Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan - FloresPos Net

Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan

- Jurnalis

Minggu, 10 Agustus 2025 - 12:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

KERICUHAN antar kelompok pemuda yang kembali pecah di Kota Larantuka pada 9 Agustus 2025 bukan sekadar letupan emosi sesaat, melainkan cerminan dari rapuhnya struktur sosial yang seharusnya menopang ketertiban dan kohesi masyarakat.

Ketika rivalitas sepak bola, pesta minuman keras, dan dendam yang tak terselesaikan menjadi pemicu kekerasan, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa konflik sosial telah bergeser dari insiden sporadis menjadi pola yang berulang.

Dalam kerangka sosiologi agama, peristiwa ini mengindikasikan kegagalan institusi sosial termasuk lembaga-lembaga moral dan spiritual dalam membentuk mekanisme kontrol sosial yang mampu meredam potensi destruktif dalam interaksi antar warga.

Perspektif ini sengaja ditempatkan di sini sebab mereka yang bentrok itu pada hakekatnya adalah orang-orang beragama, taat beragama dan selalu mengedepankan agama sebagai bagian dari identitas dirinya.

Baca Juga :  Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan bersama tampak tak berdaya menghadapi arus loyalitas sempit dan ekspresi identitas yang bersifat kompetitif.

Ketika norma sosial tidak lagi menjadi pedoman perilaku, dan solidaritas digantikan oleh semangat kelompok yang eksklusif, maka masyarakat kehilangan daya tahan terhadap konflik.

Kita seakan diingatkan bahwa sistem nilai tidak cukup hadir dalam simbol dan ritual, tetapi harus hidup dalam praktik sosial yang membentuk karakter, membangun empati, dan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya hidup berdampingan.

Baca Juga :  Awasan Menjelang Pilkada Serentak 2024

Tanpa itu, kita hanya akan menyaksikan kekerasan sebagai siklus yang terus berulang, menggerus harapan akan masyarakat yang damai dan bermartabat.

Agama, dalam kerangka sosiologis, dipahami sebagai sistem nilai yang berfungsi menjaga keteraturan dan solidaritas dalam masyarakat. Émile Durkheim menekankan bahwa agama bukan sekadar kepercayaan pribadi, melainkan kekuatan kolektif yang mengikat individu dalam norma dan etika bersama.

Ketika konflik sosial seperti ini terus terjadi, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah sistem nilai yang seharusnya menjadi penyangga moral masyarakat telah kehilangan daya ikatnya mengingat mereka yang saban hari berbentrokan adalah pribadi-pribadi beragama bahkan yang selalu membawa label agama pada identitasnya?

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 99 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru