Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola - FloresPos Net

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 09:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Marianus Viktor Ukat

KETIKA mendengar berita Flores Timur membatalkan diri untuk menjadi tuan rumah dalam event ETMC, saya sempat bergeming untuk melihat lebih dalam apa problem yang menjadi orientasi pembatalan ini.

Secara administratif, Flores Timur merupakan salah satu kabupaten di NTT yang masuk dalam kategori daerah tertinggal. Ketergantungannya pada Dana Alokasi Umum (DAU) dari pemerintahan pusat melampaui 80% total APBD-nya (Pos Kupang,16/07/2021).

Kemudian, dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pajak dan retribusi yang masih terbatas (Flores Pos,10/09/2025), sesungguhnya membuat ruang fiskal kabupaten menjadi sempit dan rentan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar pelayanan publik sekalipun.

Di tengah kondisi inilah, Flores Timur mengumumkan pembatalan diri sebagai tuan rumah yang kemudian membuat keputusan ini bagi sebagian orang tampak rasional, namun bagi banyak pihak terasa seperti tamparan keras dalam semangat kolektif masyarakatnya.

Selain itu, mundurnya Flores Timur dari tuan rumah ETMC bukan soal defisit anggaran semata, tetapi cerminan dari bagaimana kita membangun daerah. Di sisi lain, problem ini menimbulkan paradoks yang menyakitkan.

Tentang ini, paradoks yang mencolok adalah gairah para pesepak bola yang dikekang. Masyarakat Flores Timur, mulai dari pesisir Larantuka hingga pelosok Tanjang Bunga, dikenal memiliki semangat yang luar biasa terhadap sepak bola.

Setiap tahunnya selalu saja tersedia penyelenggaran turnamen yang membangkitkan daya juang sportifitas masyarakat untuk turut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Tribun-tribun berimprovisasi dari bambu penuh sesak setiap kali ada pertandingan antar kampung bahkan antar kecamatan.

Sepak bola bagi masyarakat Flores Timur bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa persatuan, identitas sosial, dan ekspresi harapan yang paling demokratis. Namun, justru yang terjadi pemerintah daerah kembali membatalkan event ini.

Baca Juga :  Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan 'Rumah Sejati' dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Pada dasarnya hal ini merupakan kegagalan struktural yang berakar dari dua hal besar, yakni lemahnya perencanaan fiskal jangka menengah dan absennya visi pembangunan olahraga sebagai investasi strategis.

Fiskal Bukan Alasan, Melainkan Diagnosis

Kita tidak bisa menutup mata pada fakta fiskal. Flores Timur memang tidak bisa berjudi dengan anggaran rakyat demi seremoni yang tidak berkelanjutan.

Dalam perspektif tata kelola keuangan daerah, pemerintah mengambil sikap tanggungjawab dalam membatalkan diri sebagai bentuk kehati-hatian. Dan itu patut diberi apresiasi.

Namun dari sinilah, muncul pertanyaan sederhana: Apakah kita mampu menjadi tuan rumah ETMC tahun ini? Namun, mengapa selama bertahun-tahun kita tidak membangun kapasitas fiskal dan infrastruktur untuk bisa menjawab “ya” pada kesempatan seperti ini?

Kondisi fiskal yang lemah adalah diagnosis, bukan alasan. Ia mencerminkan akumulasi dari pilihan-pilihan anggaran sebelumnya dengan penyataan bahwa ke mana belanja modal dialokasikan, seberapa serius investasi pada sektor pariwisata-olahraga masuk dalam dokumen RPJMD.

Lalu, apakah ada grand design pengembangan infrastruktur publik yang melampaui siklus pilkada? Kemampuan mengenal simbol sepak bola Flores Timur tumbuh liar tanpa sentuhan kebijakan. Dengan kata lain, subur di akar rumput, namun layu di hadapan panggung pemerintahan karena tak pernah dipupuk dari atas.

Ketika Cinta Rakyat Tidak Diterjemahkan Jadi Kebijakan

Kecintaan masyarakat Flores Timur pada sepak bola adalah modal sosial yang luar biasa. Dalam logika pembangunan, modal sosial semacam ini seharusnya menjadi pijakan awal kebijakan publik – bukan dekorasi retorika semata oleh pemerintah.

Namun, yang terjadi selama ini adalah disonansi. Artinya, pemerintah daerah kerap menggunakan antusiasme sepak bola masyarakat sebagai panggung legitimasi politik, sementara investasi nyata pada pembinaan, infrastruktur, dan kompetisi berjenjang nyaris tidak tersentuh secara serius lewat APBD.

Baca Juga :  Awasan Menjelang Pilkada Serentak 2024

Di sinilah, kritik progresif harus dialamatkan secara tepat. Bukan kepada rakyat yang mencintai sepak bola dengan sepenuh jiwa, tetapi kepada sistem perencanaan pembangunan yang gagal mengkonversi kecintaan itu menjadi kebijakan yang terstruktur, terfasilitasi, dan terpendanai dengan bermartabat.

Sepak bola seharusnya masuk dalam peta jalan pembangunan daerah dan bukan sekadar muncul dalam dokumen RPJMD sebagai daftar harapan tanpa target anggaran yang jelas.

Jadi, hemat saya, Flores Timur perlu membutuhkan reformasi fiskal yang serius, dalam artian bukan memangkas belanja sosial, tetapi dalam arti membangun PAD secara kreatif melalui optimalisasi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan kemitraan publik-swasta.

Event ETMC sebenarnya menjadi pintu masuk yang sangat strategis untuk menarik investasi, promosi destinasi, dan pergerakan ekonomi lokal.

Selain itu, perlu pertimbangan jauh kedepan pada kebijakan dari Askab PSSI Flores Timur yang komprehensif dan berani dengan mengambil keputusan bahwa anggaran tidak hanya untuk kejuaraan seremonial, tetapi untuk pembinaan pada ajang talent scouting.

Gairah masyarakat harus bertemu dengan sistem, bukan dibiarkan tumbuh sendirian tanpa ekosistem. Kemudian paling terakhir, pemerintah daerah harus jujur kepada publik soal kondisi fiskal dan rencana ke depan.

Secara tersirat, mundur dari ETMC tanpa narasi yang jelas hanya akan meninggalkan kekecewaan tanpa arah.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah komunikasi kebijakan transparan dengan pertanyaan: dimana kita sekarang, ke mana kita akan pergi, dan langkah konkret apa yang sedang diambil agar wajah Flores Timur suatu hari nanti bisa berdiri tegak sebagai tuan rumah, bukan hanya sebagai penonton. *

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA

Berita Terkait

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:05 WITA