‘Ordinary Magic’ di Tanah Pengungsian (Membaca Lewotobi dengan Kacamata Fromm) - FloresPos Net

‘Ordinary Magic’ di Tanah Pengungsian (Membaca Lewotobi dengan Kacamata Fromm)

- Jurnalis

Rabu, 12 November 2025 - 15:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

SETAHUN sudah erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki meninggalkan jejak. Bencana itu dimulai sejak Desember 2023. Aktivitas vulkanik meningkat tajam.

Pada 9 Januari 2024 status gunung dinaikkan menjadi Level IV Awas (BNPB, 2023). Sejak saat itu letusan terus terjadi. Material pijar, awan panas, dan hujan abu menimpa desa-desa sekitar. Ribuan penduduk harus mengungsi. Lebih dari 6.000 jiwa meninggalkan rumah mereka.

Situasi ini menimbulkan persoalan sosial. Keterasingan dan krisis identitas muncul di tengah pengungsian. Teori Erik Fromm membantu kita memahami kondisi ini.

Fromm menekankan hubungan antara individu dan masyarakat. Ia melihat keterasingan sebagai pengalaman manusia yang muncul ketika seseorang tidak lagi terhubung dengan lingkungan (The Sane Society, Fromm, 1955).

Baca Juga :  Menimbang Etika Politik Pilkades

Fromm menjelaskan bahwa masyarakat modern sering menciptakan keterasingan. Individu terpisah dari diri sendiri, pekerjaan, dan sesama. Hal ini nyata pada pengungsi Lewotobi. Mereka kehilangan rumah, komunitas, dan ruang sosial yang membentuk identitas. Akibatnya muncul rasa sepi dan terputus dari kehidupan sebelumnya.

Krisis identitas pun terjadi. Erik Erikson menyebut identitas dibangun melalui eksplorasi dan komitmen terhadap nilai sosial (Identity: Youth and Crisis, Erikson, 1968). Fromm menambahkan bahwa identitas lahir dari hubungan sosial dan budaya.

Ketika pengungsi kehilangan lingkungan sosial, mereka kehilangan bagian penting dari jati diri. Banyak yang bertanya siapa mereka di luar konteks lama. Mereka terjebak antara kenangan masa lalu dan lingkungan baru yang asing.

Baca Juga :  Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya?

Fromm juga menekankan pentingnya cinta dan keterhubungan sosial. Dalam The Art of Loving (Fromm, 1956), ia menyebut cinta sebagai tindakan. Cinta berarti perhatian, tanggung jawab, hormat, dan pengetahuan.

Bagi pengungsi, keterhubungan menjadi jalan keluar dari kesepian. Dukungan keluarga dan komunitas membantu mereka membangun kembali identitas.

Resiliensi para pengungsi Lewotobi menunjukkan bahwa manusia memiliki daya hidup yang luar biasa. Masten (2001) menyebutnya sebagai ordinary magic, sebuah kekuatan psikologis yang sering tersembunyi namun muncul ketika krisis melanda. Dalam keterbatasan, mereka menemukan cara untuk bertahan.

Berita Terkait

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Berita ini 160 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Berita Terbaru