa kali Yesus pergi menyendiri dan mencari tempat, untuk melakukan introspeksi dan berdiam diri. Dengan cara itu Ia berbicara dengan Bapa-Nya dan mendapatkan lagi asupan `bahan bakar` untuk memperlengkapi diri-Nya menghadapi berbagai tantangan ke depan (bdk: Markus 3:7-10; Lukas 4:42-43)

PEMIMPIN  harus membuat pengikutnya berani mengambil komitmen–Yesus memiliki proyek yang paling dahsyat yang pernah ada yaitu: KESELAMATAN. Ia menawarkan kesempatan pada manusia untuk memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Ia berbicara tentang surga dan malaikat, kegembiraan dan kedamaian dan istana yang megah. Tetapi Ia tak pernah sekalipun memberikan gambaran yang terdistorsi. Ia memberi peringatan pada pengikut-Nya bahwa nanti akan terjadi penyiksaan dan kesulitan hidup pada diri mereka. Namun Yesus tidak pernah lupa mempersiapkan para pengikut-Nya untuk saat-saat berat seperti itu (bdk: Yohanes 6:53; Matius 16:24)

PEMIMPIN rasa aman dan kekuatan saat menangani persoalan yang berat–Yesus memberikan contoh nyata pada para pengikut-Nya, bagaimana menangani persoalan-persoalan yang berat. bangun pagi-pagi sekali dan berdoa meminta petunjuk dari bapa-Nya. Ia tetap tenang dan terkendali mengalami saat-saat yang sulit. Yesus tidak mencari masalah dengan para musuh-Nya, tetapi Ia tidak pernah menunda untuk memberi teguran atas setiap kesalahan, tetapi juga memberikan contoh bagaimana seharusnya bertindak. Dan yang terpenting, Yesus berhasil dengan segala kekuatan-Nya, menyelesaikan pelayanan yang telah Ia mulai (bdk: Lukas 20:20-26; Matius 22:23-46)

PEMIMPIN yang hebat memimpin di tingkatan yang lebih tinggi –Yesus memimpin di tingkatan yang lebih tinggi daripada yang lainnya dan ia meminta para pengikut-Nya membuat komitmen yang tingkatannya juga lebih tinggi dari biasanya. Yesus telah menunjukkan pola kepemimpinan yang tidak cukup dengan segala hal yang biasa-biasa saja. PEMIMPIN tidak boleh hanya lewat begitu saja, atau mengolah apa yang sudah ada. Yesus tahu bahwa kredibilitas seorang PEMIMPIN muncul dari kemampuannya menyelesaikan masalah. Ia memimpin orang-orang menuju suatu hidup baru, yang tidak mungkin pernah dicapai lewat usaha manusia saja (bdk: Yohanes 16:33; Matius 16:24)

PEMIMPIN memilih dan mengembangkan anggota-Nya yang inti–setiap pemimpin yang efektif tahu satu hal: sukses diperoleh lewat orang-orang terdekatnya. PEMIMPIN yang efektif tidak menyerahkan masalah yang satu ini kepada keberuntungan saja.

Menjadi seorang PEMIMPIN berarti memilih siapa saja yang akan menjadi bagian dari timnya, sekaligus memberikan perhatian yang intens kepada mereka yang akan memainkan peran-peran penting dalam tim itu.

Yesus tidak pernah mengambil keputusan dengan cara voting, Ia selalu memikirkan setiap pilihan yang akan diambil-Nya dengan matang terlebih dulu. Ia bahkan berdoa sepanjang malam sebelum Ia memilih keduabelas rasul.

Secara konsisten, Yesus menantang orang-orang untuk mengambil langkah-langkah komitmen yang lebih dalam untuk memberitakan Kerajaan-Nya. Yesus memiliki prinsip dalam membentuk tim.

Prinsip ini melibatkan seleksi yang serius, komunikasi yang intens, pemberian tanggungjawab, pengawasan yang ketat, dan keteladanan yang harus ditiru dan dilaksanakan oleh setiap anggota tim-Nya (bdk: Lukas 10:1; Matius 10:1).

Tidak ada sukses jika tidak ada penerus—bahkan di masa awal pelayanan-Nya, Yesus memberitahukan para pengikut-Nya, bahwa Ia hanya akan berada bersama-sama mereka untuk waktu yang sangat singkat.

Dari waktu ke waktu mereka sering mempermasalahkan masa pelayanan-Nya, yang terbatas itu. Ia menjelaskan, namun juga tetap meyakinkan mereka bahwa kepergian-Nya nanti bukan sesuatu yang salah.

Dari sejak awal, Yesus telah mempersiapkan mereka untuk tetap hidup meskipun Ia telah pergi ke surga. Ia memberi teladan, untuk selalu mengandalkan Roh Kudus dan terus mempengaruhi sesama.

Tongkat estafet harus diteruskan ke PEMIMPIN berikutnya, bukan dibawa pulang (bdk: Matius 28:18-20; Yohanes 20:21-22).

Dari model dan figur kepemimpinan Yesus, kita dapat belajar banyak hal, namun tetaplah menjadi seorang PEMIMPIN itu gampang-gampang susah. Tetapi tidak perlu takut, yang penting ada keberanian untuk memulai.

Penutup

”Seorang pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, melewati jalan tersebut dan menunjukkan jalan itu untuk orang lain” John C Maxwell, pengusaha sekaligus pakar motivasi dari Amerika Serikat “.

”Memimpinlah dari belakang dan biarkan yang lain di depan,  ketika anda merayakan kemenangan. Saat bahaya datang berdirilah paling depan, maka orang akan menghormati anda.” Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, peraih Nobel Perdamaian 1993.”

”Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, karena itu kita bisa mendengarkan dua kali lebih banyak daripada berbicara.” Epictetus, filsuf Yunani Kuno”

Demikianlah kata-kata bijak dari para bijak, semoga dapat menginspirasi kita, jika kita menjadi PEMIMPIN. Semoga dengan tulisan yang saya sharekan ini, dapat menambah kazanah anda tentang PEMIMPIN, siapa tahu anda akan menjadi seorang PEMIMPIN kelak.

Sekurang-kurangnya menjadi PEMIMPIN bagi diri kita sendiri, menjadi PEMIMPIN di komunitas, di sekolah, di asrama, di masyarakat, di organisasi  sosial (ketua Yayasan, kepala sub perwakilan), lingkup kategorial gerejani (ketua dewan paroki, ketua lingkungan/kring/basis/ KUB) atau yang lainnya, dll.

Setiap kita memiliki peluang untuk menjadi PEMIMPIN, tinggal bagaimana kita mengembangkan kemampuan yang kita miliki menjadi sesuatu yang menghasilkan ”DASYAT”.

Banyak kali kita menolak ketika kita ditunujuk /diminta menjadi PEMIMPIN, alasannya kita tidak mampu, padahal kita memiliki kemampuan. Tetapi baiklah bila menyadari ketidakmampuan diri kita, kita diberi kesempatan untuk belajar dan belajar guna mengasah kemampuan yang ada dalam diri kita.

Teristimewa belajar bagaimana menjadi PEMIMPIN yang efektif, PEMIMPIN yang bijaksana, PEMIMPIN yang berhati bapak/ibu, PEMIMPIN yang mendengarkan, PEMIMPIN yang dapat mempengaruhi orang lain dan menginspirasi bagi orang lain, PEMIMPIN yang berempati. Selamat bermimpi semoga mimpi jadi kenyataan!. *

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 75 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Camat Bajawa Stephanus FH Dore, melakukan tendangan perdana Futsal SDK Regina Pacis Bajawa Vs SDI Waturutu, di lapangan Futsal SDI Waturutu,Selasa (28/4/2026).

Nusa Bunga

Gugus I Bajawa Gelar Porseni dan Sains

Kamis, 30 Apr 2026 - 11:30 WITA