Bijak Bermedia Komunikasi Sosial Agar Tidak Terpenjara dalam Dunianya - FloresPos Net

Bijak Bermedia Komunikasi Sosial Agar Tidak Terpenjara dalam Dunianya

- Jurnalis

Minggu, 22 Oktober 2023 - 20:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Maria Goreti Vera Wati Anul

MANUSIA adalah mahluk istimewa ciptaan Allah yang memiliki akal budi. Dengan menggunakan akal budi yang dimilikinya manusia juga bisa menciptakan hal-hal yang baru.

Salah satu yang diciptakan manusia adalah teknologi lebih khususnya media komunikasi sosial (media sosial).

Media ini sudah berkembang sangat pesat di tengah dunia manusia baik itu di kota maupun di pedesaan.

Media ini sangat membantu kebutuhan manusia, karena dengan media ini segala pekerjaan manusia dengan mudahnya dikerjakan tanpa bertele-tele.

Namun, dibalik itu semua nyatanya media komunikasi sosial memiliki dampak yang mempengaruhi bagi para pengguna (manusia).

Manusia sudah bergantung pada media komunikasi, apa-apa langsung pada media tersebut.

Dunia dewasa saat ini sudah tidak zaman lagi yang namanya saling berkunjung satu sama lain secara virtual.

Bahkan ketika kita membutuhkan seseorang yang ada di rumah bukan lagi dipanggil secara virtual melainkan langsung pada media dengan menggunakan sepuluh jari dan panggilan itu langsung dijawab.

Dan nilai kebersamaan sudah tidak berarti lagi bagi para pengguna (manusia) media, karena masing-masing pengguna media tersebut sibuk dengan dunianya.

Para pengguna media sudah tidak peduli dengan lingkung sekitarnya, dia lebih memilih untuk hidup secara individualism dan egois.

Para pengguna (manusia) media ini tidak memimikirkan apa dampak dari keegoisannya bagi orang lain. Yang jauh akan menjadi dekat dan yang dekat akan menjadi jauh, inilah kerja teknologi yang berkembang dan yang kita lihat saat ini.

Inilah mengapa penulis mengatakan teknologi merupakan narkoba bagi manusia.

Karena seperti yang kita lihat narkoba itu sendiri dapat memberi efek pengaruh terhadap kondisi kejiwaan/psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan peri laku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Dan kerja dari narkoba itu seperti: orang yang dulunya tidak percaya diri menjadi percaya diri, orang yang biasanya tidur cepat menjadi lambat bahkan ada yang tidak tidur sampai pagi.

Baca Juga :  Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Dan pengguna narkoba ini juga tidak memandang jenis kelamin dan statusnya. Ini berarti, siapapun yang memakai atau menggunakan narkoba tersebut dengan sendirinya dia akan kebergantungan pada narkoba.

Dan mulai dari situlah hidup seseorang pengguna narkoba mulai rusak baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Pengguna narkoba mulai menghidar dari kehidupan sosial dan baginya sudah tidak berarti lagi yang namanya nilai sosial dan kebersamaan.

Begitupun yang dialami oleh manusia yang sudah kecanduan dengan teknologi. Kehidupannya sudah bergantung pada teknologi.

Lantaran bagaimana pandangan Gereja terhadap teknologi komunikasi yang sudah memberi pengaruh terhadap kehidupan manusia.

Apakah Gereja menutup mata dan tidak mau menanggapi masalah-masalah yang dialami manusia itu? Tentu Gereja tidak menutup mata dan menghidar dari persoalan yang dialami manusia itu.

Menurut kutipan ensiklik Paus Pius XII Communioet Progressio bahwa Gereja memandang media komunikasi sebagai “KaruniaTuhan” yang, sesuai dengan takdir-Nya merancang, mempersatukan manusia dalam persaudaraan dan membantu mereka bekerjasama dengan rencanaNya demi keselamatan mereka.

Dan dokumen komisi kepausan tentang etika dalam iklan juga menyatakan hal yang sama dengan ensiklik di atas. Ini berarti kehadiran media komunikasi merupakan anugerah dari Allah untuk manusia.

Bagi Gereja media komunikasi memberi dampak yang positif. Media komunikasi dapat membantu umat Allah yang mengalami krisis iman dengan cara umat Allah menyebarluaskan ajaran-ajaran agama Katolik serta perwartaan injil. Inilah salah satu kerjasama antara Allah dan umat Allah.

Tanggapan lainnya itu dari Yohanes Paulus II bahwa media komunikasi sebagai alat bantu untuk menyebarluaskan injil dan nilai-nilai keagamaan, untuk memajukan dialog, kerjasama ekumenis dan antar agama, dan juga untuk membela prinsip-prinsip kokoh yang harus ada untuk membangun suatu masyarakat yang menghargai martabat pribadi manusia dan memiliki perhatian terhadap kebaikan bersama.

Baca Juga :  Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Ini berarti media komunikasi sangat penting dalam Gereja, dengan media komunikasi hadir di tengah umat, maka dengan mudah umat Allah menyebarkan ajaran-ajaraan agama Katolik tersebut.

Teknologi komunikasi tidak semata-mata memberi dampak yang negatif bagi pengguna.

Dia juga memberi dampak yang positif bagi manusia, cuman manusia itu sendirilah yang menyalahgunakan media komunikasi tersebut.

Manusia adalah pencipta teknologi tersebut dan manusia itu tidak bekerja dengan tangannya sendiri, tetapi manusia bekerja dengan bantuan Roh Kudus dari Allah.

Tentu sebelum manusia menciptakan sebuah teknologi dia tahu bahwa kegunaan dari teknologi komunikasi itu untuk apa.

Seperti dalam pandangan Yohanes Paulus II, dia menjelaskan, media komunikasi sebagai salah satu alat untuk menyebarluaskan injil dan ajaran-ajaran agama lainnya. Inilah salah satu tujuan dari media komunikasi menurut Gereja.

Ajakan untuk kita semua jadilah manusia yang bijak, bijak dalam menggunakan teknologi, agar tidak terpenjara dalam dunianya.

Karena, jika manusia tidak bisa mengontrol teknologi tersebut maka teknologi tersebutlah yang mengontrol kehidupan manusia.

Manusia harus tahu mana yang baik dan mana yang buruk, sebab segala sesuatu yang manusia ciptakan tentu ada sisi gelap dan sisi terangnya.

Jangan hanya melihat dari sisi baiknya sebuah barang tetapi lihatlah juga sisi buruknya dan jangan hanya melihat dari luarnya barang, karena di dalam atau isinya barang itu belum tentu bagus.

Manusia berakal tidak akan kalah dengan ciptaannya, jika dia bisa berbijak dan kontrol dalam penggunaan sebuah ciptaanya itu. *

Penulis: Mahasiswi Semester VII STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Sabtu, 19 Sep 2026 - 11:05 WITA