Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan - FloresPos Net - Page 3

Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan

- Jurnalis

Minggu, 10 Agustus 2025 - 12:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Untuk aspek deteksi dini konflik, Eko G. Samudro dari Universitas Pertahanan RI menyoroti pentingnya sistem peringatan dini berbasis pemetaan risiko dan pelatihan fasilitator lokal.

Sistem ini, seperti model CEWERS (Conflict Early Warning Early Response System), memungkinkan intervensi sebelum konflik berkembang menjadi kekerasan terbuka.

Hal ini sejalan dengan pandangan dari Info Bimtek Nasional yang menekankan bahwa deteksi dini harus melibatkan pemantauan perubahan sosial dan partisipasi aktif masyarakat dalam mengidentifikasi potensi konflik.

Baca Juga :  Peliharalah Kasih Persaudaraan, Kado Dari Mgr. Paul Budi Kleden, SVD untuk Keuskupan Agung Ende dan Dunia

Dengan menggabungkan pendekatan pendidikan karakter yang kontekstual, pembentukan forum lintas komunitas, dan sistem deteksi dini berbasis partisipatif, masyarakat dapat membangun ketahanan sosial yang lebih tangguh dan responsif terhadap potensi konflik. Pendekatan ini bukan hanya teoritis, tetapi telah terbukti efektif dalam berbagai studi dan praktik di lapangan.

Kericuhan di Larantuka bukan sekadar persoalan kriminalitas atau kenakalan remaja. Ia adalah cerminan dari kegagalan sistem sosial dalam membentuk individu yang mampu hidup berdampingan dalam perbedaan.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Komunikasi Sosial Agar Tidak Terpenjara dalam Dunianya

Sosiologi agama mengingatkan kita bahwa nilai-nilai luhur hanya akan berfungsi jika dihidupkan dalam relasi sosial yang nyata. Tanpa itu, masyarakat akan terus terjebak dalam siklus kekerasan yang menggerus harapan akan kehidupan bersama yang damai dan bermartabat.*

Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 99 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Sabtu, 19 Sep 2026 - 11:05 WITA