Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian - FloresPos Net

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI TENGAH gelombang kecemasan global yang dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, seruan Paus Leo XIV untuk doa perdamaian global pada Sabtu (11/4/2026) di Basilika Santo Petrus, Vatikan, merupakan sebuah pernyataan etis-politis yang relevan secara sosiologis.

Refleksi yang diikuti umat dari berbagai penjuru dunia ini mengajak kita untuk meninjau ulang posisi spiritualitas dalam ruang publik. Proses ini tidak bermaksud sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai respons transformatif terhadap ketidakadilan struktural dan dehumanisasi akibat perang.

Dari perspektif teologis-filosofis, Paus Leo XIV menegaskan bahwa doa merupakan jembatan antara keterbatasan manusia dan kemungkinan tak terbatas dari Yang Ilahi. Pernyataan ini selaras dengan konsep ‘epistemological humility’ yang menekankan bahwa klaim ‘kebenaran absolut’, termasuk dalam wacana politik dan keamanan, sering kali mengabaikan kompleksitas realitas manusia.

Dalam konteks ini, doa hadir sebagai komunikasi publik yang mengajak masyarakat untuk merenungkan ulang ‘orientasi nilai’ yakni dari penyembahan kekuasaan dan materi menuju pelayanan terhadap kehidupan.

Seruan “cukup sudah perang” yang digaungkan Paus Leo XIV memiliki resonansi kuat dengan pesan Paus Yohanes Paulus II pada masa perang Irak 2003: “Tidak ada lagi perang.”

Baca Juga :  Dampak Abu Vulkanik, Peternak di Lereng Gunung Lewotobi Kesulitan Pakan

Kedua pernyataan ini, meski terpisah oleh waktu, membentuk kontinuitas magisterium Gereja Katolik yang konsisten menolak ‘logika kekerasan’ sebagai instrumen penyelesaian konflik.

Dari perspektif studi perdamaian (peace studies), pendekatan ini sejalan dengan konsep ‘Indigenous Peacebuilding’ yang menekankan rekonsiliasi berbasis nilai-nilai kemanusiaan universal.

Pater Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Takhta Suci asal Indonesia, memperkuat pesan ini dengan pernyataan tegas: “Perang adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama.” Pernyataan ini patut direfleksikan secara kritis dalam konteks Indonesia yang majemuk.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan tradisi kearifan lokal yang kaya, Indonesia memiliki potensi strategis untuk menjadi laboratorium dialog antaragama dan pembangunan perdamaian berbasis nilai lokal.

Prinsip-prinsip seperti Budi Dike Ninan Sare dari atau Gemohing dari masyarakat Lamaholot, misalnya, menawarkan kerangka etis yang menekankan harmoni sosial di atas ‘fragmentasi identitas’, sebuah pendekatan yang relevan untuk mengantisipasi radikalisasi dan intoleransi.

Penekanan Paus Leo XIV pada doa Rosario dan praktik spiritual klasik sebagai “ritme kehidupan” mengajarkan dimensi temporalitas dalam pembangunan perdamaian: kesabaran, ketekunan, dan kepercayaan pada proses.

Dalam dunia yang terobsesi dengan solusi instan, spiritualitas menawarkan alternatif epistemologis. Bahwasanya, transformasi sosial yang berkelanjutan memerlukan perubahan kesadaran yang mendalam!

Baca Juga :  Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan

Namun, seruan doa global ini tidak boleh berhenti pada level simbolis. Ia harus diterjemahkan menjadi aksi konkret: pendidikan agama yang dialogis, kebijakan publik yang inklusif, dan partisipasi warga dalam membangun budaya perjumpaan (culture of encounter).

Sebagaimana ditegaskan Paus Yohanes XXIII, “Tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang.” Pernyataan ini tidak merupakan sebuah keindahan retorika, melainkan kalkulasi rasional atas biaya kemanusiaan dari setiap pilihan kolektif kita.

Sejatinya, refleksi Paus Leo XIV mengajak kita untuk mempercayai bahwa cinta dan politik yang baik bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama yakni komitmen terhadap martabat manusia.

Doa, dalam pengertian ini, adalah praktik harapan yang membebaskan. Harapan yang tidak naif, tetapi berani menghadapi realitas sambil tetap membuka ruang bagi kemungkinan baru.

“Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen.” Kiranya doa penutup Paus Leo XIV ini tidak hanya bergema di Basilika Santo Petrus, tetapi juga menginspirasi aksi kolektif kita untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi, adil, dan damai. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Membangun Bisnis Ramah Keanekaragaman Hayati Berbasis Masyarakat Lokal
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:49 WITA

Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara

Sabtu, 25 Jul 2026 - 19:38 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Mewaspadai Jalan yang Berujung Air Mata

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:46 WITA